Nilai : Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Fungsi, Dan Sumber Nilai

Pengertian Nilai. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan ideal. Nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, serta tidak hanya persoalan tentang benar atau salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan sosial penghayatan yang dikehendaki, disenangi, dan tidak disenangi.

Secara umum, nilai dapat diartikan sebagai standar atau ukuran (norma) yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu. Nilai juga berarti suatu konsep umum atau gagasan yang merujuk pada hal-hal yang dianggap benar, baik, berharga, penting, indah, pantas, dan dikehendaki oleh masyarakat secara umum di dalam kehidupannya. Nilai merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia, khususnya mengenai kebaikan dan tindak kebaikan suatu hal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai diartikan dengan beberapa pengertian, sebagai berikut :
  1. n harga (dalam arti taksiran harga).
  2. harga uang (dibandingkan dengan harga uang yang lain).
  3. angka kepandaian, biji, ponten.
  4. banyak sedikitnya isi, kadar, mutu.
  5. sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.
  6. sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.

Hugh Lacey, dalam “Is Science Value Free? Values and Scientific Understanding”, menyebutkan bahwa nilai dapat diartikan dalam enam pengertian sebagai berikut :
  • sesuatu yang fundamental yang dicari orang sepanjang hidupnya.
  • suatu kualitas atau tindakan yang berharga, kebaikan, makna atau pemenuhan karakter untuk kehidupan seseorang.
  • suatu kualitas atau tindakan yang membentuk identitas seseorang sebagai pengevaluasian diri, penginterpretasian diri, dan pembentukan diri.
  • suatu kriteria fundamental bagi seseorang untuk memilih sesuatu yang baik diantara berbagai kemungkinan tindakan.

Tradisi : Pengertian, Karakteristik, Jenis, Dan Fungsi Tradisi

Pengertian Tradisi. Secara etimologi, istilah “tradisi” merupakan istilah serapan dari bahasa Inggris “tradition” yang berasal dari bahasa Latin, yaitu “traditio” yang berarti diteruskan atau kebiasaan. Tradisi merupakan suatu bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Menurut Mahmud dan Ija Suntana, dalam “Antropologi Pendidikan”, menyebutkan bahwa istilah “tradisi” berasal dari bahasa Latin, yaitu “trader (tradere)” yang berarti mentransmisikan, menyerahkan, memberi untuk disimpan atau dijaga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tradisi diartikan dengan :
  1. n adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat.
  2. penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.

Secara terminologi, pengertian tradisi mengandung suatu pengertian tersembunyi yang ada kaitannya antara masa lalu dan masa kini. Ia menunjukkan sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi pada masa sekarang. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi, maupun terhadap hal-hal yang bersifat ghaib atau keagamaan. Berdasarkan hal tersebut, secara umum tradisi atau disebut juga adat istiadat atau kebiasaan adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama.


Dalam berbagai disiplin ilmu, tradisi sebagai konsep diartikan secara beragam berdasarkan perspektif dan pendekatan dalam disiplin ilmu tersebut, diantaranya adalah :

1. Arkeologi.
Dalam ilmu arkeologi, tradisi diartikan sebagai sekumpulan budaya atau industri yang tampaknya berkembang dari satu sama lain selama periode waktu tertentu. Istilah ini sangat umum dalam studi arkeologi Amerika.

Fanerozoikum : Pengertian Dan Pengelompokkan Fanerozoikum

Pengertian Fanerozoikum. Istilah "fanerozoikum" berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kehidupan kasat mata, yaitu merujuk pada ledakan (banyaknya) organisme pada periode kambrium, yaitu terjadi kemunculan mendadak banyak filum yang tidak ada di lapisan sebelumnya, dan filum-filum ini meliputi makhluk yang sederhana sampai lebih rumit, yang dahulunya diduga baru akan muncul berjuta-juta tahun kemudian. Kambrium merupakan periode pada skala waktu geologi yang di mulai di akhir eon proterozoikum hingga di mulainya periode ordovisium. Periode kambrium merupakan periode pertama era paleozoikum dari eon fanerozoikum.

Fanerozoikum adalah
suatu eon pada skala waktu geologi yang memiliki kehidupan hewan yang sangat banyak. “Skala waktu geologi” merupakan suatu jenis penanggalan yang digunakan untuk mempelajari sejarah bumi. Skala waktu geologi berbeda dengan penanggalan pada umumnya. Skala waktu geologi diwakili oleh batuan, yang ukuran waktunya ukuran waktu dihitung dalam jutaan tahun atau milyaran tahun. Terdapat dua skala waktu yang dipakai untuk mengukur dan menentukan umur bumi, yaitu :
  • skala waktu relatif, merupakan skala waktu yang ditentukan berdasarkan atas urutan perlapisan batuan-batuan serta evolusi kehidupan organisme di masa yang lalu. Skala relatif terbentuk atas dasar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perkembangan ilmu geologi itu sendiri.
  • skala waktu absolut (radiometrik), merupakan suatu skala waktu geologi yang ditentukan berdasarkan pelarikan radioaktif dari unsur-unsur kimia yang terkandung dalam bebatuan. Skala absolut (radiometri) berkembang belakangan dan berasal dari ilmu pengetahuan fisika yang diterapkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dalam bidang geologi.


Pengelompokkan Fanerozoikum. Berdasarkan skala waktu relatif tersebut, sejarah bumi dapat dikelompokkan berdasarkan Eon (Kurun) yang terbagi menjadi Era (Masa). Era (Masa) terbagi menjadi beberapa Periode (Zaman), dan Periode (Zaman) terbagi menjadi beberapa Epoch (Kala). Fenerozoikum merupakan eon (kurun) dalam skala waktu relatif, yang berlangsung kurang lebih di mulai sejak 545 juta tahun yang lalu, di mana hewan bercangkang keras pertama kali muncul dan masih berlangsung hingga saat ini.

Manusia Purba : Pengertian, Sejarah Perkembangan, Dan Jenis Manusia Purba, Serta Perbedaan Antara Manusia Purba Dan Manusia Modern

Pengertian Manusia Purba. Berdasarkan penelitian, sejarah manusia purba dimulai sejak 4 juta tahun lalu, tetapi para ahli sejarah meyakini bahwa jenis manusia pertama telah ada di muka bumi ini sekitar 2 juta tahun yang lalu. Ilmuwan menyatakan bahwa manusia purba atau "prehistoric people" sebagai manusia tertua.

Dalam ilmu sejarah, makhluk ini belum mengenal tulisan, namun telah menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Mereka hidup berpindah-pindah atau nomaden, yang untuk bertahan hidup, manusia purba mengandalkan segala sesuatu yang tersedia di alam.

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan manusia purba atau prehistoric people adalah jenis manusia prasejarah yang hidup 2 - 4 juta tahun lalu, dan belum mengenal tulisan. Atau dengan kata lain, manusia purba adalah jenis manusia yang hidup pada jaman prasejarah, yang memiliki ciri-ciri yang sangat sederhana baik dari segi bentuk fisik, kecerdasan, maupun peradabannya.


Sejarah Perkembangan Manusia Purba. Manusia purba hidup dengan cara berpindah-pindah atau nomaden. Hal ini menyebabkan persebaran manusia purba cukup merata ke seluruh dunia. Berdasarkan penelitian, persebaran manusia purba di dunia di mulai sejak 65.000 - 50.000 SM, yang di mulai dari Afrika Tengah menuju Afrika Selatan. Mereka menetap cukup lama di Afrika Selatan sebelum akhirnya berpindah ke wilayah Arab, India, hingga Indonesia di sekitar tahun 45.000 SM. Persebaran manusia purba berikutnya adalah sebagai berikut :
  • antara tahun 40.000 - 35.000 SM, mereka menyebar menuju Pegunungan Himalaya sampai ke wilayah Myanmar. Beberapa kelompok terus melanjutkan pergerakan sampai ke Kazakhstan, Semenanjung Portugal, dan dataran Eropa. Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal ras Caucasoid.

Zaman Megalitikum : Pengertian, Manusia Pendukung, Ciri-Ciri, Dan Pembagian Zaman Megalitikum, Serta Peninggalan Masyarakat Zaman Megalitikum

Pengertian Zaman Megalitikum. Istilah megalitikum berasal dari bahasa Yunani, yaitu “megas” yang berarti besar dan “lithos” yang berarti batu. Sehingga berdasarkan arti istilah tersebut, zaman megalitikum dapat diartikan sebagai zaman batu besar. Disebut sebagai zaman batu besar karena pada masa tersebut, masyarakatnya menggunakan peralatan dari batu dan berukuran besar. Zaman megalitikum terjadi setelah zaman neolitikum atau zaman batu muda hingga awal zaman perunggu.

Masyarakat zaman megalitikum sudah hidup menetap, tidak berpindah-pindah (nomaden). Masyarakat zaman megalitikum sudah dapat membuat dan menghasilkan bangunan-bangunan dari batu, yang mereka gunakan untuk tempat tinggal dan untuk kepentingan upacara keagamaan dan mengubur jenazah. Artefak-artefak batu yang digunakan oleh masyarakat pada zaman ini tergolong berukuran besar dan ditata atau dibentuk sedemikian rupa.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, selain berburu, masyarakat zaman megalitikum sudah mengembangkan teknik bercocok tanam atau bertani dan berternak. Revolusi pertanian dan peternakan pada zaman ini disebut dengan "Neolithic Revolution", di mana tanaman-tanaman mulai dibudidayakan dan hewan-hewan mulai didomestifikasi. Selain itu, masyarakat zaman megalitikum juga melakukan perdagangan, yaitu dengan sistem barter atau pertukaran barang. Pertukaran barang ini bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari masyarakat tersebut.

Masyarakat zaman megalitikum sudah mengenal kepercayaan terhadap roh nenek moyang dan juga benda-benda mati yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Munculnya kepercayaan kepada roh leluhur ini menjadi pertanda bahwa pengetahuan manusia di era tersebut sudah mengalami peningkatan. Selain itu sudah muncul pula struktur sosial dan hierarki tertentu yang mengatur suatu komunitas.

Zaman Batu : Pengertian Dan Pembagian Periode Perkembangan Zaman Batu Berikut Ciri-Ciri Setiap Periode Zamannya

Pengertian Zaman Batu. Secara umum, istilah zaman batu merujuk pada zaman prasejarah yang ditandai dengan penggunaan alat-alat atau struktur bangunan yang terbuat dari batu. Zaman batu merupakan bagian dari zaman pra aksara, yaitu zaman sebelum dikenalnya huruf (aksara), selain zaman logam.

Zaman batu merupakan
zaman di mana manusia masih menggunakan segala peralatan yang terbuat dari batu. Mereka memanfaatkan batu untuk mencari makan, berburu dan bertahan hidup. Tidak seperti logam yang bisa dicetak, peralatan yang mereka hasilkan masih berbentuk kasar dan seadanya

Zaman batu di mulai sekitar 600.000 tahun yang lalu. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang dimaksud dengan zaman batu adalah zaman ketika manusia membuat alat-alat kebudayaan dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu terjadi sebelum manusia mengenal logam.


Pembagian Periode Perkembangan dan Ciri-Ciri Zaman Batu. Periode perkembangan zaman batu dibagi menjadi tiga, yaitu :
  • zaman paleolitikum (zaman batu tua).
  • zaman mesolitikum (zaman batu madya).
  • zaman neolitikum (zaman batu muda).

Selain ketiga zaman tersebut di atas, masih terdapat satu periode lagi yaitu zaman megalitikum (zaman batu besar). Zaman megalitikum atau zaman batu besar tidak masuk dalam pembagian periode zaman batu, karena zaman megalitikum dengan kebudayaan batu besar berkembang dalam rentang waktu perode zaman neolitikum sampai dengan zaman perunggu.

Zaman Neolitikum : Pengertian, Ciri-Ciri, Peralatan Dan Kebudayaan Zaman Neolitikum, Serta Peninggalan Zaman Neolitikum

Pengertian Zaman Neolitikum. Istilah neolitikum berasal dari bahasa Yunani, yaitu “neos” yang berarti baru dan “lithos” yang berarti batu. Berdasarkan arti kata tersebut, zaman neolitikum dapat diartikan sebagai zaman baru baru atau zaman batu muda, yaitu periode setelah zaman mesolitikum atau zaman batu madya atau zaman batu tengah. Istilah zaman neolitikum pertama kali dikemukaan oleh Sir John Lubbock pada tahun 1865.

Zaman neolitikum merupakan periode dalam teknologi manusia yang secara tradisional adalah bagian terakhir dari zaman batu. Zaman neolitikum termasuk dalam era pleistosen akhir dan awal di era holosen. Istilah “neolitikum” sendiri sebetulnya tidak mengacu pada periode kronologis tertentu, tetapi lebih kepada seperangkat karakteristik perilaku dan budaya termasuk penggunaan dan pemanfaatan berbagai hal, termasuk tanaman liar dan hewan peliharaan, sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup.

Pada periode zaman neolitikum, teknologi manusia pada saat itu sudah cukup berkembang jika dibandingkan dengan periode zaman sebelumnya, masyarakatnya sudah mengenal cara bercocok tanam selain masih juga berburu, sudah dapat menghasilkan bahan makanan sendiri (food production), serta masyarakat pada zaman neolitikum sudah mulai hidup menetap, tidak lagi berpindah-pindah atau nomaden. Karena hidupnya yang sudah menetap, dalam masyarakat zaman neolitikum dikenal adanya seorang yang dianggap sebagai “primus interpares” atau yang utama dari sesamanya. Umumnya, individu ini adalah kepala suku atau tetua adat dari komunitas masyarakat tersebut. Jenis manusia yang hidup pada pada zaman neolitikum adalah Homo Sapiens ras Mongoloide dan Austromelanosoide.


Ciri-Ciri Zaman Neolitikum. Berdasarkan hal tersebut di atas, terdapat beberapa ciri dari masyarakat zaman neolitikum, diantaranya adalah :
  • hidup menetap dan memiliki tempat tinggal yang tetap.
  • telah mengenal teknik bercocok tanam dan beternak.

Zaman Mesolitikum : Pengertian, Manusia Pendukung, Dan Ciri-Ciri Zaman Mesolitikum, Serta Kebudayaan Dan Peralatan Peninggalan Zaman Mesolitikum

Pengertian Zaman Mesolitikum. Istilah "mesolitikum" berasal dari bahasa Yunani, yaitu "mesos" yang berarti tengah, dan "lithos" yang berarti batu. Sehingga berdasarkan arti istilah tersebut, zaman mesolitikum dapat diartikan dengan zaman batu tengah atau zaman batu madya, yaitu periode perkembangan manusia antara zaman paleolitikum (zaman batu tua) dan zaman neolitikum (zaman batu muda), yang diperkirakan berlangsung pada masa holosen sekitar 10.000 hingga 20.000 tahun yang lalu.

Istilah zaman mesolitikum pertama kali digunakan oleh John Lubbock dalam makalahnya yang berjudul "Pre-historic Times", yang diterbitkan pada tahun 1865, dan istilah zaman mesolitikum dipopulerkan oleh V. Gordon Childe dalam bukunya yang berjudul "The Dawn of Europe", yang diterbitkan pada tahun 1947.

Kehidupan masyarakat di zaman mesolitikum tidak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat di zaman sebelumnya yaitu zaman paleolitikum. Hanya saja, masyarakat pada zaman mesolitikum lebih pintar dibanding masyarakat sebelumnya. Mereka sudah mulai hidup menetap dan mulai mencoba bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain berburu. Sedangkan hasil kebudayaan pada zaman mesolitkum juga masih sangat sederhana namun sudah lebih maju dibandingkan kebudayaan pada masa sebelumnya yaitu zaman zaman paleolitikum. Hal ini dikarenakan :
  • keadaan alam pada zaman mesolitikum dalam kondisi yang sudah lebih stabil, yang memungkinkan manusia untuk bisa hidup dengan lebih tenang, sehingga dapat mengembangkan kebudayaannya
  • masyarakat zaman mesolitikum berasal dari jenis Homo sapien, yaitu mahluk yang lebih cerdas dibandingkan dengan sebelumnya.

Prasasti : Pengertian, Jenis, Dan Fungsi Prasasti, Serta Prasasti Tertua Yang Ditemukan Di Indonesia

Pengertian Prasasti. Secara umum, prasasti dapat diartikan sebagai tulisan tentang maklumat atau keputusan resmi yang ditulis pada benda-benda yang keras, seperti batu, lontar, atau pada logam yang dirumuskan menurut kaidah-kaidah tertentu serta ditandai dengan upacara. Dalam pengertian yang lebih modern, di Indonesia, prasasti sering dikaitkan dengan tulisan-tulisan di batu nisan atau di gedung, terutama ketika peletakkan batu pertama atau peresmian pada sebuah proyek pembangunan.

Secara etimologi, istilah prasasti berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti pujian. Namun demikian, dalam prakteknya, apa yang ditulis sebagai prasasti tidak hanya tentang pujian. Sebagian besar prasasti yang ditemukan memuat keputusan mengenai penetapan sebuah desa atau daerah menjadi sima atau daerah perdikan yang bebas dari pungutan pajak kerajaan. Sima adalah tanah yang diberikan oleh raja atau penguasa kepada masyarakat yang dianggap berjasa. Selain itu, isi dari prasasti diantaranya adalah cerita tentang :
  • kejayaan seorang raja (kerajaan) atau tanda kemenangan (jayacikna). 
  • keputusan pengadilan tentang perkara perdata (disebut prasasti jayapatra atau jayasong). 
  • bukti utang-piutang (suddhapatra). 
  • kutukan atau sumpah (banyak ditemui pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya). 
  • genealogi (asal-usul) raja atau asal usul suatu tokoh.

Aksara yang banyak dipakai dalam prasasti kuno adalah Pallawa, Sanskerta, Prenagari, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Melayu Kuno, dan Bali Kuno. Sedangkan bahasa yang dipakai juga beranekaragam dan biasanya adalah bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, Bali Kuno, dan Sunda Kuno. Pahatan aksara di atas prasasti merupakan hasil karya para penulis prasasti yang disebut dengan "Citralekha". 

Candi : Pengertian, Jenis, Fungsi, Hiasan, Dan Konsep Pembangunan Candi, Serta Perbedaan Antara Candi Hindu Dan Candi Budha

Pengertian Candi. Di Indonesia, keberadaan candi tidak terlepas dari sejarah kerajaan Jawa dan perkembangan agama Hindu dan agama Budha di Jawa dari sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14 Masehi. Sejak agama Hindu dan agama Budha datang dari India, desain sebagian besar candi di Indonesia, dalam banyak aspek mengadopsi gaya India, dengan tetap mempertahankan budaya lokal dalam karakteristik-nya yang unik, yaitu dalam hal penggunaan bahan bangunan, teknik konstruksi, serta gaya dekorasi. Dinding candi biasanya dihiasi dengan patung dan relief yang menggambarkan sebuah cerita atau ajaran agama.

Secara umum, candi dapat diartikan sebagai bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Budha. Candi juga dapat berarti bangunan yang disediakan untuk ritual dan kegiatan keagamaan atau spiritual, seperti doa dan pengorbanan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), candi diartikan dengan bangunan kuno yang dibuat dari batu, yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja-raja, pendeta-pendeta Hindu atau Budha pada zaman dulu.

Menurut Soekmono, dalam "Candi, Fungsi dan Pengertiannya", mengutip pendapat dari Prof. N. J. Krom dan Dr. WF Stutterheim, istilah candi berasal dari bahasa sansakerta, yaitu "candigra atau candikaghra atau candikalaya atau candika, yang merupakan penamaan tempat pemujaan bagi Dewi Durga (dewi maut), yang di Indonesia dikenal dengan nama Bethari Durga atau Durga Mahesasuramardhani. Sehingga, pada masa klasik, candi dipahami sebagai tempat suci untuk bakti kepada para dewa.

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah "candi" mengalami perluasan arti, tidak hanya berarti sebagai tempat peribadatan, tetapi juga digunakan untuk menyebut situs-situs purbakala dari masa Hindu-Budha atau klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya. Hal tersebut sebagaimana pendapat dari para Arkeolog bahwa candi adalah pemakaman atau pemujaan.  

Artefak : Pengertian, Ciri-Ciri, Dan Jenis Artefak, Serta Perbedaan Antara Artefak, Fosil, Dan Barang Antik

Pengertian Artefak. Dari asal katanya, istilah "artefak" atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan "artifact" merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu "arte" yang berarti "oleh keterampilan" dan "factum" yang berarti "untuk membuat". Berdasarkan hal tersebut, penggunaan istilah artefak biasanya mengacu pada sesuatu yang dibuat untuk tujuan tertentu dan pada waktu tertentu di masa yang lampau.

Dalam arkeologi, istilah artefak secara umum dapat diartikan sebagai peninggalan benda-benda bersejarah, yaitu semua benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh manusia yang dapat dipindahkan. Artefak juga berarti benda (atau bahan alam) yang jelas dibuat oleh (tangan) manusia atau jelas menampakkan (observable) adanya jejak-jejak buatan manusia (bukan semata-mata benda alamiah) melalui teknologi pengurangan atau teknologi penambahan pada benda alam tersebut. Artefak merupakan obyek buatan manusia yang memiliki makna budaya. Biasanya artefak berupa benda-benda atau sesuatu yang dapat diraba, dilihat, dan juga didokumentasikan. Contoh dari artefak diantaranya adalah alat-alat dari batu, logam, tulang, prasasti, terracotta, dan lain sebagainya.  Artefak-artefak tersebut umumnya diletakkan di museum sehingga orang-orang bisa melihat dan mempelajarinya.

Dalam Kamus Istilah Arkeologi, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan artefak adalah semua tinggalan arkeologis yang dibuat manusia. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artefak diartikan dengan :
  1. benda-benda, seperti alat, perhiasan yang menunjukkan kecakapan kerja manusia (terutama pada jaman dahulu) yang ditemukan melalui penggalian arkeologi.
  2. benda (barang-barang) hasil kecerdasan manusia, seperti perkakas, senjata.

Fosil : Pengertian, Syarat Terbentuknya, Fungsi, Jenis, Dan Proses Terbentuknya Fosil, Serta Penentuan Umur Fosil

Pengertian Fosil. Istilah "fosil" berasal dari bahasa Latin, yaitu "fossa" yang berarti "menggali keluar dari dalam tanah". Secara umum, fosil dapat diartikan sebagai sisa-sisa atau jejak makhluk hidup (manusia, hewan, atau tanaman) yang hidup di masa lampau yang telah berubah menjadi batu atau mineral. Fosil dari makhluk hidup tersebut terjadi secara alami dalam kurun waktu ribuan tahun (mempunyai umur geologi), dan biasanya terawetkan dalam suatu sedimen atau lapisan kulit bumi. Fosil yang banyak ditemukan, umumnya adalah dalam bentuk kerangka yang tersisa, seperti cangkang, gigi, dan tulang. Ilmu yang mempelajari tentang fosil disebut Paleontologi, yang merupakan cabang dari ilmu Arkeologi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fosil diartikan dengan sisa tulang belulang binatang atau sisa tumbuhan jaman purba yang telah membatu dan tertanam di bawah lapisan tanah. Kebanyakan fosil ditemukan dalam batuan endapan (sedimen) yang permukaannya terbuka. Diketemukannya fosil membuktikan beberapa hal, seperti :
  • adanya kehidupan atau berbagai bentuk kehidupan di masa lampau (yang terjadi pada waktu geologi sebelumnya/purba).
  • adanya perubahan kehidupan seiring dengan berkembangnya waktu.

Fosil memberi kita referensi ke dunia masa lampau dan berkontribusi pada penciptaan skala waktu geologis. 


Syarat Terbentuknya Fosil (Fosilisasi). Yang dimaksud dengan fosilisasi adalah proses penimbunan sisa-sisa makhluk hidup yang terakumulasi dalam sedimen atau lapisan bumi, baik yang mengalami pengawetan secara menyeluruh, sebagian, maupun jejaknya saja. Terdapat beberapa syarat untuk terbentuknya suatu fosil, yaitu :

Epigrafi : Pengertian, Model Penelitian, Dan Tujuan Epigrafi, Serta Tujuan Dan Hambatan Seorang Epigraf

Pengertian Epigrafi. Secara etimologis, istilah "epigrafi" berasal dari bahasa Yunani yaitu "epi-graphe" yang berarti "tulisan" atau "prasasti". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, epigrafi diartikan sebagai kajian tentang tulisan kuno pada prasasti dan sebagainya. Dari sisi ilmu pengetahuan, epigrafi merupakan satu cabang dari ilmu arkeologi yang mempelajari dan meneliti benda-benda bertulis yang berasal dari masa lampau.

Salah satu benda bertulis yang dipelajari dalam epigrafi diantaranya adalah prasasti. Prasasti merupakan sumber bukti tertulis, baik berupa tulisan atau gambar, pada masa lampau yang dapat memberikan informasi tentang peristiwa di masa lampau, asal usul seorang yang terkenal di masa lampau (raja atau tokoh), penanggalan (genealogi), dan lain sebagainya. Cakupan epigrafi sangat luas, tidak hanya sebatas pada huruf dan tulisan kuno saja, melainkan juga membahas hubungan antara prasasti dengan kondisi (raja, tokoh, peristiwa atau kejadian, dan lain sebagainya) yang ada pada masa lampau.


Di Indonesia, kajian epigrafi dipelopori oleh Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Indonesia pada abad ke-19. Selama memerintah di Indonesia, ia mengumpulkan beberapa prasasti  dan mencoba untuk menterjemahkannya dengan bantuan dari berbagai pihak. Thomas S. Raffles  jugalah yang telah mengirimkan prasasti Pucangan ke Calcutta India yang ditemukan pada saat ia memerintah di Indonesia. Melalui Thomas S. Raffles, penelitian epigrafi mulai terbuka lebar di Indonesia. Sedangkan landasan mengenai sistematika penelitian epigrafi di Indonesia, pertama kali dikemukakan oleh R.H. Theodore Friederich, yang kemudian diikuti oleh para peneliti lain dari Eropa, seperti Johan Hendrich Caspar Kern, Jan Laurens Andries Brandes, N.J. Krom, dan lain sebagainya, serta peneliti dari Indonesia, seperti R.M.Ng. Poerbatjaraka.

Peralatan Arkeologi Dan Tahapan Penelitian Arkeologi

Arkeologi pada prinsipnya merupakan satu disiplin ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi), ekofak (benda lingkungan), maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya/situs arkeologi).

Peralatan Arkeolog
i. Kegiatan yang paling penting dari arkeologi sebagai ilmu adalah proses ekskavasi, yaitu melakukan kegiatan pengumpulan benda-benda dari dalam tanah melalui penggalian untuk mengungkap kehidupan manusia di masa lalu. Untuk melakukan proses ekskavasi dibutuhkan peralatan-peralatan pendukung sehingga proses ekskavasi tersebut dapat berjalan dengan baik, aman, dan lancar.


Berikut beberapa peralatan yang secara umum dibutuhkan oleh arkeolog :

1. Peralatan Lapangan.
Peralatan lapangan (site tools) yang umum digunakan oleh para arkeolog diantaranya adalah sebagai berikut :
  • total station transit, merupakan alat yang memungkinkan arkeolog membuat peta tiga dimensi yang akurat dari sebuah situs arkeologi, termasuk juga topografi permukaan, lokasi relatif artefak dan fitur dalam situs, serta penempatan unit penggalian.
  • cangkul, merupakan alat yang digunakan untuk menggali dan memecahkan tanah yang keras, berbentuk mirip beliung persegi (mata pisau yang luas menyerupai pahat) dan memiliki pegangan yang tegak lurus dengan mata pisaunya.
  • marshalltown trowels, merupakan alat berbentuk sekop kecil dengan ujung pipih dan lancip.  
  • plains trowel, merupakan alat berbentuk sekop dengan ujung rata lurus, yang biasanya digunakan untuk bekerja di sudut yang sempit dan menjaga garis tetap lurus.  

Arkeologi : Pengertian, Sejarah Perkembangan, Dan Tujuan Arkeologi

Pengertian Arkeologi. Arkelologi merupakan satu disiplin ilmu. Secara etimologis, istilah "arkeologi" berasal dari bahasa Yunani yang merupakan kombinasi dari dua kata, yaitu : "archaeo" yang berarti "kuno" dan "logos" yang berarti "ilmu". Berdasarkan asal kata tersebut, arkeologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi), ekofak (benda lingkungan), maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya/situs arkeologi). Dalam pengertian yang paling sederhana, arkeologi berarti "to write history from surviving material source". Arkeologi disebut juga dengan ilmu sejarah budaya material.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arkeologi diartikan dengan ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan zaman kuno berdasarkan benda peninggalannya; ilmu purbakala. Stuart Piggott, seorang arkeolog berkebangsaan Inggris, dalam bukunya yang berjudul "Approach to Archaeology", menyebutkan bahwa arkeologi adalah cabang ilmu sejarah (archeology as history). Pengertian tentang arkeologi dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu :
  • secara umum, arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia beserta kebudayaan-kebudayaan yang terjadi di masa lalu melalui peninggalannya.
  • secara khusus, arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari budaya masa silam yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan) maupun pada masa sejarah (setelah adanya bukti-bukti tertulis).

Dari pengertian arkeologi tersebut, beberapa ahli memandang perlu adanya penggabungan antara ilmu arkeologi dengan ilmu sejarah. Penggabungan kedua ilmu tersebut dimaksudkan untuk memperkaya gambaran tentang aktivitas kehidupan manusia di masa lalu, dan tentu saja berkaitan dengan upaya untuk mengungkap masa lalu masyarakat manusia dengan bertumpu pada peninggalan berupa benda.

Ciri-Ciri, Peralatan, Dan Kebudayaan Jaman Paleolitikum

Jaman Paleolitikum merupakan salah satu periode pada jaman batu, selain jaman Mesolitikum, jaman Megalitikum, dan jaman Neolitikum. Jaman Paleolitikum adalah periode pertama dari jaman batu.

Jaman Paleolitikum sering juga disebut dengan jaman batu atau tepatnya jaman batu tua. Disebut jaman batu tua oleh para ahli, karena pada saat itu sebagian besar peralatan yang digunakan terbuat dari batu alami yang masih kasar tanpa diasah atau dipoles. Jaman Paleolitikum diperkirakan berlangsung pada masa pleistosen awal, sekitar 600.000 tahun yang lalu.

Jaman Paleolitikum terbagi dalam tiga periode, yaitu :
  1. Jaman Paleolitikum Tua, merupakan periode pertama dari jaman  Paleolitikum, berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang lalu. Pada masa ini untuk pertama kalinya manusia mengenal kebudayaan. Manusia purba pada jaman ini mulai memikirkan dan membuat peralatan untuk mempermudah pekerjaan mereka. Peralatan yang mereka buat sebagian besar berbahan utama batu. Karakteristik pembuatan peralatan ini adalah dengan cara dibenturkan, yaitu memukuli bahan baku dengan batu yang lain atau memukulkan bahan baku tersebut pada batu besar untuk mendapatkan bentuk yang diinginkannya.
  2. Jaman Paleolitikum Madya. Pada jaman ini, manusia purba sudah mulai mengenal dan memiliki kepercayaan. Hal ini diketahui berdasarkan artefak-artefak yang ditemukan di situs Mousterian, yang menandakan adanya bentuk pemujaan pada hal-hal tertentu (bintang) di masa itu.

Sejarah Perkembangan Manusia

Perkembangan manusia tersusun dari tingkat primitif sampai moderen. Dengan adanya ilmu paleontologi yang merupakan pengetahuan tentang manusia purba, maka pemikiran tentang sejarah perkembangan manusia semakin berkembang dengan pesat untuk mencoba memberikan jawaban atas pemikiran Charles Darwin tentang adanya the missing link.

gambar : artikelbagus.com
Menurut tingkatannya, manusia dibedakan atas :
  • Protoantropik sebagai awal manusia. 
  • Paleontropik sebagai manusia purba. 
  • Neontropik sebagai manusia baru.

Baca juga : Teori Evolusi

1. Protoantropik.
Salah satu pendapat yang berkembang menyebutkan bahwa benua Afrika merupakan tempat asal manusia. Temuan fosil manusia purba pada tingkatan Protoantropik di Afrika yang terkenal adalah :
  • Australopithecus Africanus, yang artinya kera selatan dari Afrika. 
  • Pleisiadapis, yang merupakan fosil prosimian yang sangat primitif dan masih bercakar.
  • Paranthropus, yang disinonomkan dengan Australopithecus robustus yaitu kera selatan yang besar.

Temuan fosil manusia purba pada tingkatan Protoantropik di Jawa yang terkenal adalah :
  • Pithecanthropus Erectus, yang artinya manusia kera berjalan tegak yang ditemukan oleh Dr. Eugene Dubois pada tahun 1891,  di desa Trinil Jawa Tengah. Nama Pithecanthropus Erectus diberikan atas dasar perbedaan rongga tengkorak antara manusia sekarang dengan kera, sekitar 930 cc, dan paha kiri yang sudah agak besar yang memberikan petunjuk bahwa ia sudah berjalan dengan tegak.

Teori Evolusi

Teori evolusi adalah pendapat yang mengatakan, bahwa terjadi perubahan secara pelan dan memakan waktu yang sangat lama dalam kehidupan makhluk hidup. Waktu yang diperlukan untuk terjadinya perubahan atas makhluk hidup tersebut bisa ribuan bahkan jutaan tahun lamanya, agar perubahan bentuk makhluk hidup tersebut nampak lebih jelas.

Teori evolusi yang sangat terkenal dan menghebohkan dunia pengetahuan serta dianggap bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai agama adalah teori evolusi dari Charles Darwin, yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera.

Banyak ahli yang telah mengemukakan teori evolusi, di antaranya adalah :

1. Aristoteles.
Aristoteles mengatakan bahwa makhluk yang hidup di daratan berasal dari makhluk yang hidup di lautan. 

2. Empidocles.
Empidocles mengatakan bahwa hanya bentuk-bentuk yang paling baik sajalah yang dapat bertahan, sedangkan bentuk yang kurang baik akan hilang binasa.

3. Jean Baptise Lamarck (1744 - 1829).
Jean Baptise Lamarck, seorang ahli dari Perancis mengatakan bahwa ada mekanisme spesifik dalam evolusi (transmutasi) organisme. Binatang berubah sesuai dengan tuntutan alam sekitarnya atau aquired characteristics. Penyesuaian tersebut diperoleh selama hidup, dan dapat diturunkan. Misalnya pada jerapah yang harus memanjangkan lehernya untuk memperoleh makanan di bagian atas pohon.