Respon : Pengertian, Bentuk, Dan Penilaian Respon, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Respon

Pengertian Respon. Secara umum, respon dapat diartikan sebagai perilaku atau sikap yang muncul setelah adanya stimulus berupa penerimaan melalui panca indera yang nantinya akan membentuk tingkah laku baru berupa persetujuan atau penolakan, penilaian, suka atau tidak suka, serta kepositifan atau kenegatifan suatu obyek psikologis. Respon dapat juga berarti kecenderungan seseorang untuk memberikan pemusatan perhatian pada sesuatu di luar dirinya karena adanya stimuli yang mendorong. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana, respon merupakan tanggapan, reaksi, atau jawaban.

J. P. Chaplin
, dalam “Kamus Lengkap Psikologi”, mengartikan respon dengan :
  1. sebarang proses otot atau kelenjar yang dimunculkan oleh suatu stimulan.
  2. satu jawaban, khususnya jawaban dari pertanyaan tes atau kuesioner.
  3. sebarang tingkah laku, baik yang jelas kelihatan atau yang lahiriah maupun yang tersembunyi atau yang samar.

Sedangkan Save D. Dagun, dalam “Kamus Besar Ilmu Pengetahuan”, mengartikan respon sebagai reaksi psikologis-metabolik terhadap tibanya suatu stimulus, ada yang bersifat otomatis seperti refleksi dan reaksi emosional langsung, adapula yang bersifat terkendali.

Selain itu, pengertian respon juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Jalaludin Rahmat, dalam “Psikologi Komunikasi”, menyebutkan bahwa respon adalah hasil atau kesan yang didapat (ditinggal) dari pengamatan tentang subyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan-pesan. r.
  • Soejono Soekanto, dalam “Sosiologi Suatu Pengantar”, menyebutkan bahwa respon adalah perilaku yang merupakan konsekuensi dari perilaku sebelumnya.
  • Ahmad Subandi, dalam “Psikologi Sosial”, menyebutkan bahwa respon adalah umpan balik yang memiliki peran atau pengaruh yang besar dalam menentukan baik atau tidaknya suatu komunikasi. Dengan adanya respon yang disampaikan dari komunikan kepada komunikator, maka akan menetralisir kesalahan penafsiran dalam sebuah proses komunikasi.

Kepemimpinan Spiritual (Spiritual Leadership) : Pengertian, Aspek, Indikator, Model, Dampak, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan Spiritual

Pengertian Kepemimpinan Spritual. Kepemimpinan spiritual atau “spiritual leadership” merupakan karakter seorang pemimpin yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual. Hal tersebut ditandai dengan kemampuan untuk mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi, dan menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan, kasih sayang, serta implementasi nilai dan sifat-sifat ketuhanan lainnya, sehingga memunculkan sikap saling menghargai, saling menghormati, kejujuran, serta sikap saling membantu satu sama lain.

Dalam kepemimpinan spiritual diperlukan beberapa hal sebagai berikut :
  • penciptaan suatu visi di mana para anggota organisasi mengalami suatu perasaan panggilan hidup yaitu kehidupan mereka mempunnyai makna dan mampu membuat perubahan kepada orang lain.
  • mewujudkan suatu budaya sosial atau organisasi berdasarkan pada cinta altruistis di mana para pemimpin dan pengikut mempunyai perhatian dan keprihatinan genuin untuk diri sendiri dan orang lain, sehingga melahirkan perasaan keanggotaan dan merasa dipahami serta dihargai.

Pengertian kepemimpinan spiritual atau “spiritual leadership” dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

1. Tobroni
Tobroni, dalam The Spiritual Leadership”, menyebutkan bahwa kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual (keilahian). Maksudnya adalah seorang pemimpin selain harus kompeten, juga harus memiliki sifat-sifat terpuji, seperti : jujur, disiplin, amanah, bijaksana, aspiratif dan utamanya mampu memberikan teladan kepada setiap anak buahnya. Seorang dengan spiritual leadership akan menjadi sosok pemimpin yang kredibel, dihormati, dan berwibawa.

Dinamika : Pengertian Dan Jenis Dinamika

Pengertian Dinamika. Istilah “dinamika” berasal dari kata “dinamis”, yaitu istilah umum yang merujuk kepada segala sesuatu atau kondisi yang terus-menerus berubah, bergerak secara aktif dan mengalami perkembangan berarti. Beragamnya kondisi yang terjadi pada sesuatu atau sesorang disebut dinamika. Secara etimologi, istilah “dinamika” merupakan kata serapan dari bahasa Perancis, yaitu “dynamque” yang berasal dari bahasa Yunani, “dynamics” yang berarti kekuatan atau tenaga.

Secara terminologis, dinamika dapat diartikan sebagai suatu pola atau proses pertumbuhan, perubahan atau perkembangan dari suatu bidang tertentu, atau suatu sistem ikatan yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi antara unsur yang satu dengan yang lainnya, karena adanya pertalian yang langsung di antara unsur-unsur tersebut. Istilah dinamika, juga dapat diartikan dalam berbagai pengertian yang ditinjau dari berbagai hal atau bidang, seperti :
  • dalam ilmu fisika, dinamika merupakan cabang dari mekanika klasik yang sama-sama berhubungan dengan gerak namun mempelajari gaya serta torsi dalam pengaruhnya pada gerak. Oleh karena itu, istilah dinamika dapat berarti perubahan.
  • dalam perpolitikan, istilah dinamika dipakai untuk menggambarkan perubahan konstelasi internal partai maupun antarpartai, baik terhadap lawan politik maupun dengan koalisi.
  • dalam dunia musik, dinamika merupakan tanda dalam partitur yang digunakan sebagai panduan bagi pemain musik maupun vokalis untuk mengeraskan atau melirihkan suara.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dinamika diartikan dengan :
  1. Fis bagian ilmu fisika yang berhubungan dengan benda yang bergerak dan tenaga yang menggerakkan.
  2. gerak (dari dalam); tenaga yang menggerakkan; semangat.


Selain itu, pengertian dinamika dapat juga dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

Surat : Pengertian, Unsur, Jenis, Dan Fungsi Surat

Pengertian Surat. Secara umum, surat dapat diartikan sebagai suatu alat komunikasi antara dua pihak (perorangan maupun organisasi) yang berupa tulisan dalam kertas atau lainnya. Surat juga berarti suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi secara tertulis yang dilakukan oleh satu pihak ke pihak lain untuk menginformasikan suatu hal yang bersifat resmi maupun tidak resmi agar tersampaikan tanpa harus berhadapan secara langsung.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), surat diartikan dalam :
  1. n kertas dan sebagainya yang bertulis (berbagai-bagai isi, maksudnya).
  2. secarik kertas dan sebagainya sebagai tanda atau keterangan; kartu.
  3. sesuatu yang ditulis, yang tertulis, tulisan.

Selain itu, pengertian surat juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Prajudi Atmosudirdjo, dalam “Administrasi dan Manajemen Umum”, menyebutkan bahwa surat adalah helai kertas yang ditulis atas nama pribadi penulis atau atas nama kedudukannya dalam organsasi yang ditujukan pada alamat tertentu dan memuat bahan komunikasi.
  • Iis Sopyan, dalam “Korespondensi Saintifik dalam Bahasa Inggris”, menyebutkan bahwa surat adalah suatu model komunikasi tertulis yang memungkinkan seseorang saling memberikan informasi atau mempertukarkan ide.
  • Djoko Purwanto, dalam “Komunikasi Bisnis”, menyebutkan bahwa surat adalah sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi tertulis oleh suatu pihak kepada pihak lain baik yang berkaitan dengan kegiatan bisnis maupun non bisnis.


Unsur Surat. Dalam suatu surat terdapat beberapa unsur sebagai berikut :
  • pengirim surat, yaitu pihak yang menyampaikan pesan.
  • pesan surat, yaitu isi dari surat yang disampaikan, baik pemberitahuan, permohonan atau permintaan, pernyataan, perintah, laporan, dan lain sebagainya.

Majalah : Pengertian, Karakteristik, Jenis, Fungsi, Dan Manfaat Majalah, Serta Kelebihan Dan Kekurangan Majalah

Pengertian Majalah. Secara etimologi, majalah yang dalam bahasa Inggris disebut “magazine” berasal dari bahasa Arab, yaitu “makhazi” yang berarti gudang penyimpanan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), majalah diartikan dengan terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui pembaca, dan menurut waktu penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan, tengah bulanan, mingguan, dan sebagainya dan menurut pengkhususan isinya dibedakan atas majalah berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu, dan lain sebagainya.

Sedangkan secara terminologi, majalah dapat diartikan sebagai kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan lain sebagainya, yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku, serta diterbitkan secara berkala, seperti seminggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali. Majalah juga berarti penerbitan yang dicetak dengan menggunakan tinta pada kertas, yang diterbitkan secara berkala, misalnya mingguan, dwimingguan, atau bulanan. Majalah pertama terbit di Perancis, yaitu majalah Journal des Scavans. Majalah tersebut berisi intisari buku-buku Eropa, daftar bacaan dan penulisnya, artikel-artikel pengembangan seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan.

Selain itu, pengertian majalah juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Djafar H. Assegaff dalam “Jurnalistik Masa Kini”, menyebutkan bahwa majalah adalah publikasi atau terbitan secara berkala yang memuat artikel-artikel dari berbagai penulis. Selain memuat artikel, majalah juga merupakan publikasi yang berisi cerita pendek, gambar, review, ilustrasi atau fitur lainnya. yang mewarnai isi dari majalah.
  • Marcel Danesi, dalam “Pengantar Memahami Semiotika Media”, menyebutkan bahwa majalah adalah sekumpulan artikel atau kisah yang diterbitkan teratur secara berkala menampilkan beragam informasi, opini, dan hiburan konsumsi massa dengan berbagai ilustrasi pendukung.

Layout (Tata Letak) : Pengertian, Elemen, Jenis, Tujuan, Dan Prinsip Pembuatan Layout, Serta Tahapan Cara Membuat Layout

Pengertian Layout. Layout atau tata letak merupakan istilah umum yang sering kita dengar pada saat kita melihat atau membaca surat kabar atau majalah, membuat desain suatu event, merancang bangunan rumah, membuat desain website, dan kegiatan lain yang berkaitan dengan desain.

Secara umum, layout dapat diartikan sebagai suatu penentuan tata letak desain pada elemen tertentu sehingga menghasilkan visual yang menarik. Sebuah layout dibuat oleh para desainer visual atau para developer. Sedangkan secara khusus, layout memiliki pengertian yang berbeda sesuai dengan bidang yang kegiatannya, seperti :
  • dalam desain grafis, layout dapat diartikan sebagai pengaturan tulisan-tulisan dan gambar-gambar untuk menyampaikan pesan tertentu. Surianto Rustan, dalam “Layout, Dasar, dan Penerapannya”, menyebutkan bahwa layout adalah tata letak dari elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep atau pesan yang dibuat.
  • dalam perusahaan manufaktur, layout dapat diartikan sebagai suatu susunan, rancangan, atau tata letak ruang dari sebuah elemen yang sengaja didesain untuk bisa ditempatkan dalam suatu bidang yang sebelumnya telah direncanakan sistemnya terlebih dahulu. Harsono, dalam “Manajemen Pabrik”, menyebutkan bahwa layout adalah cara menyusun mesin-mesin beserta alat perlengkapannya yang diperlukan untuk memproduksi suatu barang.


Elemen Layout. Dalam membuat atau menentukan layout terdapat beberapa elemen yang dapat diimplementasikan. Dalam bidang desain grafis, elemen dari layout adalah :
  • teks atau “text”, meliputi : judul, heading, dan paragraf. Dalam desain text-heavy, elemen-elemen ini harus ditata dengan cara intuitif yang mudah dibaca.

Nilai : Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Fungsi, Dan Sumber Nilai

Pengertian Nilai. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan ideal. Nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, serta tidak hanya persoalan tentang benar atau salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan sosial penghayatan yang dikehendaki, disenangi, dan tidak disenangi.

Secara umum, nilai dapat diartikan sebagai standar atau ukuran (norma) yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu. Nilai juga berarti suatu konsep umum atau gagasan yang merujuk pada hal-hal yang dianggap benar, baik, berharga, penting, indah, pantas, dan dikehendaki oleh masyarakat secara umum di dalam kehidupannya. Nilai merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia, khususnya mengenai kebaikan dan tindak kebaikan suatu hal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai diartikan dengan beberapa pengertian, sebagai berikut :
  1. n harga (dalam arti taksiran harga).
  2. harga uang (dibandingkan dengan harga uang yang lain).
  3. angka kepandaian, biji, ponten.
  4. banyak sedikitnya isi, kadar, mutu.
  5. sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.
  6. sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.

Hugh Lacey, dalam “Is Science Value Free? Values and Scientific Understanding”, menyebutkan bahwa nilai dapat diartikan dalam enam pengertian sebagai berikut :
  • sesuatu yang fundamental yang dicari orang sepanjang hidupnya.
  • suatu kualitas atau tindakan yang berharga, kebaikan, makna atau pemenuhan karakter untuk kehidupan seseorang.
  • suatu kualitas atau tindakan yang membentuk identitas seseorang sebagai pengevaluasian diri, penginterpretasian diri, dan pembentukan diri.
  • suatu kriteria fundamental bagi seseorang untuk memilih sesuatu yang baik diantara berbagai kemungkinan tindakan.

Tahapan Pembentukan Perilaku Serta Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Perilaku merupakan seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku diartikan dengan tanggapan atau reaksi individu terhadap stimulus atau lingkungan.

Soekidjo Notoatmodjo
, dalam “Promosi Kesehatan Teori dan Perilaku”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Lebih lanjut, Soekidjo Notoatmodjo menyebutkan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas dari mahluk hidup yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, diantaranya : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, mengkonsumsi, membaca, menulis dan lain sebagainya.

Respon dari perilaku dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu :
  • bentuk pasif, merupakan respon internal yang terjadi dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat dari orang lain.
  • bentuk aktif, merupakan bentuk perilaku yang dapat diobservasi secara langsung


Tahapan Pembentukan Perilaku. Perilaku terbentuk dengan melalui beberapa tahapan. Burrhus Frederic Skinner menjelaskan bahwa untuk membentuk jenis respon atau perilaku diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut “operant conditioning” yang terjadi melalui tahapan sebagai berikut :
  • melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer berupa hadiah-hadiah atau reward bagi perilaku yang akan dibentuk.
  • melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk perilaku yang dikehendaki, kemudian komponen-komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
  • menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut.

Perilaku : Pengertian, Ruang Lingkup, Dan Bentuk Perilaku

Pengertian Perilaku. Secara umum, “perilaku” dapat diartikan sebagai seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku juga berarti hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkunganya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan.

Pengertian perilaku
juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

1. Soekidjo Notoatmodjo.
Soekidjo Notoatmodjo, dalam “Promosi Kesehatan Teori dan Perilaku”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Lebih lanjut, Soekidjo Notoatmodjo menyebutkan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas dari mahluk hidup yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, diantaranya : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, mengkonsumsi, membaca, menulis dan sebagainya.

2. Burrhus Frederic Skinner.
Burrhus Frederic Skinner, dalam “The Behavior of Organisms an Experimental Analysis”, menjelaskan bahwa perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus. Pengertian ini dikenal dengan Teori S-O-R” atau “Stimulus-Organisme-Respon”. Respon dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
respondent respons atau refleksif adalah respon yang ditimbulkan oleh stimulus-stimulus tertentu yang disebut “electing stimuli”, karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap.
operant respons atau instrumental respons adalah respon yang timbul dan berkembangnya kemudian diikuti oleh stimulus yang lain yang disebut “reinforcing stimuli” atau “reinforce”, karena berfungsi untuk memperkuat respons.

Kelompok : Pengertian, Karakteristik, Jenis, Dan Fungsi Kelompok

Pengertian Kelompok. Secara umum, “kelompok” dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang mempunyai norma, nilai, dan tujuan yang sama, yang dengan secara sengaja dan juga teratur saling berinteraksi. Kelompok juga dapat berarti suatu kumpulan manusia yang terdiri dari dua orang atau lebih dengan pola interaksi yang nyata dan dapat membentuk satu kesatuan.

Pada dasarnya, kelompok merupakan sekumpulan orang yang mempunyai kepentingan dan beberapa landasan interaksi yang sama. Mereka saling terikat bersamaan dengan serangkaian hubungan sosial yang khas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kelompok diartikan dalam beberapa pengertian yaitu :
  1. n kumpulan (tentang orang, binatang, dan sebagainya).
  2. golongan (tentang profesi, aliran, lapisan masyarakat, dan sebagainya).
  3. gugusan (tentang bintang, pulau, dan sebagainya).
  4. Antr kumpulan manusia yang merupakan kesatuan beridentitas dengan adat-istiadat dan sistem norma yang mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu.
  5. Pol kumpulan orang yang memiliki beberapa atribut sama atau hubungan dengan pihak yang sama.
  6. Kim kuantitas zat yang akan dimasak atau diolah dalam satu waktu.

Biasanya beberapa orang berkelompok dikarenakan beberapa alasan, diantaranya adalah :
  • keamanan. Seseorang yang bergabung ke dalam kelompok merasa lebih aman sebab tidak sendirian dalam menghadapi masalah ataupun ancaman.
  • status. Adanya anggapan dalam masyarakat bahwa jika bergabung dengan kelompok yang memiliki reputasi baik, maka status mereka akan meningkat di masyarakat.
  • harga diri. Merasa dihargai andai diterima sebagai anggota kelompok terutama pada kelompok-kelompok yang bergengsi tinggi.
  • afiliasi. Berafiliasi dengan kelompok bisa memenuhi keperluan seseorang bakal persahabatan dan hubungan sosial.
  • kekuatan. Sesuatu yang tidak dapat dijangkau sendiri, dapat dengan mudah dijangkau berkat kekuatan kelompok.

Puskesmas : Pengertian, Visi Dan Misi, Kegiatan Pokok, Fungsi, Dan Tujuan Puskesmas, Serta Prinsip Penyelenggaraan Puskesmas

Pengertian Puskesmas. “Puskesmas” atau “Pusat Kesehatan Masyarakat” merupakan ujung tombak sistim pelayanan kesehatan di Indonesia. Sebagai sarana pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia, puskesmas bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat, juga bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran.

Secara umum, puskesmas dapat diartikan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitik-beratkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Azrul Azwar, dalam “Pengantar Administrasi Kesehatan”, menyebutkan bahwa puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu yang berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalarn suatu wilayah tertentu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam “Profil Kesehatan Indonesia”, Tahun 2014, menyebutkan bahwa puskesmas merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain itu, puskesmas adalah salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tolak ukur dari pembangunan kesehatan. Puskesmas memiliki tugas untuk melaksanakan kebijakan kesehatan untuk dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas untuk mewujudkan kecamatan sehat, puskesmas menyelenggarakan fungsi penyelenggaraan Upaya kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama, dan penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingkat pertama di wilayah kerjanya.

Co-working Space (Tempat Kerja Bersama) : Pengertian, Nilai, Jenis, Dan Tujuan Co-working Space, Serta Kelebihan Dan Kekurangan Co-working Space

Pengertian Co-working Space. Istilah “co-working space” atau “ruang kerja bersama” merupakan konsep baru yang marak ditawarkan dalam beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan bermunculannya perusahaan star-up. Perusahaan co-working menyediakan gedung di area-area strategis yang ramai dengan aktivitas bisnis untuk disewakan kepada perusahaan, individu atau freelancer, dan lain sebagainya.

Secara umum, istilah “co-working space” dapat diartikan sebagai lingkungan kerja atau kantor yang digunakan oleh orang-orang yang bekerja sendiri atau bekerja untuk perusahaan yang berbeda-beda. Co-working space menawarkan lingkungan kerja dengan saling berbagi peralatan, ide, dan pengetahuan, yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang yang berbeda-beda seperti : enterpreneur, freelancer, startup, asosiasi, konsultan, investor, artis, peneliti, pelajar, dan lain sebagainya.

Beberapa kegiatan yang ada dalam co-working space atau ruang kerja bersama, diantaranya adalah :
  • bekerja dan belajar.
  • bertemu dengan klien.
  • seminar, diskusi, sharing, dan lain sebagainya.
  • pelatihan.


Nilai dalam Co-working Space. Terdapat beberapa nilai yang ada dalam co-working space. C. Stumpf, dalam “Creativity and Space: The Power of Ba in Co-working Spaces”, menjelaskan bahwa terdapat beberapa nilai yang ada dalam co-working space, yaitu :

1. Komunitas.
Co-working space bukanlah sebagai layanan satu arah melainkan hubungan dua arah. Orang yang memanfaatkannya juga memberi kontribusi kepada yang lainnya. Orang yang bekerja dalam co-working space disebut sebagai “community manager” yang memiliki peran mendorong dan mendukung komunitas. Komunitas yang kuat dan memberi rasa memiliki merupakan nilai yang paling penting dalam co-working space.

Identifikasi : Pengertian, Bentuk, Dan Proses Identifikasi

Pengertian Identifikasi. Secara etimologi, istilah “identifikasi” berasal dari bahasa Inggris, yaitu “identify” yang berarti meneliti atau menelaah. Berdasarkan arti kata tersebut, identifikasi bermakna suatu kegiatan mencari, menemukan, mengumpulkan, meneliti, mendaftarkan, mencatat data dan informasi dari “kebutuhan” lapangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), identifikasi diartikan dengan :
  1. n tanda kenal diri; bukti diri.
  2. penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dan sebagainya.
  3. Psi proses psikologi yang terjadi pada diri seseorang karena secara tidak sadar dia membayangkan dirinya seperti orang lain yang dikaguminya, lalu dia meniru tingkah laku orang yang dikaguminya itu.

Secara terminologi, istilah “identifikasi” dapat diartikan sebagai penentu atau penetapan identitas orang, benda, dan lain sebagainya. Identifikasi juga berarti pemberian tanda-tanda pada golongan barang-barang atau sesuatu, dengan tujuan membedakan komponen yang satu dengan yang lainnya, sehingga suatu komponen itu dikenal dan diketahui masuk dalam golongan mana. Dalam ilmu sosial, identifikasi dapat diartikan dengan suatu bentuk interaksi sosial di dalam masyarakat di mana seseorang memiliki kecenderungan atau keinginan untuk menjadi seperti orang lain yang dikagumi atau idola. Identifikasi merupakan suatu proses dalam diri seseorang dengan meniru perilaku orang lain yang dikagumi sehingga orang tersebut menjiwai, serta memiliki kepribadian dan karakter yang mirip dengan orang yang dikagumi.


Bentuk Identifikasi. Identifikasi dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu :

1. Identifikasi Kelas.
Identifikasi kelas atau “class identification” merupakan bentuk identifikasi yang terjadi pada kelas sosial tertentu. Contoh : seorang seseorang meniru orang atau tokoh (artis) yang dikaguminya.

Kearsipan : Pengertian, Ruang Lingkup, Fungsi, Dan Tujuan Kearsipan, Serta Asas Penyelenggaraan Kearsipan

Pengertian Kearsipan. Kata “kearsipan” dibentuk dari kata dasar “arsip” yang secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “archium” yang berarti “peti untuk menyimpan sesuatu”. Sedangkan secara terminologi, kata “arsip” berarti catatan, rekaman, atau sumber informasi dengan berbagai macam bentuk yang dibuat oleh lembaga, baik pemerintah maupun swasta, atau perseorangan dalam rangka pelaksanaan suatu kegiatan.

Berdasarkan hal tersebut, “kearsipandapat diartikan sebagai suatu sistem yang dikembangkan untuk mengatasi permasalahan dokumentasi informasi. Kearsipan juga berarti tata cara pengurusan penyimpanan warkat, menurut aturan dan prosedur yang berlaku dengan mengingat tiga unsur pokok yang meliputi penyimpanan, penempatan, dan penemuan kembali. Kearsipan merupakan proses pengaturan dan penyimpanan bahan-bahan atau warkat secara sistematis , sehingga bahan-bahan tersebut dapat dicari dengan cepat atau diketahui tempatnya setiap diperlukan.

Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor : 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kearsipan adalah hal-hal yang berkenaan dengan arsip. Arsip dalam Undang-Undang Nomor : 43 Tahun 2009 tersebut diartikan dengan  rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Selain itu, pengertian kearsipan juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

1. The Liang Gie.
The Liang Gie, dalam “Administrasi Perkantoran Modern”, menjelaskan bahwa kearsipan dapat diartikan dalam dua pengertian, yaitu :

Stereotip (Stereotype) : Pengertian, Ciri-Ciri, Dimensi, Bentuk, Fungsi, Prinsip, Tingkatan, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Stereotip, Serta Perbedaan Antara Stereotip, Prasangka, Dan Diskriminasi

Pengertian Stereotip. Istilah stereotip sudah digunakan sejak lama, tepatnya sekitar tahun 1824, yaitu untuk menunjukkan pada perilaku yang terbentuk. Namun demikian, baru pada awal abad ke 20-an, stereotipe mulai dirumuskan secara ilmiah. Adalah Walter Lippman yang dianggap sebagai orang pertama yang merumuskan istilah stereotip tersebut pada tahun 1922. Oleh Walter Lippman, stereotip digunakan untuk menunjukkan pola perilaku yang kaku, berulang-ulang, dan sering mengalami irama, serta digunakan untuk menunjukkan karakteristik yang seseorang aplikasikan pada orang lain atas dasar nasionalisme, etnik, atau kelompok gender mereka.

Secara etimologi, istilah “stereotip” merupakan adaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris “stereotype”, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu : “stereos” yang berarti “solid” dan “typos” yang berarti “the mark of a blow,” atau arti yang lebih umum yaitu “a model”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stereotip diartikan dengan :
  1. berbentuk tetap; berbentuk klise.
  2. n konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat.

Secara terminologis, istilah “stereotip” dapat diartikan sebagai generalisasi mengenai suatu kelompok orang, di mana karakteristik tertentu diberikan kepada seluruh anggota kelompok tersebut, tanpa mengindahkan adanya variasi yang ada pada anggota-anggotanya. Beberapa hal penting yang berkaitan dengan stereotip adalah sebagai berikut :
  • stereotip merupakan gambaran seseorang terhadap orang lain yang terlintas di kepala atau pikiran, yang biasanya diiturunkan melalui pemahaman kultural yang turun temurun.
  • tidak selamanya stereotip atau pemahaman yang dimiliki mengenai orang lain itu akurat.
  • stereotip dapat menjadikan sebuah konsep dalam membentuk orang lain, karena dengan adanya pemahaman tentang orang lain tersebut, dapat menggambarkan dan mengarahkan orang lain berperilaku di masyarakat.
  • meskipun banyak stereotip yang menggambarkan sisi negatif mengenai orang lain, tetapi ada pula pemahaman stereotip yang positif.

Investigasi : Pengertian, Karakteristik, Tahapan Proses, Dan Penyusunan Laporan Investigasi

Pengertian Investigasi. Secara umum, istilah “investigasi” dapat diartikan sebagai suatu upaya penelitian, penyelidikan, pengusutan, pencarian, pemeriksaan dan pengumpulan data, informasi, dan temuan lainnya untuk mengetahui atau membuktikan kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta yang kemudian menyajikan kesimpulan atas rangkaian temuan dan susunan kejadian. Investigasi juga berarti suatu upaya pembuktian, upaya pencarian dan pengumpulan data, informasi dan temuan lainnya untuk mengetahui kebenaran atau bahkan kesalahan dari sebuah fakta.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), investigasi diartikan dengan :
  1. Penyelidikan dengan mencatat, merekam fakta atau melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya, dengan tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dan sebagainya).
  2. Penyidikan.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan investigasi adalah :
  • menguasai ketentuan umum yang berlaku pada kasus yang diinvestigasi, baik undang-undang maupun peraturan lain yang berlaku.
  • melibatkan pakar ahli ahli yang sukarela mau membantu dan mengembangkan kasus.
  • menguasai masalah yang terkait dengan kasus, seperti : modus, bentuk, aturan main, dan lain sebagainya.
  • susun alur sederhana untuk memudahkan pemahaman kasus.


Sedangkan kesalahan yang mungkin terjadi saat melakukan investigasi adalah :
  • terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kesimpulan hanya diambil dari “sepotong kepingan puzzle” yang bahkan kadang-kadang belum diverifikasi kebenarannya. Pengambilan kesimpulan yang terlalu cepat atau bahkan salah, akan mengakibatkan tindakan perbaikan dan pencegahan yang kurang efektif, karena akar permasalahan yang sebenarnya belum tersentuh.
  • tidak melakukan verifikasi terhadap kebenaran kepingan puzzle. Informasi yang diperoleh dari hasil investigasi harus diverifikasi atau diuji kebenarannya. Hanya informasi yang lulus uji inilah yang dapat jadikan dasar untuk mengambil kesimpulan.

Intervensi : Pengertian, Jenis, Dan Dampak Intervensi

Pengertian Intervensi. Secara umum, istilah “intervensi” identik atau sering digunakan dalam bidang pemerintahan dan kenegaraan. Dalam bidang ini, intervensi diartikan sebagai suatu bentuk campur tangan dalam perselisihan, maksunya adalah suatu upaya mencampuri, mempengaruhi, bahkan mengendalikan pihak lain dengan tujuan untuk mewujudkan tujuan tertentu terhadap pihak yang diintervensi. Dalam hukum internasional, intervensi ditafsirkan sebagai bentuk intervensi asing dalam urusan suatu negara.

The Parry and Grant Encyclopaedic Dictionary of International Law
, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan intervensi adalah adalah campur tangan dalam internal suatu negara untuk memenuhi kehendak negara lain demi tercapainya keselarasan pandangan dan kompromi antar berbagai kepentingan. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengartikan intervensi dengan campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, negara, dan lain sebagainya).

Selain dalam bidang pemerintahan dan kenegaraan tersebut, istilah “intervensi” juga digunakan dalam banyak bidang, seperti : bidang sosial, psikologi, kemanusiaan, kesehatan, keperawatan, dan lain sebagainya.
  • intervensi sosial, merupakan cara atau strategi memberikan bantuan kepada masyarakat (individu, kelompok, komunitas). Intervensi sosial adalah metode yang digunakan dalam praktik di lapangan pada bidang pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial
  • intervensi psikologi, merupakan program yang bersifat preventif, kuratif dan promotif untuk membekali dan memanfaatkan kemampuan-kemampuan psikologis individu, kelompok atau organisasi dalam menyesuaikan diri dengan situasi perubahan di lingkungannya.
  • intervensi kemanusiaan, merupakan tindakan yang mencakup cara-cara tanpa paksaan, khususnya intervensi tanpa militer, untuk mengakhiri penderitaan manusia bersakal besar di sebuah negara.
  • intervensi kesehatan, merupakan tindakan logis yang dilakukan untuk kepentingan pasien.
  • intervensi keperawatan, merupakan tindakan campur tangan dari dokter dan atau perawat untuk membantu kesembuhan pasien.

Dedikasi : Pengertian, Ciri-Ciri, Indikator, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Dedikasi

Pengertian Dedikasi. Secara etimologi, istilah “dedikasi” merupakan istilah serapan dari bahasa Inggris “dedicate” yang berasal dari bahasa Latin, yaitu “dedication” yang berarti menyatakan, mengumumkan. Dedikasi, dalam “Kamus Ilmiah Populer”, diartikan sebagai pengabdian bersifat pengorbanan tenaga, pikiran dan waktu untuk keberhasilan yang bertujuan mulia.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dedikasi diartikan dengan :
  1. n pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia.
  2. pengabdian.

Secara terminologis, istilah “dedikasi” diartikan sebagai suatu kondisi di mana seorang individu sangat terlibat dalam suatu pekerjaan dan merasakan adanya antusiasme dalam bekerja, yaitu merasa terinspirasi, merasakan kebanggaan terhadap pekerjaan yang dilakukan, dan merasa tertantang untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dedikasi juga dapat berarti suatu pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha yang mempunyai tujuan yang mulia. Pengertian lain dari dedikasi disampaikan oleh Toto Tasmara, dalam “Spiritual Centered Leadership”, yang menjelaskan bahwa dedikasi merupakan perilaku matahari yang tetap setia membagi cahaya kepada penduduk di bumi, terbit dan tenggelam sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Kaswan, dalam “Sikap Kerja: Dari Teori dan Implementasi Sampai Bukti”, menjelaskan bahwa dedikasi ditengarahi oleh perasaan bermakna, semangat, inspirasi, bangga, dan tantangan di tempat bekerja. Perasaan bermakna merupakan kesempatan yang dirasakan seseorang dalam mengejar tujuan yang layak atau mulia. Perasaan bermakna tersebut adalah perasaan di mana orang ada dalam jalur di mana orang layak mencurahkan waktu dan energinya. Bahwa ia menjalankan misi yang berharga dan tujuannya sangat penting dalam kontek yang lebih besar. Sedangkan rasa bangga diasosiasikan dengan kesuksesan, prestasi, dan keanggotaan kelompok. Rasa bangga mendorong perilaku prososial seperti prestasi dan kesuksesan. Selain itu rasa bangga berkaitan dengan berfungsi dan terpeliharanya harga diri.

Toleransi : Pengertian, Ciri-Ciri, Indikator, Bentuk, Manfaat, Dan Prinsip Toleransi, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Toleransi

Pengertian Toleransi. Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk atas persatuan dalam keberagaman. Untuk menghadirkan suatu perdamaian dalam keberagaman, semua orang harus mampu menerapkan sikap toleransi dengan sesama. Tanpa adanya toleransi dengan perbedaan, mustahil negara ini bisa berdiri dan bertahan hingga sampai saat ini.

Secara etimologi, istilah “toleransi” merupakan serapan dari istilah dalam bahasa Inggris “tolerance” yang berasal dari bahasa Latin, yaitu “tolerare” yang berarti menahan diri, sabar, atau membiarkan sesuatu yang terjadi. Sedangkan Zuhairi Misrawi, dalam “Al Quran Kitab Toleransi, Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme”, menjelaskan bahwa istilah toleransi berasal dari bahasa Latin, yaitu “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan, dan kesabaran. Istilah toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela, dan kelembutan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi diartikan dengan :
  1. n sifat atau sikap toleran.
  2. batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan.
  3. penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.

Secara terminologi, istilah “toleransi” secara umum dapat diartikan sebagai sikap saling menghormati satu sama lain, terutama dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan dimaksud dapat bermacam-macam, mulai dari perbedaan suku, budaya, agama, sampai dengan kondisi fisik. Toleransi juga dapat berarti sikap saling menghargai dan juga membebaskan orang lain untuk berpendapat dan juga melakukan hal yang tidak sependapat dengan pendapat kita tanpa adanya intimidasi terhadap seseorang maupun orang lain. Sedangkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengartikan toleransi dengan sikap saling menghormati, saling menerima, saling menghargai di tengah keragaman budaya, kebebasan berekspresi, dan karakter manusia.

Dalam memaknai toleransi terdapat dua penafsiran tentang konsep toleransi sebagai berikut :

Imitasi : Pengertian, Syarat, Ciri-Ciri, Bentuk, Dan Tahapan Proses Imitasi, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Imitasi

Pengertian Imitasi. Istilah “imitasi” atau “meniru” merujuk pada sebuah sikap yang berusaha meniru seseorang atau sesuatu, yang banyak digunakan dalam berbagai hal, mulai dari kehidupan sosial, politik, dan lain sebagainya.

Secara umum, istilah imitasi dapat diartikan sebagai suatu perbuatan meniru sesuatu, baik tindakan, tingkah laku, gaya hidup, hingga penampilan fisik seseorang. Imitasi juga dapat berarti suatu perilaku lanjut di mana seorang individu mengamati dan mereplikasi perilaku orang lain. Pada hakekatnya, imitasi merupakan bentuk pembelajaran sosial yang mengarah pada pengembangan tradisi dan budaya sehingga terjadi transfer informasi dalam bentuk perilaku, sikap, kebiasaan, dan lain sebagainya, tanpa harus melalui pewarisan genetik.

Saat ini, imitasi dipelajari dari berbagai sudut pandang ilmu seperti : psikologi, neurologi, kognitif, kecerdasan buatan, studi hewan (animal study), antropologi, ekonomi, sosiologi, dan filsafat. Hal ini berkaitan dengan fungsi imitasi pada pembelajaran terutama pada anak, maupun kemampuan manusia untuk berinteraksi secara sosial sampai dengan penurunan budaya pada generasi selanjutnya.

Selain itu, pengertian imitasi juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikeluarkan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • W.A. Gerungan, dalam “Psikologi Sosial”, menyebutkan bahwa imitasi adalah tindakan yang dilakukan dengan cara mengikuti perilaku orang lain ketika menjalani kehidupan di lingkungan sosial.
  • S. Hurley dan Nick Charter, dalam “Perspectives on Imitation”, menyebutkan bahwa imitasi adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan melibatkan indra sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk mengolah informasi dari rangsang dengan kemampuan aksi untuk melakukan gerakan motorik. Proses ini melibatkan kemampuan kognisi tahap tinggi karena tidak hanya melibatkan bahasa namun juga pemahaman terhadap pemikiran orang lain.