Place Attachment : Pengertian, Aspek, Fungsi, Tingkatan, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Place Attachment, Serta Metode Pengukuran Place Attachment

Pengertian Place Attechment. Istilah “place attechment” atau “keterikatan tempat” terdiri dari dua kata, yaitu “place” yang mengacu pada pengaturan lingkungan di mana seseorang secara emosional dan budaya melekat, dan “attachment” yang mengacu pada pengaruh. Place attachment berpotensi menawarkan prediktabilitas dalam rutinitas sehari-hari, tempat untuk bersantai dari kehidupan formal, dan kesempatan untuk mengontrol berbagai bidang kehidupan.

Secara umum, place attachment atau “keterikatan tempat” dapat diartikan sebagai ikatan antara seorang atau kelompok orang dan suatu tempat yang dapat bervariasi dalam hal tingkat keruangan, derajat kekhususan, dan sosial atau fitur fisik tempat, dan dimanifestasikan melalui afektif, kognitif, dan perilaku proses psikologis. Place attachment dapat juga berarti kualitas hubungan antara manusia dengan suatu tempat yang menunjukkan keterikatan emosi antara manusia dengan ruang serta pemenuhan kebutuhan akan tempat dan identitas. Secara garis besar, place attachment mengacu pada terbentuknya ikatan batin seseorang dengan suatu tempat,

Selain itu, pengertian place attachment juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Irwin Altman dan S.M. Low, dalam “Place Attachment”, menyebutkan bahwa place attachment adalah ikatan emosional yang mendalam atau hubungan yang dikembangkan pada suatu tempat tertentu dari waktu ke waktu melalui interaksi positif yang diulang. Lebih lanjut, Irwin Altman dan S.M. Low menjelaskan bahwa place attachment merupakan fenomena kompleks yang menggabungkan beberapa aspek seperti ikatan antar tempat dan orang, interaksi antar emosi dan pengaruh, pengetahuan dan keyakinan, serta perilaku dan tindakan terhadap suatu tempat. Ikatan ini terbentuk secara positif, dan tumbuh seiring dengan panjangnya waktu manusia beraktivitas di tempat tersebut.

Kematangan Beragama : Pengertian, Karakteristik, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Kematangan Beragama

Pengertian Kematangan Beragama. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Religiusitas bangsa Indonesia ini tampak dari keyakinan akan adanya Tuhan, ritual agama yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, serta dari perilaku sosial moral yang didasarkan pada ajaran agama yang dianutnya. Sebagai masyarakat yang religius, bangsa Indonesia menempatkan keimanan dan ketakwaan, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai kualitas yang harus diperjuangkan perwujudannya.

Agama adalah
suatu sistem nilai yang mengarah kepada norma-norma tertentu yang perlu ditaati. Agama merupakan proses hubungan manusia yang dirasakan terhadap sesuatu yang diyakininya yaitu sesuatu yang lebih tinggi dari manusia. Istilah kematangan dapat berarti suatu pertumbuhan kepribadian dan intelegensi secara bebas dan wajar seiring dengan perkembangan yang relevan. Kematangan seorang individu dapat dicapai melalui perkembangan hidup yang berakumulasi dengan berbagai pengalaman, baik secara fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual. Akumulasi dari pengalaman hidup tersebut kemudian terefleksikan dalam pandangan hidup, sikap, dan perilaku sehari-hari.

Berdasarkan hal tersebut, kematangan beragama dapat diartikan sebagai watak keberagamaan yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang kemudian membentuk suatu konsep dan prinsip pada diri seseorang dalam menjalani hidupnya yang bersandar pada nilai-nilai agama. Kematangan beragama juga dapat berarti capaian tingkatan seseorang dalam kehidupan beragama baik itu secara ilmu dan aplikasinya yang tercermin dalam perilaku sebagaimana yang diajarkan dan dimaksud oleh ajaran agama tersebut. Kematangan beragama tidak terjadi secara tiba-tiba karena tingkat kematangan beragama merupakan suatu perkembangan individu yang memerlukan waktu, yang diwujudkan dalam bentuk keimanan, karena pada hakikat beragama adalah keimanan.


Selain itu, pengertian kematangan beragama juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

Respon : Pengertian, Bentuk, Dan Penilaian Respon, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Respon

Pengertian Respon. Secara umum, respon dapat diartikan sebagai perilaku atau sikap yang muncul setelah adanya stimulus berupa penerimaan melalui panca indera yang nantinya akan membentuk tingkah laku baru berupa persetujuan atau penolakan, penilaian, suka atau tidak suka, serta kepositifan atau kenegatifan suatu obyek psikologis. Respon dapat juga berarti kecenderungan seseorang untuk memberikan pemusatan perhatian pada sesuatu di luar dirinya karena adanya stimuli yang mendorong. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana, respon merupakan tanggapan, reaksi, atau jawaban.

J. P. Chaplin
, dalam “Kamus Lengkap Psikologi”, mengartikan respon dengan :
  1. sebarang proses otot atau kelenjar yang dimunculkan oleh suatu stimulan.
  2. satu jawaban, khususnya jawaban dari pertanyaan tes atau kuesioner.
  3. sebarang tingkah laku, baik yang jelas kelihatan atau yang lahiriah maupun yang tersembunyi atau yang samar.

Sedangkan Save D. Dagun, dalam “Kamus Besar Ilmu Pengetahuan”, mengartikan respon sebagai reaksi psikologis-metabolik terhadap tibanya suatu stimulus, ada yang bersifat otomatis seperti refleksi dan reaksi emosional langsung, adapula yang bersifat terkendali.

Selain itu, pengertian respon juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Jalaludin Rahmat, dalam “Psikologi Komunikasi”, menyebutkan bahwa respon adalah hasil atau kesan yang didapat (ditinggal) dari pengamatan tentang subyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan-pesan. r.
  • Soejono Soekanto, dalam “Sosiologi Suatu Pengantar”, menyebutkan bahwa respon adalah perilaku yang merupakan konsekuensi dari perilaku sebelumnya.
  • Ahmad Subandi, dalam “Psikologi Sosial”, menyebutkan bahwa respon adalah umpan balik yang memiliki peran atau pengaruh yang besar dalam menentukan baik atau tidaknya suatu komunikasi. Dengan adanya respon yang disampaikan dari komunikan kepada komunikator, maka akan menetralisir kesalahan penafsiran dalam sebuah proses komunikasi.

Psikologi Transpersonal : Pengertian, Obyek Dan Konsep Psikologi Transpersonal

Pengertian Psikologi Transpersonal. Kemunculan psikologi transpersonal secara khusus bertitik tolak pada kajian empiris terhadap fenomena perkembangan jiwa manusia yang menghasilkan teori-teori spesifik, seperti : meta-need, nilai-nilai puncak, unitive consciousness, pengalaman puncak, b-values, pengalaman mistik, aktualisasi diri, transendensi diri, esensi kesatuan wujud, dan lain-lain. Secara definitif teori-teori ini dipahami beragam oleh berbagai kalangan di mana ada yang memahaminya sebagai sesuatu yang bersifat alamiah, bersifat ketuhanan, supranatural, dan berbagai kategori lainnya.

Psikologi transpersonal
atau “transpersonal psychology” merupakan istilah yang digunakan dalam mazhab psikologi yang digagas terutama oleh para ahli psikologi maupun ilmuwan dalam bidang lain (selain psikologi) yang menekankan penjelasan tentang kemampuan dan potensi puncak manusia, di mana istilah ini secara sistematis tidak memiliki tempat dalam teori positivistik atau behavioristik, psikoanalisa klasik, maupun psikologi humanistik.

Secara umum, istilah “psikologi transpersonal” merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu :
  1. psikologi” atau “psychology”, yang secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang berakar dari kata “psyche” yang berarti “jiwa”, dan “logos” yang berarti “ilmu”. Sehingga psikologi dapat diartikan sebagai “ilmu jiwa”.
  2. transpersonal”, secara etimologi berakar dari kata “trans” yang berarti “di atas (beyond, over)”, dan “personal” yang berarti “diri”. Sehingga transpersonal dapat diartikan sebagai “pengalaman di mana kesadaran diri atau identitas diri melampaui (trans) individu atau pribadi untuk mencapai aspek-aspek yang lebih luas dari umat manusia, kehidupan, jiwa, atau kosmik”, dengan kata lain transpersonal berarti “perkembangan yang melampaui batas-batas individual”.

Berdasarkan hal tersebut, istilah “psikologi transpersonal” atau “transpersonal psychology” dapat diartikan sebagai psikologi (ilmu jiwa) yang membahas dan mengkaji pengalaman di luar atau batas diri, seperti pengalaman-pengalaman spiritual atau transcendental diri manusia, yaitu pengalaman dasar kemanusiaan dalam hubungannya dengan hal-hal seperti : Tuhan, ketinggian kodrat, cinta, tujuan, dan idealitas. Psikologi transpersonal menempatkan agama (spiritualitas) sebagai salah satu wilayah kajiannya, dan hal inilah yang membedakan konsep manusia dalam  psikologi humanistik dan psikologi transpersonal. Namun demikian, psikologi transpersonal bukanlah seperangkat kepercayaan, dogma, atau agama, melainkan suatu upaya untuk membawa tingkatan pengalaman manusia sepenuhnya menuju puncak spiritualitas yang membawa manusia pada kebahagiaan yang sempurna.

Workplace Spirituality : Pengertian, Karakterstik, Aspkek, Dan Dampak Workplace Spirituality, Serta Nilai Yang Terkandung Dalam Workplace Spirituality

Pengertian Workplace Spirituality. Istilah “workplace spirituality” atau “spiritualitas di tempat kerja” merupakan pengimplimentasian nilai-nilai agama yang muncul dan bersumber dari dalam keyakinan yang dimiliki oleh individu yang dapat membawa dampak positif di tempat kerja. Workplace spirituality diawali dengan pengakuan bahwa setiap orang memiliki kehidupan pribadi (inner) dan kehidupan luar (outer), di mana pengembangan kehidupan pribadi dapat mengakibatkan kehidupan luar yang lebih bermakna dan lebih produktif.

Workplace spirituality
tidak terkait dengan praktik-praktik religius yang terorganisasi, tidak juga tentang Tuhan ataupun teologi, melainkan berkaitan dan berfokus pada toleransi, kesabaran, tujuan, serta pemikiran terkait norma-norma organisasi untuk membentuk nilai-nilai pribadi. Workplace spirituality menyadari bahwa manusia memiliki kehidupan batin yang tumbuh dan ditumbuhkan oleh pekerjaan yang bermakna, yang berlangsung dalam konteks komunitas.

Selain itu, pengertian workplace spirituality dapat juga dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Stephen P. Robbins, dalam “Perilaku Organisasi”, menyebutkan bahwa workplace spirituality adalah bentuk kesadaran manusia memiliki kehidupan batin yang tumbuh dan ditumbuhkan oleh pekerjaan yang bermakna yang berlangsung dalam konteks komunitas. Organisasi yang mendukung kultur spiritual mengakui bahwa manusia memiliki pikiran dan jiwa, berusaha mencari makna dan tujuan dalam pekerjaan mereka, hasrat untuk berhubungan dengan orang lain, serta menjadi bagian dari sebuah komunitas.
  • John M. Ivancevich, Robert Konopaske, dan Michael T. Matteson, dalam “Perilaku Organisasi dan Manajemen”, menyebutkan bahwa workplace spirituality adalah karyawan memiliki kehidupan personal yang berkembang dan dikembangkan dengan melakukan pekerjaan yang relevan, berarti dan menantang.

Mindfulness (Kesadaran) : Pengertian, Aspek, Tujuan, Manfaat, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Mindfulness, Serta Teknik Pelatihan Dan Terapi Mindfulness

Pengertian Mindfulness. Secara umum, istilah “mindfulnees” atau “kesadaran” dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana seorang individu benar-benar hadir dalam situasi tertentu. Mindfulness juga berarti suatu kegiatan akan menyadari secara penuh yang terjadi dalam diri individu secara sengaja dengan (niat) menyatukan pikiran, perasaan dan tubuh untuk fokus terhadap apa yang dilakukan. Mindfulness akan menjadikan kesadaran penuh dan memberi suatu pandangan yang positif terhadap sesuatu hal. Dengan kalimat yang sederhana, mindfulness merupakan menerima sepenuhnya tanpa penilaian.

Jon Kabat Zinn
, dalam “Bringing Mindfulness to Medicine”, yang dimuat dalam Advances in Mind-Body Medicine, Volume : 21(2), Tahun 2004, menyebutkan bahwa mindfulness adalah sebuah kesadaran yang diperkuat dengan memperhatikan secara berkelanjutan dan khusus yang disengaja, pada saat sekarang dan dengan tanpa menghakimi. Mindfulness melibatkan bagaimana seseorang melihat, merasakan, mengetahui, dan mencintai sesuatu hal yang difokuskan pada saat ini dan memfasilitasi keterpusatan (fokus) dan kesadaran yang lebih besar.

Selain itu, pengertian mainfulness atau kesadaran dapat juga dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • J.T. Wood, dalam “Komunikasi Interpersonal: Interaksi Keseharian”, menyebutkan bahwa mindfulness adalah kondisi di mana seseorang benar-benar hadir dalam situasi tertentu. Lebih lanjut, J.T. Wood menjelaskan bahwa mindfulness merupakan proses psikologis serta proses meditasi yang sanggup meningkatkan pemahaman serta atensi terhadap proses kognitif, emosi, serta pengalaman somatis dengan meningkatkan kemampuan nonjudmental dan penerimaan.

Hedonisme : Pengertian, Karakteristik, Jenis, Dampak, Dan Faktor Penyebab Hedonisme, Serta Kelebihan Dan Kekurangan Hedonisme

Pengertian Hedonisme. Secara etimologi, istilah “hedonisme” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “hedonismos” yang berakar dari kata “hedone” yang berarti kesenangan, kenikmatan, atau kegembiraan. Sehingga hedonisme dapat berarti gaya hidup yang berfokus mencari kesenangan dan kepuasan tanpa batas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme diartikan dengan pandangan yang menganggap bahwa setiap kesenangan dan kenikmatan dalam bentuk materi merupakan tujuan utama dalam hidup seseorang.

Sedangkan secara terminologi, istilah “hedonisme” diartikan sebagai suatu pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme juga dapat berarti suatu pandangan hidup yang mengajarkan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Sifat hedonisme adalah berusaha menghindari hal-hal yang menyakitkan atau menyusahkan dengan memaksimalkan perasaan-perasaan menyenangkan.

Selain itu, pengertian hedonisme juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Burhanuddin Salam, dalam “Etika Sosial Asas Moral Dalam Kehidupan Manusia”, menyebutkan bahwa hedonisme adalah sesuatu yang dianggap baik, sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya. Dengan kata lain, sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan, serta tidak menyenangkan merupakan sesuatu yang dinilai tidak baik.
  • Sarlito Wirawan Sarwono, dalam “Psikologi Remaja”, menyebutkan bahwa hedonisme adalah konsep diri, di mana gaya hidup seseorang dijalani sesuai dengan gambaran yang ada dipikirannya. Sebagai contoh pengertian hedonisme adalah seorang olahragawan, biasanya gaya hidup sehat merupakan prinsip hidup dan menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka.

Kejenuhan Belajar : Pengertian, Indikator, Aspek, Penyebab, Dan Tahapan Terjadinya Kejenuhan Belajar, Serta Cara Mengatasi Kejenuhan Belajar

Pengertian Kejenuhan Belajar. Setiap orang pasti pernah merasakan “kejenuhan”. Kejenuhan berasal dari kata dasar “jenuh” yang berarti jemu atau bosan. Sedangkan kata “kejenuhan” sendiri, secara harfiah berarti padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Seseorang yang mengalami kejenuhan, tentunya ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk dapat lepas dari tekanan atau kejenuhan tersebut.

Istilah “kejenuhan belajar” atau “learning plateu” dapat diartikan sebagai suatu kondisi mental siswa dalam rentang waktu tertentu, yang merasa malas, bosan, lesu, tidak bersemangat, serta tidak bergairah untuk melakukan aktivitas belajar. Kejenuhan belajar juga dapat berarti suatu kondisi emosional yang terjadi pada seorang siswa ketika merasa lelah, lesu, atau bosan akibat meningkatnya tuntutan belajar sehingga mengakibatkan kurang bergairah, kurang antusias, atau tidak mempunyai ketertarikan dalam melakukan aktivitas belajar.

Selain itu, pengertian kejenuhan belajar juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Thursan Hakim, dalam “Belajar Secara Efektif”, menyebutkan bahwa kejenuhan belajar adalah suatu kondisi mental seseorang saat mengalami rasa bosan dan lelah yang amat sangat sehingga mengakibatkan timbulnya rasa lesu tidak bersemangat atau hidup tidak bergairah untuk melakukan aktivitas belajar.
  • Muhibbin Syah, dalam “Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru”, menyebutkan bahwa kejenuhan belajar adalah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuannya.
  • A. Pines dan E. Aronson, dalam “Career Burnout: Causes and Cures”, menyebutkan bahwa kejenuhan belajar adalah kondisi emosional ketika seseorang merasa lelah dan jenuh secara mental maupun fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan terkait dengan belajar yang meningkat.

Konformitas : Pengertian, Karakteristik, Aspek, Jenis, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Konformitas

Pengertian Konformitas. Sebagai makhluk sosial, setiap manusia akan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan agar dapat bertahan hidup. Cara termudah adalah dengan melakukan tindakan yang sesuai dan diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Melakukan tindakan yang sesuai dengan norma dalam psikologi sosial disebut konformitas

Secara umum, konformitas merupakan suatu jenis pengaruh sosial di mana seorang individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Konformitas juga berarti perubahan perilaku atau kepercayaan menuju norma kelompok sebagai akibat tekanan kelompok yang real atau yang dibayangkan. J.P. Chaplin, dalam “Kamus Psikologi”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan konformitas adalah kecenderungan individu untuk memperoleh sikap dan tingkah laku yang sudah berlaku atau dianut oleh lingkungan sekitarnya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konformitas diartikan dengan :
  1. n persesuaian; kecocokan.
  2. Huk kesesuaian sikap dan perilaku dengan nilai dan kaidah yang berlaku.

Selain itu, pengertian konformitas dapat juga dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • David G. Myers, dalam “Psikologi Sosial”, menyebutkan bahwa konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan seseorang sebagai akibat dari tekanan kelompok.
  • David O. Sears, Jonathan L. Freedman, dan L. Anne Peplau, dalam “Psikologi Sosial”, menyebutkan bahwa konformitas adalah perilaku tertentu yang ditampilkan oleh seseorang karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut.
  • Sarlito Wirawan Sarwono, dalam “Psikologi Sosial, Psikologi Kelompok, dan Psikologi Terapan”, menyebutkan bahwa konfomitas adalah perilaku dari seorang individu yang sama dengan orang lain yang didorong oleh keinginannya sendiri.

Vandalisme : Pengertian, Jenis, Dampak, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Vandalisme, Serta Cara Mengatasi Vandalisme

Pengertian Vandalisme. Istilah vandalisme berkaitan dengan perilaku merusak, menghancurkan, dan lain sebagainya yang sifatnya merugikan, yang dilakukan secara sengaja pada obyek atau property, baik milik pribadi atau umum, tanpa sepengetahuan pihak yang punya atau yang terkait.

Istilah “vandalisme” pertama kali digunakan oleh Henri Grรฉgoire, untuk mendeskripsikan penjarahan dan perusakan seni selama Revolusi Prancis. Sedangkan dalam “National Geographic”, dijelaskan bahwa istilah “vandalisme” mengacu pada suku Vandal dari Jerman Timur yang menetap di Afrika Utara. Suku Vandal menjarah dan menghancurkan kota Roma pada tahun 455, yang dipicu oleh pembunuhan Kaisar Romawi Valentinian III, yang sebelumnya menjanjikan putrinya, Eudocia, untuk menikah dengan putra dari pemimpin kaum Vandal, Raja Genseric, sebagai bagian dari perjanjian damai.

Secara umum, vandalisme dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau perilaku yang melanggar peraturan, merugikan, serta merusak berbagai obyek lingkungan fisik dan lingkungan buatan, baik milik pribadi (private properties) maupun fasilitas atau milik umum (public amenities). Vandalisme juga berarti suatu perbuatan manusia yang dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja, dalam bentuk pengerusakan obyek atau benda yang biasanya bernilai atau memiliki unsur keindahan, seperti : karya seni, sastra, monumen bersejarah, dan lain sebagainya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), vandalisme diartikan dengan :
  1. n perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan lain sebagainya.
  2. perusakan dan penghancuran secara kasar dan ganas.


Selain itu, pengertian vandalisme juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

Dinamika Kelompok : Pengertian, Karakteristik, Unsur, Jenis, Tujuan, Dan Prinsip Dinamika Kelompok, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Dinamika Kelompok

Pengertian Dinamika Kelompok. Secara umum, dinamika kelompok dapat diartikan sebagai gerak atau kekuatan yang dimiliki sekumpulan orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan. Adanya dinamika kelompok menjadikan kualitas interaksi antar anggota dalam kelompok terjalin dengan baik sehingga dapat terjadi perubahan yang menjurus ke hal yang lebih baik.

Dalam “Kamus Psikologi”, karangan J.P. Chaplin, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan dinamika kelompok adalah suatu penyelidikan tentang hubungan sebab akibat di dalam kelompok, suatu penyelidikan tentang saling hubungan antar anggota di dalam kelompok, bagaimana kelompok terbentuk, dan bagaimana suatu kelompok bereaksi terhadap kelompok lain.

Selain itu, pengertian dinamika kelompok juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Slamet Sentosa, dalam “Dinamika Kelompok Sosial”, menyebutkan bahwa dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain; antar anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama-sama.
  • Muzafer Sherif, dalam “Intergroup Relation and Leadership: An Approach and Research in Industrial Ethnic Culture and Political Areas”, menyebutkan bahwa dinamika kelompok adalah unit sosial yang terdiri dari sejumlah individu yang mempunyai hubungan saling ketergantungan satu sama lain sesuai dengan status dan perannya secara tertulis atau tidak mereka telah mengadakan norma yang mengatur tingkah laku anggota kelompoknya.
  • Albert Sydney Hornby, dalam “The Advanced Learner's Dictionary of Current English”, menyebutkan bahwa dinamika kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang berkumpul atau ditempatkan secara bersama-sama atau secara alamiah berkumpul.

Dinamika Psikologis : Pengertian, Indikator, Dan Komponen Yang Mempengaruhi Dinamika Psikologis

Pengertian Dinamika Psikologis. Proses kehidupan psikis manusia selalu diikuti oleh tiga aspek psikologis, yaitu : aspek kognitif, aspek afektif atau emosional (perasaan), dan aspek konatif atau kemauan (hubungan interpersonal). Aspek kognitif berkaitan dengan persepsi, ingatan, belajar, berpikir dan problem solving. Aspek afektif berkaitan dengan emosi atau perasaan dan motif. Sedangkan aspek konatif berkaitan dengan perilaku seseorang yang meliputi hubungan interpersonal dan intrapersonal.

Istilah “dinamika psikologis” terbangun dari dua kata, yaitu “dinamika” dan “psokologis”. Dinamika merupakan suatu tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan yang terjadi, dan merupakan suatu faktor yang berkaitan dengan pematangan dan faktor belajar. Pematangan merupakan suatu kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya yang tidak mengerti terhadap objek kejadian. Sedangkan psikologis merupakan ilmu tentang perilaku atau aktivitas-aktivitas individu. Perilaku atau aktivitas-aktivitas tersebut dalam pengertian luas yaitu perilaku yang tampak atau perilaku yang tidak tampak, demikian juga dengan aktivitas-aktivitas tersebut di samping aktivitas motorik juga termasuk aktivitas emosional.

Secara umum, dinamika psikologis merupakan gambaran perubahan kondisi psikologis seseorang sebelum dan sesudah, yang dapat dilihat dari tingkah lakunya. J.P. Chaplin, dalam “Kamus Lengkap Psikologi”, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan dinamika psikologis adalah sebuah sistem psikologi yang menekankan penelitian terhadap hubungan sebab akibat dalam motif dan dorongan hingga munculnya sebuah perilaku. Sedangkan Bimo Walgito, dalam “Pengantar Psikologi Umum”, menjelaskan bahwa dinamika psikologis adalah suatu tenaga kekuatan yang terjadi pada diri manusia yang mempengaruhi mental atau psikisnya untuk mengalami perkembangan dan perubahan dalam tingkah lakunya sehari-hari baik itu dalam pikirannya, perasaannya maupun perbuatannya.

Harapan (Asa) : Pengertian, Komponen, Dan Indikator Harapan, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Harapan

Pengertian Harapan. Harapan atau asa, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan “hope” merupakan sesuatu yang dapat dibentuk dan dapat digunakan sebagai langkah untuk perubahan. Harapan terbentuk dari pengalaman hidup yang menekan, bergantung pada spiritualitas, dan pada saat yang bersamaan mempertahankan pemikiran rasional untuk menghadapi keadaan.

Secara umum, harapan dapat diartikan sebagai keseluruhan daya kehendak dan strategi yang terbentuk dari pengalaman, serta digunakan oleh individu untuk mencapai sasaran di masa yang akan datang. Harapan juga berarti suatu pemikiran yang dibentuk untuk mencapai tujuan atau keinginan, dengan menimbulkan energy sebagai motivasi yang menggerakkan individu melakukan langkah-langkah atau usaha-usaha yang telah dihasilkan. Harapan merupakan persepsi atau pemikiran individu dalam mengonseptualisasikan tujuan (goal) secara jelas, dengan menjadikan motivasi untuk meraih tujuan (agency) dan upaya mengembangkan strategi spesifik untuk mencapai tujuan tersebut di masa depan (pathways). Harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, tetapi diyakini bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), harapan diartikan dengan :
  1. sesuatu yang (dapat) diharapkan.
  2. keinginan supaya menjadi kenyataan.

Baca juga : Kualitas Pelayanan

Selain itu, pengertian harapan juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Charles Richard Snyder, dalam “The Psychology of Hope: You Can Get There From Here”, menyebutkan bahwa harapan adalah keseluruhan dari kemampuan yang dimiliki individu untuk menghasilkan jalur mencapai tujuan yang diinginkan, bersamaan dengan motivasi yang dimiliki untuk menggunakan jalur-jalur tersebut. Harapan merupakan proses dari pemikiran yang memiliki tujuan (goal), dengan motivasi untuk meraih tujuan tersebut (agency), dan upaya untuk meraih tujuan tersebut (pathways).

Psikologi Evolusioner (Evolutionary Psychology) : Pengertian Dan Prinsip Psikologi Evolusioner

Pengertian Psikologi Evolusioner. Psikologi evolusioner atau “evolutionary psychology” muncul sebagai akibat adanya keprihatinan dari perkembangan teori-teori psikologi yang saat itu sedang dalam situasi morat-marit. Psikologi evolusioner juga merupakan kritikan terhadap model ilmu sosial standar atau “standard social science model” yang dianggap ortodoks.

Model ilmu sosial standar mengibaratkan pikiran manusia sebagai tabula rasa, satu kotak kosong yang tidak berisi apa-apa sampai pengalaman akan mengisinya, di mana isi pikiran manusia ditentukan oleh sesuatu dari luar, yaitu dari lingkungan dan dunia sosial. Model ilmu sosial standar juga berpandangan bahwa arsitektur pikiran manusia didominasi oleh sejumlah mekanisme yang bersifat “general-purpose” dan “content-independent atau domain-general”. Mekanisme yang bersifat “general-purpose” tersebut diantaranya adalah belajar, induksi, inteligensi, imitasi, rasionalitas, dan budaya. Psikologi evolusioner mencoba mengganti model ilmu sosial standar dengan menunjukkan bahwa pikiran manusia terdiri dari sejumlah besar mekanisme yang secara fungsional bersifat khusus dan “domain specific”.

Secara umum, psikologi evolusioner dapat diartikan sebagai salah satu pendekatan dalam keilmuan psikologi yang digunakan untuk mengupas perilaku manusia menggunakan kacamata teori evolusi. Psikologi evolusioner juga berarti suatu cabang dari ilmu psikologi yang mencoba mempelajari potensi peran dari faktor genetis dalam beragam aspek dari perilaku manusia.


Selain itu, pengertian psikologi evolusioner dapat juga dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Leda Cosmides dan John Tooby, dalam “Evolutionary Psychology”, menyebutkan bahwa psikologi evolusioner adalah satu pendekatan terhadap psikologi yang menerapkan pengetahuan-pengetahuan dan prinsip-prinsip biologi evolusioner untuk meneliti struktur pikiran manusia. Menurut Leda Cosmides dan John Tooby, psikologi merupakan cabang biologi yang mempelajari otak dan bagaimana program-program pemrosesan informasi otak memunculkan perilaku. Oleh karena psikologi adalah cabang biologi, maka teori-teori, prinsip-prinsip, serta observasi-observasi dalam biologi evolusioner dapat dipergunakan untuk mempelajari psikologi.

Tahapan Pembentukan Perilaku Serta Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku

Perilaku merupakan seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku diartikan dengan tanggapan atau reaksi individu terhadap stimulus atau lingkungan.

Soekidjo Notoatmodjo
, dalam “Promosi Kesehatan Teori dan Perilaku”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Lebih lanjut, Soekidjo Notoatmodjo menyebutkan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas dari mahluk hidup yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, diantaranya : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, mengkonsumsi, membaca, menulis dan lain sebagainya.

Respon dari perilaku dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu :
  • bentuk pasif, merupakan respon internal yang terjadi dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat dari orang lain.
  • bentuk aktif, merupakan bentuk perilaku yang dapat diobservasi secara langsung


Tahapan Pembentukan Perilaku. Perilaku terbentuk dengan melalui beberapa tahapan. Burrhus Frederic Skinner menjelaskan bahwa untuk membentuk jenis respon atau perilaku diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang disebut “operant conditioning” yang terjadi melalui tahapan sebagai berikut :
  • melakukan identifikasi tentang hal-hal yang merupakan penguat atau reinforcer berupa hadiah-hadiah atau reward bagi perilaku yang akan dibentuk.
  • melakukan analisis untuk mengidentifikasi komponen-komponen kecil yang membentuk perilaku yang dikehendaki, kemudian komponen-komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
  • menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut.

Perilaku : Pengertian, Ruang Lingkup, Dan Bentuk Perilaku

Pengertian Perilaku. Secara umum, “perilaku” dapat diartikan sebagai seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku juga berarti hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkunganya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan.

Pengertian perilaku
juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

1. Soekidjo Notoatmodjo.
Soekidjo Notoatmodjo, dalam “Promosi Kesehatan Teori dan Perilaku”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perilaku adalah suatu respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Lebih lanjut, Soekidjo Notoatmodjo menyebutkan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas dari mahluk hidup yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas, diantaranya : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, mengkonsumsi, membaca, menulis dan sebagainya.

2. Burrhus Frederic Skinner.
Burrhus Frederic Skinner, dalam “The Behavior of Organisms an Experimental Analysis”, menjelaskan bahwa perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus. Pengertian ini dikenal dengan Teori S-O-R” atau “Stimulus-Organisme-Respon”. Respon dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
respondent respons atau refleksif adalah respon yang ditimbulkan oleh stimulus-stimulus tertentu yang disebut “electing stimuli”, karena menimbulkan respon-respon yang relatif tetap.
operant respons atau instrumental respons adalah respon yang timbul dan berkembangnya kemudian diikuti oleh stimulus yang lain yang disebut “reinforcing stimuli” atau “reinforce”, karena berfungsi untuk memperkuat respons.

Kelompok : Pengertian, Karakteristik, Jenis, Dan Fungsi Kelompok

Pengertian Kelompok. Secara umum, “kelompok” dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang mempunyai norma, nilai, dan tujuan yang sama, yang dengan secara sengaja dan juga teratur saling berinteraksi. Kelompok juga dapat berarti suatu kumpulan manusia yang terdiri dari dua orang atau lebih dengan pola interaksi yang nyata dan dapat membentuk satu kesatuan.

Pada dasarnya, kelompok merupakan sekumpulan orang yang mempunyai kepentingan dan beberapa landasan interaksi yang sama. Mereka saling terikat bersamaan dengan serangkaian hubungan sosial yang khas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kelompok diartikan dalam beberapa pengertian yaitu :
  1. n kumpulan (tentang orang, binatang, dan sebagainya).
  2. golongan (tentang profesi, aliran, lapisan masyarakat, dan sebagainya).
  3. gugusan (tentang bintang, pulau, dan sebagainya).
  4. Antr kumpulan manusia yang merupakan kesatuan beridentitas dengan adat-istiadat dan sistem norma yang mengatur pola-pola interaksi antara manusia itu.
  5. Pol kumpulan orang yang memiliki beberapa atribut sama atau hubungan dengan pihak yang sama.
  6. Kim kuantitas zat yang akan dimasak atau diolah dalam satu waktu.

Biasanya beberapa orang berkelompok dikarenakan beberapa alasan, diantaranya adalah :
  • keamanan. Seseorang yang bergabung ke dalam kelompok merasa lebih aman sebab tidak sendirian dalam menghadapi masalah ataupun ancaman.
  • status. Adanya anggapan dalam masyarakat bahwa jika bergabung dengan kelompok yang memiliki reputasi baik, maka status mereka akan meningkat di masyarakat.
  • harga diri. Merasa dihargai andai diterima sebagai anggota kelompok terutama pada kelompok-kelompok yang bergengsi tinggi.
  • afiliasi. Berafiliasi dengan kelompok bisa memenuhi keperluan seseorang bakal persahabatan dan hubungan sosial.
  • kekuatan. Sesuatu yang tidak dapat dijangkau sendiri, dapat dengan mudah dijangkau berkat kekuatan kelompok.

Ekonomi Politik : Pengertian Dan Pendekatan Ekonomi Politik, Serta Perbedaan Antara Ilmu Ekonomi Dan Ilmu Politik

Pengertian Ekonomi Politik. Secara umum, ekonomi politik merupakan ilmu sekaligus pendekatan yang bersifat multidisiplin dalam ilmu sosial yang berbasis pada dua sub disiplin, yaitu ekonomi dan politik, yang keduanya dapat diterjemahkan ke dalam beberapa konsep lain, misalnya : antara individu dan masyarakat, antara negara dan pasar, serta antara regulasi dan kebebasan. Ekonomi merupakan segala upaya dan daya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya guna mencapai suatu tingkat kemakmuran, sedangkan politik merupakan interaksi antara pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

Ekonomi politik dapat dilihat sebagai metodologi dalam lingkup kajian hubungan ekonomi dan politik. Hubungan itu dapat dilihat dari perilaku institusi politik yang bekerja menghasilkan suatu kebijakan ekonomi. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi politik merupakan studi interdisipliner yang mengacu pada ilmu ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik dalam menjelaskan bagaimana institusi politik, lingkungan politik, dan sistem ekonomi kapitalis, sosialis, komunis, atau sistem yang saling memengaruhi.

Ekonomi politik menunjukkan dua hal cara pandang, yaitu :
  1. Ekonomi politik (klasik) berdasar padasebuah teori yang meletakkan buruh'pekerja sebagai sumber dari nilai ekonomi. Teori ini (kritik ekonomi yang didasarkan pada profit motif) telah dibalik dan menyatakan bahwa keuntungan yang diperoleh berasal dari eksploitasi pekerja.
  2. Ekonomi politik mengacu pada studi relasi kuasa dan institusi-institusi dalam masyarakat, di mana mampu mempengaruhi cara mendapatkan dan menetapkan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia. Hematnya, studi tentang ekonomi yang didasarkan pada asumsi : apa yang sedang berlangsung dalam perekonomian dan pengaruh relasi kuasa sosial. Pada tradisi teoritis, relasi kuasa ini terjadi di antara negara-negara atau di antara bagian-bagian masyarakat itu sendiri.


Selain itu, pengertian ekonomi politik dapat juga dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

Pengalaman Belajar : Pengertian, Cara Menciptakan, Tipe, Prinsip, Dan Tahapan Pengembangan Pengalaman Belajar, Serta Faktor Yang Mempengaruhi Pengalaman Belajar

Pengertian Pengalaman Belajar. Istilah “pengalaman belajar” merupakan penggabungan dari dua kata : “pengalaman” dan “belajar”. Pengalaman dapat diartikan sebagai sesuatu yang pernah dialami, dijalani, maupun dirasakan yang kemudian disimpan dalam memori. Pengalaman juga dapat berarti kenyataan-kenyataan yang sifatnya empiris yang berdasarkan dari penemuan, percobaan, dan pengamatan yang telah dilakukan.

Sedangkan belajar merupakan perubahan perilaku sebagai fungsi pengalaman. Di dalamnya mencakup perubahan-perubahan afektif, motorik, dan kognitif yang tidak dihasilkan oleh sebab-sebab lain. Belajar juga berarti rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar didalam diri sesorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran. Secara kontekstual, belajar diharapkan mampu memberi pengalaman berkesan bagi siswa. Untuk itu proses pembelajaran tidak hanya menyertakan otak atau kemampuan kognitif, tetapi tangan, kaki, mata, dan indera lain juga terlibat secara aktif, sehingga kebermaknaan pengalaman belajar betul-betul dirasakan siswa.

Secara umum, istilah “pengalaman belajar” atau “learning experiences” dapat diartikan sebagai serangkaian proses dan peristiwa yang dialami oleh setiap individu, khususnya siswa dalam ruang lingkup tertentu (ruangan kelas) sesuai dengan metode ataupun strategi pembelajaran yang diberikan oleh masing-masing pendidik. Pengalaman belajar juga berarti sejumlah aktivitas siswa yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan kompetensi baru sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Wina Sanjaya, dalam “Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran”, menyebutkan bahwa pengalaman belajar adalah sejumlah aktivitas siswa yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan kompetensi baru sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

W. Ralph Tyler, dalam “Basic Principles of Curriculum and Instruction”, menyebutkan bahwa pengalaman belajar tidak sama dengan konten materi pembelajaran atau kegiatan yang dilakukan oleh guru. Menurut W. Ralph Tyler, istilah pengalaman belajar mengacu kepada interaksi antara pembelajar dengan kondisi eksternal di lingkungan yang dia reaksi. Berdasarkan pendapat tersebut, pengalaman belajar dapat dijelaskan bahwa :

Strategi Coping : Pengertian, Bentuk, Dan Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Coping

Pengertian Strategi Coping. Secara etimologi, istilah “coping” berasal dari bahasa Inggris, yaitu “ to cope with” yang berarti mengatasi atau menanggulangi. Sedangkan secara terminologi, istilah “coping” dapat berarti suatu usaha secara kognitif dan perilaku untuk mengatasi, mengurangi, dan tahan terhadap tuntutan-tuntutan (distress demands). Coping juga berarti cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam.

Coping memiliki beberapa unsur
sebagai berikut :
  • coping respond, merupakan perilaku kogitif atau fisik yang terjadi sebagai respon terhadap stresor yang dipersepsikan atau diarahkan untuk mengubah kejadian yang menyebabkan stres.
  • coping goal, merupakan tujuan yang ingin dicapai untuk menghilangkan atau mengurangi tingkat suatu stresor dan dapat mengubah suatu stresor.
  • coping out come, merupakan konsekuensi langsung dari respon coping, baik positif dan negative.

Berdasarkan hal tersebut, strategi coping dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan individu dalam rangka mengatasi dan mengontrol sumber stress. Strategi coping juga berarti suatu proses dinamis dari suatu pola tingkah laku maupun pikiran-pikiran yang secara sadar digunakan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan dalam situasi yang menekan dan menegangkan. Proses penyesuaian diri dimaksud berupa perilaku dan pikiran internal yang meliputi sumber daya, nilai-nilai yang dianut, serta komitmen sebagai upaya pertahanan diri dari tuntutan eksternal yang mengancam untuk memperoleh rasa aman dan menurunkan efek negatif yang ditimbulkan.


Selain itu, pengertian koping juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Rasmun, dalam “Stres, Koping, dan Adaptasi”, menyebutkan bahwa strategi coping adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang individu yang bertujuan untuk mengurangi tekanan baik fisik maupun psikologi yang dapat mengancam situasinya.