Seputar Baton Rouge, Louisiana, United State of America

Baton Rouge merupakan ibu kota negara bagian Louisiana, Amerika Serikat. Kota ini dikenal dengan julukan Red Stick, The Capital City, BR dan terkenal juga dengan semboyannya "Authentic Louisiana at Every Turn". Kota yang berada di sisi sungai Mississippi ini mempunyai luas sekitar 204,8 kilometer persegi, dan terletak di ketinggian 14 meter di atas permukaan air laut. Dari perhitungan data statistik terakhir (tahun 2010), jumlah penduduk Baton Rouge adalah sebanyak 229.553 jiwa. 

Secara geografis, wilayah Louisiana yang mempunyai luas lebih kurang 135.382 kilometer persegi tersebut, terletak di sebelah tenggara Amerika Serikat. Karena letaknya yang berdekatan dengan katulistiwa, maka Louisiana, terutama Baton Rouge, memiliki iklim semi tropis. Cuaca selalu hangat dari bulan Mei sampai bulan Oktober. Musim dingin di wilayah ini biasanya ringan dan pendek. Bahkan awal tahun 2018 ini daerah Baton Rouge mengalami turun salju setelah 9 tahun tidak pernah bersalju. Louisiana tercatat masuk  sebagai bagian dari negara Amerika Serikat pada tanggal 30 April 1812 atau wilayah ke-18 yang masuk dalam uni Amerika Serikat. Keunikan dari negara bagian Louisiana ini adalah Louisiana merupakan satu-satunya negara bagian di Amerika Serikat yang terdiri atas Parish (seperti wilayah Paroki dalam agama Katholik/Kristen), yang pemerintahan daerahnya setingkat dengan county.

Karena letaknya yang berada di tepian sungai Mississippi, pada masa lalu Baton Rouge dikenal sebagai kota pelabuhan. Dan pada jamannya, Baton Rouge  termasuk salah satu pelabuhan laut terbesar di Amerika Serikat, dan salah satu pintu masuk ke negara Amerika Serikat.

Pendakian Gunung Merapi

Gunung Merapi berada di antara Propinsi Jawa Tengah (masuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang) dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung dengan ketinggian 2.911 meter di atas permukaan laut ini termasuk dalam jenis stratovolcana dan  merupakan gunung berapi yang paling aktif di dunia. Karena statusnya tersebut, gunung Merapi sampai dengan saat ini banyak menarik para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, seperti geologi, geofisika, vulkanologi, biologi, dan lain-lain untuk melakukan penelitian mengenai kondisi dari gunung Merapi tersebut.

Ada beberapa jalur pendakian untuk sampai ke puncak Merapi, di antaranya Jalur Selo, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali dan jalur Kinahrejo, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sleman.

Jalur Selo. Jalur pendakian ini yang relatif paling aman untuk mencapai puncak Merapi. Selama dalam perjalanan pendaki dapat menikmati pemandangan gunung Merbabu yang terletak di sebelah Barat Laut jalur pendakian. Untuk mencapai Desa Selo, pendaki bisa melaluinya dari Muntilan yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan bus umum jurusan Boyolali. Selanjutnya dari Desa Selo perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali yang merupakan basecamp pendakian. Dari Dusun Plalangan perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Pendaki yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit melalui jalan beraspal. 

Pondok Pendaki ini merupakan titik awal pendakian ke puncak Merapi. Dari Pondok Pendaki menuju Pos I dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit, melalui jalan perkebunan tembakau dan kebun sayur penduduk sekitar, hingga kemudian memasuki jalur hutan pinus. Dari Pos I menuju Pos II dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit dengan medan bebatuan yang terjal, ditambah dengan hembusan angin yang cukup kencang. Selanjutnya dari Pos II perjalanan dilanjutkan ke Tugu, yang terletak di atas bukit, yang dapat ditempuh dalam waktu selama 1 jam 45 menit. Kemudian dari Tugu, perjalanan dilanjutkan menuju Pasar Bubrah (Plawangan) yang ditempuh dalam waktu selama 30 menit. Pasar Bubrah merupakan batas antara vegetasi dan bebatuan menuju puncak Merapi. Dari Pasar Bubrah menuju Puncak Garuda dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 30 menit dengan melalui medan bebatuan yang mudah longsor. Untuk sampai ke puncak Merapi sebaiknya pendaki berhati-hati. Disarankan perjalanan dari batas vegetasi menuju puncak Merapi sebaiknya dilakukan saat pagi hari, hal ini untuk menghindari kabut tebal dan asap belerang yang biasanya muncul pada saat siang hari. Dahulu Puncak Garuda merupakan puncak tertinggi dari gunung Merapi, tapi sekarang Puncak Garuda sudah terpotong akibat letusan dari gunung Merapi.

Pendakian Gunung Kinabalu

Gunung Kinabalu terletak di bagian utara Pulau Kalimantan atau tepatnya di dekat Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Gunung yang memiliki ketinggian 4.101 meter di atas permukaan laut tersebut termasuk jenis strato volcano, dan termasuk dalam bagian Taman Nasional Gunung Kinabalu yang memiliki luas sekitar 4.343 kilometer persegi. Taman Nasional Gunung Kinabalu berawal dari catatan pendakian Sir Hugh Low tahun 1851. Pada tahun 1962 pemerintah Malaysia mendirikan Sabah Park dengan tujuan untuk pelestarian alam. ilmu pengetahuan, dan sejarah agar dapat dinikmati masyarakat umum. Pada tahun 1964 Sabah Park berubah nama menjadi Kinabalu Park.

Gunung Kinabalu mempunyai keunikan tersendiri. Selain mempunyai banyak puncak, seperti Lows Peak, Lows Gully, King George Peak, King Edward Peak, Phalus Peak, Maslow Peak, Ugly Sister Peak, Kinabalu South Peak, St. Johns Peak, Alexandra Peak, St. Andrews Peak, West Peak, Dewalt Peak, Victoria Peak, Tsukushi Peak, Cirque Peak, North Peak, dan No Name Peak sepanjang perjalanan pendakian akan melewati hutan tipe Montana sampai tipe bebatuan sub alpine. 

Pendakian ke puncak Kinabalu (Lows Peak) dapat dilakukan melalui jalur Timpohon, Kota Kinabalu. Untuk sampai ke Timpohon, kalau dari Indonesia dapat melalui Kota Tarakan Kalimantan Utara menuju Nunukan. Selanjutnya dari Nunukan Kalimantan Utara perjalanan dilanjutkan menuju Tawau yang terletak di selatan Sabah Malaysia yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 6 jam. Dari Tawau perjalanan dilanjutkan menuju Kinabalu Park selama lebih kurang 11 jam. Sesampai di Kinabalu Park butuh waktu sekitar 15 menit perjalanan untuk sampai ke Timpohon (Timpohon Gate). Dari Timpohon inilah pendakian ke Lows Peak, puncak Kinabalu mulai dilakukan.

Pendakian Gunung Rinjani

Gunung Rinjani terletak di antara wilayah Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat. Gunung Rinjani yang mempunyai ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut ini termasuk di dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani yang mencakup luas 41.330 hektar. Dari bentuknya Gunung Rinjani termasuk jenis strato dengan danau kawah. Di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani terdapat berbagai macam tanaman dan hewan, antara lain cemara gunung atau Casuarina junghuhnniana, tanaman perdu atau Myrica javanica, dan edelweiss atau Anaphalis viscida untuk jenis tanaman. Sedangkan hewan yang banyak ditemui di Taman Nasional Gunung Rinjani di antaranya burung koakiu atau Philemon bucceroides, punglor, monyet, dan berbagai jenis ikan.

Gunung Rinjani pernah beberapa kali meletus. Letusan yang terjadi pada tahun 1994, mengakibatkan terjadinya pembentukan gunung baru yang berasal dari terangkatnya dasar danau Segara Anak. Gunung yang baru muncul tersebut dikenal dengan nama Gunung Baru atau Gunung Baru Jari. Gunung Baru ini berada pada ketinggian  antara 2.296 - 2376 meter di atas permukaan laut, yang terdiri dari bebatuan dan pasir, serta mempunyai kawah aktif seluas 170 meter x 200 meter.

Pendakian ke Gunung Rinjani dapat dilakukan dengan melalui beberapa jalur pendakian. Jalur pendakian yang populer atau sering dilalui oleh para pendaki gunung adalah jalur Sembalun Lawang dan Jalur Senaru. Sedangkan satu jalur pendakian lain yaitu jalur Torean relatif jarang dilalui oleh para pendaki gunung. Jalur Torean ini akan menyatu dengan jalur Senaru, tepatnya di Kodok Putih.

Jalur Sembalun Lawang. Rute yang bisa ditempuh jika akan mendaki Gunung Rinjani melalui jalur pendakian Sembalun Lawang adalah dengan menuju Desa Sembalun Lawang. Dari Aikmel perjalanan ditempuh dengan menggunakan minibus selama lebih kurang dua jam. Pendakian akan di mulai dari Kantor Pusat Informasi yang terletak di dekat gapura pintu masuk Gunung Rinjani. Untuk mempersiapkan pendakian, para pendaki bisa beristirahat terlebih dahulu di salah satu rumah pegawai Taman Nasional Gunung Rinjani, yang tidak jauh dari pintu masuk Gunung Rinjani. 

Menikmati Keindahan Gunung Bromo

Gunung Bromo merupakan gunung berapi aktif yang mempunyai ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut. Termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Bromo masuk dalam empat wilayah kabupaten yang berbeda, yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo. Gunung yang mempunyai kaldera seluas 10 kilometer persegi ini, terkenal dengan lautan pasir dan keindahan sunrise-nya.

Sebagai tempat tujuan wisata, gunung Bromo tidak hanya terkenal di Indonesia tapi juga dikenal di manca negara.  Selain hawa pegunungan yang sejuk, lautan pasir Bromo merupakan salah satu hal yang diminati oleh banyak wisatawan. Dan yang paling ditunggu dari gunung Bromo tentu saja pemandangan saat matahari terbit dan saat matahari tenggelam. Menikmati matahari terbit di Bromo, kita akan disuguhi suatu pemandangan alam yang begitu indah.

Perjalanan menuju gunung Bromo dapat ditempuh melalui tiga jalur yang berbeda :
  1. Dari arah Pasuruan, merupakan pintu gerbang barat dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pintu masuk melalui desa Tosari menuju lautan pasir yang merupakan pusat obyek wisata ini terbilang cukup berat, jalur turunan dari Penanjakan ke arah lautan pasir sangatlah curam.
  2. Dari arah Malang, jalur ini sangat jarang dilalui oleh wisatawan. Rute yang harus ditempuh adalah dari Malang - Tumpang - Pronojiwo hingga sampai ke pertigaan Jemplang.  Dari pertigaan Jemplang ini, ambil arah ke utara untuk memasuki lautan pasir Bromo. Ini merupakan gerbang selatan dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jika anda berjiwa petualang, jalur ini sangatlah cocok untuk anda.  Sepanjang perjalanan akan disuguhi dengan pemandangan padang rumput (sabana) dan bunga yang luas, sebelum akhirnya sampai ke lautan pasir Bromo.  Tidak ada rumah penduduk jika melalui jalur ini.
  3. Dari arah Probolinggo, jalur ini merupakan pintu gerbang utara dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jalur yang banyak dilewati oleh para wisatawan karena medannya yang terbilang mudah. Rute yang harus ditempuh dari Probolinggo - Tongas - Sukapura - Cemoro Lawang. Melalui rute ini kita akan banyak menemukan rumah persinggahan.
Jika anda penggemar fotografi, dan ingin mengabadikan keindahan saat matahari terbit seperti yang banyak ditampilkan di foto-foto yang banyak dijumpai di media sosial, sebaiknya anda melalui pintu gerbang barat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Cilacap Kota Sejarah

Cilacap termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah, di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar yang masuk wilayah Propinsi Jawa Barat, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas, dan di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen. Akses transportasi ke Cilacap tidaklah sulit, bisa ditempuh dengan perjalanan darat baik melalui jalur utara ataupun jalur selatan Pulau Jawa. 

Jika menyebut kota Cilacap, pastilah memori kita akan teringat pada Pulau Nusa Kambangan, tempat penjara narapidana kelas kakap di Indonesia. Tempat yang untuk sebagian orang terasa menyeramkan. Sebagian orang mungkin juga sudah tahu, kalau di kota Cilacap ini  banyak tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi, terutama tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah dalam perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan. 

Saat anda memutuskan untuk berwisata ke Cilacap, hal terpenting yang mesti diperhatikan untuk kenyamanan anda adalah masalah pakaian. Karena Cilacap termasuk panas, jadi bawalah pakaian yang mudah menyerap keringat. Apabila anda berniat berkunjung ke Cilacap atau kebetulan melewati kota Cilacap, jangan lewatkan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata berikut ini :

1. Pulau Nusa Kambangan.
Pulau Nusa Kambangan merupakan kawasan pantai selatan Cilacap, yang dipisahkan oleh Selat Segara Anakan. Meskipun pulau ini terkenal dengan tempat para narapidana kasus-kasus besar di Indonesia, tapi Nusa Kambangan juga menyimpan banyak tempat wisata yang menarik. Perjalanan ke pulai ini juga tidak sulit. Dengan penyeberangan selama 10 menit dari Pantai Teluk Penyu menggunakan perahu nelayan, anda bisa sampai ke Pulau Nusa Kambangan. Tempat wisata yang ditawarkan di pulau ini adalah wisata pantai. Pemandangan pantainya sangat indah. Dengan berjalan kaki, anda bisa berjalan menembus pepohonan hijau di pulau ini. Jalanan yang berliku dengan medan naik turun, akan membuat anda merasakan sensasi petualangan yang seru, ditambah lagi kesadaran anda bahwa di Pulau Nusa Kambangan ini merupakan tempat penjara narapidana kelas kakap di Indonesia. 

Berwisata di Kota Tarakan Kalimantan Utara

Tarakan merupakan kota terbesar di Propinsi Kalimantan Utara.  Dengan luas wilayah sekitar 250,80 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 239.787 jiwa. Kota Tarakan dikenal dengan julukan Bumi Paguntaka. Secara geografis, kota Tarakan yang terletak di ujung utara ini, memiliki banyak tempat yang indah karena dikelilingi oleh beberapa pantai. Di sebelah utara berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Pulau Bunyu, dan di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pulau Bunyu dan laut Sulawesi.

Tarakan tidak hanya identik dengan kota penghasil minyak, di kota ini banyak dijumpai tempat wisata yang  dapat dikunjungi. Kawasan Wisata Mangrove dan Bekantan misalnya, merupakan tempat wisata hutan yang segar dan sejuk. Di tepat dengan luas hampir 21 hektar ini banyak menyimpan kekayaan alam Kalimantan. Di tempat ini kita bisa melihat banyak burung dan satwa khas dari pulau Kalimantan. Belum lagi ratusan jenis pohon yang sengaja ditanam di area tempat wisata ini. Jadi selain berwisata menikmati keindahan alam Kalimantan, kita juga sekaligus belajar untuk lebih mengenal keaneka-ragaman alam Kalimantan.

Tempat wisata lain di Tarakan yang bisa dikunjungi diantaranya adalah :
  • Merian Kuno Trengganuk. Meriam ini merupakan penginggalan Raja Tarakan, AP Jamalul Kiram, terletak di Jalan Sumatra Tarakan.
  • Rumah Tangsi Atap Lengkung. Rumah tangsi ini dibangun pada tahun 1945 oleh tentara Australia setelah merebut kota Tarakan dari tangan Jepang. Rumah ini  terletak di kawasan perumahan Kampug Baru atau tepatnya di jalan Danau Jempang, Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan Tengah. 

Nusa Lembongan, Wisata Air Dan Budaya Di Tenggara Pulau Bali

Nusa Lembongan terletak di sebelah tenggara pulau Bali, kurang lebih dua kilometer dari dari arah barat laut Nusa Penida yang terletak di Selat Badung. Nusa Lembongan termasuk dalam wilayah Kabupaten Klungkung, Bali.

Untuk menuju ke Nusa Lembongan, kita harus menggunakan sebuah kapal dari pelabuhan Benoa. Perjalanan laut itu memakan waktu kurang lebih  satu jam. Untuk lebih memudahkan perjalanan wisata ke Nusa Lembongan, ada baiknya kita ikut paket wisata yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan jasa wisata. Kita bisa memilih paket wisata yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan wisata tersebut. Hanya yang perlu diperhatikan semakin kita banyak memilih paket wisata, harganya akan semakin mahal.

Sekedar saran, ada baiknya anda memilih paket wisata di kapal Ponton, kapal besar yang berlabuh di dekat Nusa Lembongan, paket wisata kunjungan ke desa, atau kedua paket wisata tersebut. Dengan mengambil dua paket wisata tersebut, anda bisa berwisata air di kapal ponton sekaligus jalan-jalan ke Nusa Lembongan. 

Anda akan dijemput oleh petugas kapal tersebut pagi hari. Sebelum menaiki kapal, seorang petugas akan memotret anda. Fota itu nantinya akan dibagikan secara gratis pada sore harinya. Selama dalam perjalanan menuju Nusa Lembongan dengan kapal ponton tersebut, akan disediakan berbagai makanan dan minuman, sekaligus hiburan musik. Bagi anda yang hobi menyanyi, anda bisa juga menyanyi atau sekedar menari (berdansa) selama dalam perjalanan menuju Nusa Lembongan.

Gedong Songo, Wisata Alam Dan Sejarah

Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran atau tepatnya di Desa Candi, Kabupaten Semarang. Udara yang sejuk dengan pemandangan hijau hamparan rumput dan pepohonan membuat tempat ini sangat cocok untuk liburan keluarga.

Nama Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa. Gedong yang berarti bangunan, dan songo yang artinya sembilan. Nama tersebut menggambarkan bahwa di lokasi tersebut ada sembilan bangunan candi yang merupakan tempat peribadatan umat Hindu. Letak antara satu candi dengan candi yang lain masing-masing berjauhan, dengan medan pegunungan, sehingga kita bisa melakukan penjelajahan sambil menikmati pemandangan hijaunya hutan pinus di area candi.

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menjelajahi seluruh sudat candi. Yang pertama, kita bisa menyewa kuda. Dan yang kedua, kita bisa berjalan kaki untuk menyusuri candi demi candi  melalui jalan setapak. Area Candi Gedong Songo ini seperti lingkaran yang memiliki titik-titik istirahat berupa candi. Jika kita berjalan dari pintu depan, maka perjalanan kita akan berakhir di jalan keluar yang juga merupakan pintu depan tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana luasnya area Candi Gedong Songo tersebut. Menjelajahi area Candi Gedong Songo membuat pikiran kita melayang pada kemegahan sejarah tempat itu.

Sam Poo Kong, Jejak Laksamana Cheng Ho

Sam Poo Kong, kompleks bangunan klenteng yang berada di Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di jalan Simongan, Kelurahan Bongsari, Semarang. Melalui klenteng Sam Poo Kong, bisa dilihat adanya akulturasi budaya dan kerukunan umat beragama di Semarang.

Adalah Laksamana Cheng Ho atau Zheng He atau dikenal juga dengan nama Haji Mahmud Shams adalah seorang pelaut dan penjelajah dari Tiongkok yang hidup pada tahun 1405 sampai 1433. Di samping sebagai seorang Laksamana, Cheng Ho juga merupakan seorang penyebar agama Islam di tempat-tempat yang ia singgahi. Termasuk di Semarang, dan klenteng Sam Poo Kong  adalah salah satu peninggalannya. 

Klenteng Sam Poo Kong atau juga dikenal dengan Gedung Batu dibangun oleh anak buah Laksamana Cheng Ho yang menetap di Semarang untuk memperingati pendaratan Cheng Ho di Semarang. Di depan pendopo yang berbentuk rumah joglo berwarna merah, terletak sepasang Dwarapala yang merupakan patung raksasa penjaga gerbang yang banyak terdapat di candi dan bangunan lain di Jawa, yang merupakan simbol kebaikan dan kejahatan, dengan makna bahwa manusia harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat.

Keberadaan rumah joglo dan patung Dwarapala di kompleks Klenteng Sam Poo Kong merupakan bukti adanya akulturasi budaya Jawa di dalam kompleks bangunan klenteng. Di sebelah selatan halaman klenteng terdapat gerbang besar dengan gaya China. Di plaza depan bangunan klenteng, terdapat patung-patung panglima perang kekaisaran China, sedangkan di halaman klenteng terdapat patung raksasa Laksamana Cheng Ho yang menjulang tinggi. Di sebelah barat halaman klenteng dengan dibatasi oleh taman dan kolam air mancur, berjajar tiga bangunan tempat ibadah.

Wisata Sejarah Di Taman Arkeologi Pulau Onrust

Bagi para penikmat wisata sejarah, khususnya di wilayah Jakarta, pulau Onrust tentunya sudah tidak asing lagi. Pulau Onrust yang terletak di Kepulauan Seribu ini memang dikenal sebagai pulau sejarah. Di pulau inilah Belanda mendirikan bangunan di wilayah laut Jakarta. 

Pada abad ke 17 sampai abad ke 18, pulau Onrust menjadi tempat berlabuh dan bongkar muat barang kapal-kapal VOC dari berbagai penjuru Asia, Afrika, hingga Eropa. Reruntuhan bangunan di pulau Onrust kebanyakan adalah sisa bangunan tempat karantina haji pada tahun 1911 - 1933. Selama karantina masyarakat yang hendak naik kapal laut menuju Mekkah harus tinggal di pulau ini selama lima hari, bahkan kadang lebih lama lagi. Selain digunakan sebagai karantina haji bangunan ini juga dimanfaatkan oleh Belanda sebagai penjara politik. Beberapa orang yang pernah ditahan di pulau Onrust ini, di antaranya adalah pemberontak di kapal Zeven Provincien dan juga tawanan ketika pecah perang antara Jerman dan Belanda pada tahun 1939. Pada tahun 1940, orang-orang Jerman yang dituduh terlibat gerakan Nazi pun dikurung di pulau Onrust ini. Demikian juga pada masa pendudukan Jepang, Onrust menjadi penjara bagi para penjahat kelas kakap.

Banyak cerita memilukan berkaitan dengan penderitaan yang dialami oleh para penghuni pulau Onrust pada masa itu. Banguna yang sempit, tidak sebanding dengan banyaknya tawanan yang dikirim ke pulau Onrust ini. Sehingga banyak dari mereka saling membunuh, hanya untuk mendapatkan sedikit tempat di ruang penjara.

Taman Nasional Lorentz, Situs Warisan Alam Dunia

Nama Taman Nasional Lorentz mungkin tidak seterkenal Taman Nasional Pulau Komodo, Bunaken, Raja Ampat, atau bahkan Kebun Raya Bogor. Padahal Taman Nasional Lorentz yang merupakan obyek wisata yang terletak di Propinsi Papua ini mempunyai pesona alam yang luar biasa.

Lorentz merupakan satu dari tiga kawasan di dunia yang memiliki gletser di daerah tropis. Wilayahnya membentang dari puncak gunung Jaya Wijaya hingga tepi perairan laut Arafura. Gunung Jaya Wijaya sendiri, merupakan gunung tertinggi di Indonesia yang pada puncaknya diselimuti salju abadi. 

Taman Nasional Lorentz telah diakui oleh dunia internasional. Melalui kekayaan dan keanekaragaman hayatinya, Taman Nasional Lorentz telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan alam dunia.

Sejak dahulu, pemerintah Belanda telah melihat dan menilai bahwa alam dan hutan yang ada di wilayah Papua tersebut sangat potensial. Hal tersebutlah yang menjadi sebab, pada tahun 1916, kawasan itu diresmikan sebagai monumen alam dengan nama Lorentz. Selanjutnya pada tahun 1978, pemerintah Indonesia menetapkan Lorentz sebagai daerah cagar alam, dan terakhir diresmikan sebagai taman nasional pada tahun 1997.

Kototinggi, Desa Yang Pernah Menjadi Ibu Kota Negara Indonesia

Masyarakat Indonesia pasti sudah mengetahui bahwa Yogyakarta dan Bukittinggi pernah menjadi ibukota negara Republik Indonesia. Tapi pastinya tidak banyak yang tahu bahwa bukan Bukittinggi yang dimaksud sebagai ibukota negara Republik Indonesia saat Pemerintah Darurat Republik Indonesia terbentuk pada tahun 1948, melainkan Kototinggi.

Kototinggi merupakan desa kecil yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tepatnya sekitar 50 kilometer dari pusat kota Payakumbuh. Daerah yang cukup terpencil, dengan jalan yang berkelok-kelok serta tebing tinggi menjadi pemandangan utama perjalanan menuju ke Kototinggi. Desa Kototinggi inilah yang digunakan Sjafruddin Prawiranegara untuk memimpin Indonesia selama Soekarno dan Mohamad Hatta ditahan dan diasingkan ke pulau Bangka oleh pemerintah Belanda. 

Pada saat itu Soekarno menyuruh Sjafruddin Prawiranegara yang merupakan pejabat pemerintahan untuk menyelamatkan Indonesia. Oleh Soekarno, Sjafruddin Prawiranegara ditunjuk menjadi ketua atau presiden sementara Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Agar tidak terlacak oleh pemerintah Belanda, Sjafruddin Prawiranegara memilih Kottotinggi sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Bersama-sama dengan masyarakat setempat, ia merakit peralatan radio untuk dipancarkan ke negara-negara di luar Indonesia. Melalui siaran radio tersebut, Sjafruddin Prawiranegara menyampaikan ke dunia luar bahwa negara Republik Indonesia tetap ada walaupun Presiden dan Wakil Presiden ditangkap oleh pemerintah Belanda.

Taman Nasional Komodo

Pulau Komodo terletak di antara pulau Sumbawa dan Flores. Taman Nasional Komodo yang diresmikan tahun tahun 1980 ini bertujuan untuk memelihara kelangsungan hidup hewan purba naga Komodo atau dalam bahasa latin disebut Varanus komodoensis dan menjada keaneka ragaman hayati pulau Komodo secara keseluruhan, baik di darat maupun di laut. Tahun 1986, pulau Komodo diresmikan sebagai Situs Pusaka Dunia oleh UNESCO.

Pulau Komodo pertama kali didatangi orang asing pada tahun 1911. Ekspedisi yang dipimpin oleh ilmuwan Belanda J.K.H. Van Steyen tersebut langsung menyimpulkan bahwa pulau Komodo menyimpan harta karun yang tidak ternilai. Penduduk yang tinggal di pulau ini kebanyakan adalah nelayan dari Bima Sumbawa, Manggarai Flores, dan Bugis Sulawesi Selatan.

Suku asli Komodo adalah orang Ata Modo, masih ada sampai sekarang. Hanya saja mereka tidak lagi seratus persen berdarah Ata Modo, melainkan sudah campuran. Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah orang-orang KOmodo. Dalam sebuah literatur dinyatakan bahwa orang Komodo dulu pernah pernah diperintah oleh Kasultanan Bima.

Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga pulau utama, yaitu Komodo, Rinca, dan Padar. Sementara pulau-pulau kecil tersebar sampai sejauh 1.817 kilometer. Selain komodo, taman ini juga menjadi habitat beberapa mahkluk endemik, seperti ayam kaki kuning, tikus, dan kijang timor. Untuk kekayaan laut, pulau Komodo terkenal dengan terumbu karang, rumput laut, bukit-bukit bawah laut, dan teluk-teluk tersembunyi. Habitat laut tersebut dihuni oleh lebih dari 1.000 spesies ikan, 260 jenis koral, dan 70 jenis bunga karang.

Selama 35 tahun tanam nasional berdiri, ada berbagai ancaman yang membayangi kelestarian alam Komodo. Ancaman-ancaman itu paling banyak berasal dari manusia, yang populasinya semakin hari semakin membengkak. Penangkapan ikan dengan dinamit dan sianida telah menghancurkan habitat koral dan bunga karang di perairan Komodo.

Pendakian Gunung Ciremai

Gunung Ciremai dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut, merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung ini bertipe stratovolcano, sedangkan menurut lokasinya, gunung Ciremai termasuk Solitier Volcano. Secara administratif gunung Ciremai terletak di antara Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan. 

Untuk pendakian ke puncak Ciremai dapat ditempuh melalui 3 jalur, yaitu jalur Linggarjati Kabuapten Cirebon, jalus Palutungan Kabupaten Kuningan, dan jalur Apuy kabupaten Majalengka. Pada umumnya, para pendaki lebih menyukai jalur Linggarjati untuk menuju ke puncak Ciremai, walaupun medannya sangat terjal tapi relatif lebih aman.

1. Jalur Linggarjati.

Untuk menuju Desa Linggarjati, dari terminal Cirebon naik angkutan umum ke Cilimus, kurang lebih memakan waktu 45 menit dan dilanjutkan ke gedung Perjanjian di desa Linggarjati dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Jarak dari gedung Perjanjian ke basecamp sekitar 1 kilometer, dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Untuk memulai pendakian, perjalan dimulai dari Desa Linggarjati melewati jalan aspal, sebelum melewati medan tanah di antara hutan pinus menuju pos Cibunar yang ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Di pos Cibunar akan ditemui banyak warung makan, karena pos ini adalah lokasi perkemahan saat musim liburan anak-anak sekolahan.

Pendakian Gunung Gede - Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede-Pengrango mempunyai dua puncak, yaitu Puncak Gede dengan ketinggian 2.958 m dpl dan Puncak Pangrango dengan ketinggian 3.019 m dpl. Taman nasional ini diminati oleh banyak kalangan, seperti pecinta alam dan ilmuwan (ahli botani, zoologi, vulkanologi, dan geologi).  Curah hujan di Taman Nasional ini relatif tinggi, yaitu rata-rata mencapai 3.000 sampai 4.200 mm per tahun. Gunung Gede-Pangrango secara administratif terletak di beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Bogo, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi. Dari bentuknya, gunung Gede termasuk jenis strato atau berbentuk kubah dan merupakan gunung aktif. Sedang gunung Pangrango berbentuk segitiga runcing, merupakan gunung api yang sudah tidak aktif lagi.

Untuk melakukan pendakian puncak gunung Gede-Pangrango dapat dilakukan dengan melalui beberapa jalur, yaitu :

1. Jalur Cibodas.

Jalur Cibodas merupakan jalur pendakian paling favorit, sehingga banyak dilalui oleh para pendaki. Untuk ke Cibodas, dapat ditempuh lewat Jakarta maupun Bandung. Dari Jakarta ke Cimacan, jurusan Cipanas dengan bus selama lebih kurang 2 jam, kalau tidak macet. Jaraknya sekitar 89 km. Sedangkan dari Bandung ke Cimacan dapat ditempuh dengan menggunakan bus jurusan Bogor, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam 30 menit, kalau tidak macet, dengan jarak sekitar 100 km. Dari Cimacan ke Cibodas dilanjutkan dengan naik minibus selama lebih kurang 30 menit, dengan jarak lebih kurang 4 km.

Sebaiknya pendaki yang akan naik mengurus perijinan jauh hari sebelumnya, mengingat peraturan di Taman Nasional Gede-Pangrango sangat ketat. Aturan yang ditetapkan, pengurusan ijin dilakukan minimal 3 hari sebelum pendakian. Jumlah pendaki gunung Gede-Pangrango dibatasi sampai dengan 500 orang. Dengan perincian jalur Cibodas sebanyak 300 orang, Jalur Gunung Putri 100 orang, dan jalur Silabintana maksimal 100 orang. Semua perijinan harus diurus melalui Kantor Taman Nasional Gede-Pangrango, yang terletak di depan Pasar Cibodas, Jalan Raya Cibodas PO Box 3 Sdl Cipanas, Cianjur 43253 Indonesia. Telepon (0255)512776, Faximile (0255)519415. Sedangkan Kantor Pusat Informasi yang terdapat di masing-masing jalur pendakian hanya berfungsi sebagai pos pemantau saja.

Pendakian Gunung Salak

Gunung Salak mempunyai tujuh puncak, Tapi hanya dua puncak saja yang sering di daki, yaitu Puncak Gunung Salak I dengan ketinggian 2.800 m dpl dan Puncak Gunung Salak II dengan ketinggian 2.211 m dpl. Secara administratif, gunung Salak masuk dalam wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Dari bentuknya, gunung Salak termasuk dalam gunung stratovolcano, yaitu gunung yang mempunyai beberapa kawah, yaitu : Kawah Ratu I, Kawah Ratu II, Kawah Paeh (kawah mati), dan Kawah Hurip (hawah hidup).

Jalur Pendakian Gunung Salak :
  • Jalur Cimelati. Untuk melakukan pendakian menuju ke Puncak I, ada beberapa jalur pendakian yang dapat dilalui, salah satunya jalur Cimelati, Cicurug. Untuk mencapai Cimelati, dari terminal Baranangsiang, Bogor, pilih bus jurusan Sukabumi, dan turun di Cimelati. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam, dengan jarak yang ditempuh sekitar 40 km. Pendakian dari Cimelati menuju puncak, pada umumnya ditempuh dalam waktu 5 jam, melalui hutan yang masih tergolong rimbun. Di perjalanan akan ditemui 3 buah air terjun, hanya sayangnya air tejun ini hanya dpat dinikmati pada musim penghujan saja. Pada musim kemarau sumber mata air sangat sulit didapatkan di jalur ini. Dari Puncak I, pada malam hari akan disuguhi pemandangan indah, dari kejauhan lampu kota Jakarta terlihat nyata.