Kesulitan Belajar : Pengertian, Indiktor, Dan Bentuk Kesulitan Belajar, Serta Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Pengertian Kesulitan Belajar. Kemampuan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah berbeda-beda, baik dalam hal menerima pelajaran, menyerap pelajaran, maupun keduanya. Perbedaan kemampuan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut mengakibatkan adanya perbedaan tingkah laku belajar setiap siswa, sehingga menimbulkan kesulitan dalam belajar.

Secara umum, istilah kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menimbulkan hambatan dalam proses belajar siswa. Adanya hambatan tersebut menyebabkan seorang siswa mengalami kegagalan atau setidak-tidaknya kurang berhasil dalam mencapai tujuan belajar. Mulyadi, dalam “Diagnosa Kesulitan Belajar dan Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Khusus”, mengartikan kesulitan belajar dalam beberapa pengertian, sebagai berikut :
  • learning disorder atau ketergangguan belajar, yaitu keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan.
  • learning disabilities atau ketidak-mampuan belajar, yaitu ketidak-mampuan seseorang yang mengacu kepada gejala dimana seseorang tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajarnya dibawah potensi intelektualnya.
  • learning disfunction atau ketidak-fungsian belajar, yaitu menunjukkan gejala di mana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda subnormalitas mental, gangguan alat indera atau gangguan psikologis lainnya.
  • under achiever atau pencapaian rendah, yaitu mengacu pada seseorang yang memiliki tingkat potensi intelektual diatas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
  • slow learner atau lambat dalam belajar, yaitu seseorang yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu dibandingkan seseorang yang lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

Anak Lamban Belajar (Slow Learner) : Pengertian, Karakteristik, Klasifikasi, Dan Faktor Penyebab Lamban Belajar, Serta Cara Mengatasi Anak Lamban Belajar (Slow Learner)

Pengertian Lamban Belajar. Istilah lamban belajar atau “slow learner” atau disebut juga dengan “backward” merupakan istilah yang biasa disematkan untuk seorang anak yang tidak mampu atau mengalami hambatan belajar sesuai dengan kelompok usianya. Mereka tidak dapat menyerap materi pelajaran dengan mudah, lambat dalam memahami, lebih lambat dalam menyelesaikan tugas, serta pencapaian prestasi hasil jauh di bawah teman-temannya.

Anak yang lamban belajar atau slow learner termasuk anak yang mengalami kelemahan kognitif. Mereka membutuhkan waktu belajar lebih lama dibanding dengan sebayanya. Anak dengan kelemahan kognitif membutuhkan pengulangan tambahan untuk mempelajari keterampilan atau ilmu baru, tetapi masih dapat belajar dan berpartisipasi di sekolah umum dengan bantuan dan modifikasi tertentu.

Dijelaskan dalam “Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengajaran Departemen Pendidikan Nasional” bahwa anak lamban belajar atau slow learner merupakan anak yang mempunyai keterbatasan intelektual dengan IQ rata-rata di bawah anak normal. Pengertian anak lamban belajar atau “slow learner” juga dapat dijumpai dalam beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :
  • Nani Triani dan Amir, dalam “Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow Learner)”, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak lamban belajar adalah anak yang memiliki prestasi belajar rendah atau sedikit di bawah rata-rata anak normal pada salah satu atau seluruh area akademik dan mempunyai skor tes IQ antara 70 sampai 90.
  • G. Lokanandha Reddy, R. Ramar, dan A. Kusuma, dalam “Slow Learner : Their Psychology and Instruction”, menjelaskan bahwa anak lamban belajar merupakan anak yang memiliki prestasi belajar rendah atau sedikit di bawah rata-rata anak normal pada salah satu atau seluruh area akademik. Anak lamban belajar juga merupakan anak yang tidak dapat mengerjakan tugas yang seharusnya dapat dikerjakan oleh anak seusianya, dan kebanyakan anak lamban belajar mengalami masalah dalam pelajaran membaca dan berhitung.

Keterlambatan Bicara (Speech Delay) : Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Dan Faktor Penyebab Keterlambatan Bicara, Serta Cara Mengatasi Keterlambatan Bicara

Pengertian Keterlambatan Bicara. Keterlambatan bicara atau "speech delay" merupakan istilah umum yang digunakan untuk merujuk pada proses keterlambatan bicara dan berbahasa yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak. Atau dengan kata lain, keterlambatan bicara atau "speech delay" adalah kondisi di mana perkembangan bahasa dan bicara seorang anak tidak sesuai dengan urutan perkembangan yang seharusnya atau lebih lambat dari anak yang tidak memiliki gangguan keterlambatan bicara..

E.B. Hurlock
, dalam bukunya yang berjudul "Perkembangan Anak", berpendapat bahwa yang dimaksud dengan keterlambatan bicara atau speech delay adalah suatu kondisi di mana tingkat perkembangan bicara seorang anak berada di bawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umurnya sama, yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan kata.

Pertanyaannya adalah kapan seorang anak bisa dikatakan mengalami keterlambatan bicara atau speech delay ? Biasanya, apabila setelah berumur dua tahun seorang anak belum mampu mengucapkan kata, maka anak tersebut dapat dikatakan mengalami keterlambatan dalam bicara atau speech delay.


Ciri-Ciri Keterlambatan Bicara. Seorang anak yang mengalami keterlambatan bicara dapat dilihat dari adanya ciri-ciri sebagai berikut :
  • pada saat lahir, anak tidak respon terhadap suara, tidak minat untuk berinteraksi dengan orang lain.
  • pada usia 4 bulan, anak tidak mau berkomunikasi harusnya sudah mulai membuat suara.
  • pada usia 6 bulan anak tidak melirik, tidak menoleh terhadap sumber suara yang datang dari belakang atau samping, tidak respon terhadap panggilan namanya.

Memberi Hukuman Pada Anak

Masing-masing anak mempunyai sifat dan perilaku yang berbeda-beda. Seringkali orang tua akan merasa jengkel atau bahkan marah saat melihat anaknya nakal atau terlalu aktif hingga susah dikendalikan. Tidak jarang orang tua akan menghukum anak dengan mencubit atau memarahi mereka.

sumber : sayangianak.com
Anak-anak, terutama anak yang berusia di bawah lima tahun, merupakan masa di mana anak memiliki rasa keingintahuan yang besar, akibatnya anak akan mengeksplorasi hal-hal baru yang dilihatnya. Mulai dari terus menerus menanyakan hal-hal baru tersebut, menjelajah tempat-tempat yang baru dikenalnya, hingga apabila hal baru tersebut berbentuk barang, anak akan mengambil bahkan membanting barang tersebut. Apa yang dilakukan oleh anak tersebut, seringkali membuat orang tua menjadi lepas emosinya, kemudian menghukum atau memarahi anak tersebut.

Menghukum anak, sepanjang itu untuk pembelajaran dan dilakukan sampai dengan batas-batas tertentu, tentunya tidak menjadi masalah. Apa yang dilakukan orang tua, menghukum atau memarahi anak, sebenarnya bentuk untuk memberitahukan konsekuensi atas kelakuan anak yang dianggap  tidak pada tempatnya. Orang tua yang normal, dalam memberikan hukuman pada anak, tentunya tidak dimaksudkan untuk melakukan kekerasan. Hanya saja, terkadang dilakukan dengan cara yang berlebihan hingga menyakiti si anak, baik secara fisik maupun secara emosional dengan cara verbal.

Bentuk kekerasan pada anak ada dua macam, yaitu :
  • Secara fisik, biasanya berupa mencubit, memukul, atau hukuman apapun yang dapat melukai secara fisik.
  • Secara non fisik, dilakukan dengan cara memarahi atau membantak anak secara keras, sehingga melukai dan membakas di hati dan perasaan si anak.
Apapun bentuknya, tindak kekerasan pada anak akan membuat anak merasa tidak nyaman dan akan mempengaruhi perkembangan emosinya ketika si anak dewasa, tergantung dari intensitas tindak kekerasan yang dilakukan.

Gangguan Perkembangan Berbahasa Pada Anak

Di dalam otak, proses bicara merupakan proses yang majemuk. Mulai dari proses mendengar, merekam kata, mengerti, mengucapkan, serta menggunakan dengan tepat dalam situasi sosial yang tepat. Semua proses tersebut merupakan fungsi otak. Pada anak yang mendapat gangguan bicara,  rangkaian proses tersebutlah yang mengalami gangguan.

Lokasi pusat bicara pada manusia ada di bagian kiri otak, sedangkan untuk imajinasi dan penghayatan dalam bicara ada di bagian kanan otak. Agar dapat berbahasa dengan baik, kedua bagian tersebut harus seimbang. Jika yang berkembang hanya bagian kiri saja maka penuturan bahasanya kurang bagus. Gangguan tersebut bukanlah penyakit dan tidak menimbulkan gangguan medis lain, hanya saja gangguan perkembangan bahasa  tersebut biasanya akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak. Seperti kemampuan kognitif atau kepandaian, sosialisasi, serta emosinya menjadi terbatas.

Gangguan perkembangan berbahasa pada anak, umumnya meliputi :

  1. Gangguan perkembangan artikulasi atau gangguan fonetik, adalah kemampuan mengucapkan kata yang tidak sesuai dengan usia mental seseorang. Dalam perkembangannya, seorang anak yang berusia 6 - 7 bulan seharusnya sudah bisa bergumam. Usia 4 tahun, pengungkapan suara sudah jelas, hingga huruf yang paling sulit diucapkan sekalipun, seperti huruf R. Usia 7 tahun, penguasaan untuk mengucapkan suara sudah nyaris penuh. Usia 12 tahun, penguasaan berbahasa anak sudah sempurna. Apabila di usia tersebut anak belum mampu berbahasa yang baik, dapatlah dikatakan anak tersebut mengalami gangguan perkembangan artikulasi.

Bahasa Tubuh Pada Bayi

Pada umumnya saat bayi dilahirkan akan ditandai dengan suara tangisan. Orang tua akan kebingungan bila saat bayi dilahirkan tidak menangis. Sampai beberapa bulan usia bayi, dia akan menggunakan tangisan sebagai alat komunikasi dengan orang tua dan orang-orang disekitarnya. Kalau diperhatikan sepintas, suara tangisan bayi terlihat dan terdengar sama, padahal setiap bunyi dan gaya tangisan bayi memberi pesan yang berbeda-beda.

sumber : Alodokter.com
Oleh sebab tangisan bayi mempunyai pesan yang berbeda-beda, maka orang tua yang mempunyai bayi mesti mengamati dan mempelajari arti tangisan bayinya. Karena belum bisa bicara, bayi akan menangis bila ia akan menyampaikan sesuatu kepada orang tuanya. Apakah karena ia lapar, sakit, popoknya basah, dan lain sebagainya.

Tangisan merupakan hal umum yang akan dilakukan oleh kebanyakan bayi sebagai alat komunikasi dengan orang tuanya. Tapi tahukah orang tua, bahwa selain tangisan, bayi juga menggunakan bagian anggota tubuhnya untuk berkomunikasi atau menyampaikan pesannya, terutama apabila bayi mengalami rasa sakit.

Untuk itu orang tua juga mesti memahami arti gerakan anggota tubuh bayi (bahasa tubuh), pesan apa yang bayi akan sampaikan pada orang tuanya. Berikut beberapa bahasa tubuh bayi saat ia mengalami sesuatu :
1. Mata.
Ketika mengalami rasa sakit, mata bayi biasanya akan tertutup sebagian. Di sekitar mata akan tampak banyak kerutan. Hal ini tergantung kadar sakitnya. Semakin luar biasa sakitnya, matanya akan tertutup rapat walaupun ia tidak sedang tidur. Maksudnya adalah untuk menghalangi dunia di luar dirinya. Usaha untuk menutup mata, membuat kelopak matanya akan berkedip-kedip.
2. Mulut.
Garis kerutan tajam di sekitar mulut dibarengi bibir yang terkatub rapat merupakan pertanda rasa sakit yang tengah dialami. Dan apabila sakitnya luar biasa, mulut bayi akan terbuka secara tidak wajar.

Gejala Diabetes Pada Anak

Selama ini kita mengenal penderita diabetes adalah orang yang berusia di atas 40 tahun, yang memiliki riwayat keluarga dengan diabetes militus atau pada mereka yang pola hidupnya tidak sehat. Tapi jangan salah, penyakit diabetes juga bisa menyerang anak-anak. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat. Setiap tahun angka penderita penyakit diabetes  ini semakin bertambah, dan saat ini belum juga ada obat yang bisa menawarkan kesembuhannya. Satu-satunya pengobatan yang dijalani oleh penderita diabetes adalah dengan menyuntikkan insulin ke dalam tubuh penderita serta mengatur pola makan agar gula darah dalam tubuh penderita tetap terjaga.

Ada beberapa tipe diabetes yang dikenal, yang terbagi menurut penyebab dasar penyakit diabetes ini, yaitu sebagai berikut :
  1. Diabetes Melitus Tipe 1 atau yang biasa disebut  Insuline Dependent Deabetic Mellitus (IDDM). Pada umumnya tipe diabetes ini menyerang anak-anak hingga usia remaja. Penyebab dasarnya adalah karena adanya kerusakan atau kesalahan genetik pada sel pankreas sehingga sistem imun terganggu, yang berakibat tidak bisa menghasilkan hormon insulin. Penderita diabetes tipe 1 ini sangat tergantung dengan insulin dari luar.
  2. Diabetes Melitus Tipe 2. Biasanya tipe diabetes ini disebabkan oleh karena kurang mampunya tubuh dalam merespon insulin, sehingga tubuh tidak mampu memanfaatkan insulin yang dihasilkan oleh organ pankreas. Ketidakmampuan tubuh dalam memanfaatkan hormon insulin ini sering kali dikarenakan sel-sel tubuh bersaing dengan sel-sel lemak dalam tubuh. Diabetes tipe ini perkembangannya sangat lambat, 
  3. Diabetes Melitus Tipe 3. Diabetes tipe ini merupakan gabungan antara diabetes melitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2. Penyebab utamanya adalah karena tubuh penderita mengalami resisten terhadap hormon dari luar, terutama karena suntikan insulin yang terus menerus seperti pada penderita diabetes melitus tipe 1, sehingga penderita sekaligus juga menderita diabetes melitus tipe 2. Penyebab lain bisa juga karena penderita diabetes tipe 2 terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan untuk memancing produksi hormon insulin lebih banyak, sehingga menyebabkan pankreas menjadi lelah dan akhirnya rusak. 

Dari berbagai tipe penyakit diabetes tersebut dapat diketahui bahwa diabetes melitus tidak semata-mata masalah genetis atau keturunan. Diabetes bisa juga karena faktor dari luar, seperti pola makan yang tidak sehat, lingkungan, dan aktivitas yang dilakuakan.  Bisa jadi anak-anak terkena diabetes meskipun orang tuanya tidak memiliki riwayat penyakit diabetes tersebut.  

Manfaat Permainan Tradisional Untuk Anak

Permainan tradisional merupakan alat bermain yang sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun temurun. Walau terlihat sederhana, banyak manfaat yang bisa didapat dari permainan tradisional ini. Sebenarnya ada banyak jenis permainan tradisional, bahkan bisa dikatakan setiap daerah atau setiap suku punya permainan tradisional sendiri, yang khas.

Dari sekian banyak yang ada, berikut ini beberapa jenis permainan tradisional dengan segala manfaatnya bagi anak :

1. Bekel.
Bekel merupakan permainan yang menggunakan bola yang terbuat dari karet. Ukuran bola bervariasi, dari yang kecil hingga agak besar. Warna dan motifnya juga biasanya beragam. Selain menggunakan bola, bekel juga menggunakan enam buah biji berbentuk khusus. Permainan ini umumnya dimainkan oleh nak-anak perempuan ketika mereka pulang sekolah atau saat senggang. Permainan ini bisa bersifat kompetitif karena cocok untuk dipertandingkan dengan aturan yang dibuat oleh pemainnya. Manfaat bermain bekel :
  • Meningkatkan daya pikir anak. Saat hendak menyebar biji bkel, pemain harus mempunyai strategi bagaimana caranya agar biji-biji tersebut berada di posisi yang tidak berjauhan agar tidak sulit saat mengambilnya. Dengan begitu anak akan berpikir terlebih dahulu bagaimana caranya ia dapat melakukan sesuatu dengan cepat dan tepat.
  • Melatih anak untuk terampil dan cekatan. Saat bola dilempar, pemain harus menyebarkan biji dan setelah bola memantul pemain harus segera menangkap bola itu kembali. Kemudian bola dilemparkan kembali dan setelah bola memantul ke lantai, pemain harus mengambil biji tersebut satu persatu. Ini tentu dapat melatih anak agar terampil dan sekatan dalam melakukan sesuatu.

Mengatasi Luka Akibat Perceraian Pada Anak

Perceraian merupakan kejadian yang dapat membuat anak stress dan trauma. Sebagian anak memang mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan baik, perceraian orang tua mungkin tidak menyebabkan masalah berkepanjangan. Namun  tidak demikian untuk anak-anak lain. Tidak sedikit anak yang gagal beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi dalam keluarga akibat perceraian. Akibatnya, efek psikologis yang terjadi saat anak-anak tersebut akan terbawa hingga dewasa.

Beberapa perilaku yang biasa ditunjukkan anak saat orang tuanya bercerai di antaranya adalah sebagai berikut :
  • Anak akan menjadi pribadi yang pemurung dan pendiam. Mereka akan cenderung menarik diri dalam pergaulannya karena merasa malu pada teman sebayanya.
  • Anak akan mengalami gangguan belajar sehingga prestasinya akan menurun.
  • Akan akan menjadi mudah emosi atau marah dan lebih sensitif terhadap segala hal yang dialaminya. Hal ini terjadi biasanya karena merasa kehilangan kepercayaan pada orang tua dan orang-orang di sekitarnya.
  • Anak akan mencoba hal-hal yang sifatnya negatif. 
  • Anak dapat mengalami kemunduran mental.
  • Anak akan sering menyalahkan diri sendiri, serta sulit memaafkan orang lain.
  • Pada bebarapa kasus perceraian, efek psikologis akan paling terasa pada anak adalah rasa marah. Rasa marah ini dirasakan pada dirinya sendiri maupun kepada orang tuanya. Kemarahan yang meluap pada anak akan menimbulkan sikap agresif, sementara kemarahan yang selalu terpendam akan membuat anak mempunyai kecenderungan menjadi sosok yang pemurung, pendiam, dan selalu menarik diri dari pergaulan sosialnya.

Banyak yang harus dipertimbangkan sebelum orang tua mengambil keputusan untuk berpisah. Tapi jika keputusan berpisah tersebut memang menjadi jalan satu-satunya, maka sebaiknya orang tua terlebih dahulu menginformasikan hal tersebut kepada anaknya. Sampaikan keputusan tersebut dengan cara hati-hati dan pada kondisi dan waktu yang tepat, sehingga hal tersebut tidak membuat anak menjadi shock.

Mendidik Anak Disiplin Dan Sesuai Gender

Mendidik anak tidak hanya cukup dengan di sekolahkan. Peran orang tua dalam mendidik anak lebih utama, karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah. Kepribadian dan watak anak terbentuk dari rumah, tergantung bagaimana orang tua mendidiknya.

gambar : konfrontasi.com
Mendidik anak merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain karena masing-masing keadaan dan proses tersebut akan saling berkaitan. Manusia memerlukan pola pendidikan yang menyeluruh yang itu semua akan bermuara pada satu tujuan. Dalam mendidik anak, mungkin ada beberapa hal atau kegiatan dan keadaan yang bisa dimunculkan untuk mereka akan tetapi tetap harus satu tujuan. Apa yang diperoleh anak dari lingkungan sekolah merupakan pelengkap dari pendidikan dasar yang telah diajarkan oleh orang tua.

Dalam hal melatih dan membentuk anak untuk disiplin, pertama kali orang tua mesti memahami terlebih dahulu arti tentang disiplin. Apakah disiplin yang berarti kepatuhan terhadap peraturan atau disiplin yang berarti kepatuhan terhadap aturan kehidupan ? Sehingga yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam melatih dan mengajari anak untuk menjadi manusia yang memiliki kedisiplinan adalah sebagai berikut :
  • Membiasakan diri sendiri (orang tua) untuk senantiasa disiplin dalam pengertian konsisten dengan apa yang dibicarakan, jangan sampai orang tua membiasakan pada anak untuk berbohong walaupun itu dengan tujuan baik.
  • Membiasakan memberi contoh perilaku disiplin secara langsung.
  • Orang tua perlu memahami kejiwaan anak diusianya, karena jika tidak maka yang muncul adalah hal yang berlawanan dari yang dikehendaki atau kontraproduktif.
  • Anak dilatih berdisiplin di berbagai kegiatan kehidupan, misalnya dengan memberikan tanggung jawab dari merapikan tempat tidur, mencuci pakaian sendiri, dan lain-lain.

Karakter Anak Manja Dan Melatih Anak Untuk Tidak Manja

Setiap manusia mempunyai karakter masing-masing. Dan karakter manusia tersebut sangat berpengaruh pada prilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga dengan anak. Orang tua mesti mengetahui bagaimana karakter anaknya, sehingga dengan demikian orang tua akan dapat mengawasi dan membimbing si anak dengan baik dan benar.

gambar : ayahbundaku.com
1. Karakter Anak Manja.

Sifat manja berbeda dengan bermanja-manja. Sifat manja cenderung negatif, tapi tidak demikian dengan bermanja-manja. Kadang kala anak minta kepada orang tuanya untuk dicium atau dipangku, hal tersebut merupakan perilaku dari anak yang menunjukkan si anak ingin bermanja-manja dan mencari kehangatan dari orang tuanya. Perilaku anak bermanja-manja seperti tersebut justru bagus, karena bisa mendekatkan hungungan antara anak dan orang tua secara emosi. Beda dengan anak manja, yang segalanya harus dituruti, dan seolah-olah semua orang harus bekerja untuk dia. Sifat manja akan merugikan diri anak itu sendiri. Anak-anak yang bersifat manja biasanya mempunyai karakter sebagai berikut :
  • Sering merasa tertekan di area publik. Karena terbiasa diperlakukan istimewa di rumah, dan semua orang rumah terbiasa melayani kebutuhannya, maka anak manja akan merasakan tertekan di luar rumah, karena tidak ada orang yang melayani dan memperlakukannya dengan isstimewa.
  • Sulit bekerja sama dengan orang lain. Anak manja selalu hanya fokus pada dirinya sendiri, mereka cenderung masa bodoh dengan orang lain.
  • Banyak mengeluh. Karena tidak terbiasa melakukan urusannya sendiri, maka anak manja akan selalu mengeluh apabila ditinggalkan oleh orang-orang yang biasa melayaninya.
  • Kurang disukai oleh teman-temannya. Hal ini disebabkan karena anak manja cenderung mau menang sendiri dan egois.

Memilih Mainan Anak-Anak Berdasarkan Usia Yang Tidak Membahayakan Anak

Dunia anak-anak sangat identik dengan mainan. Tapi apakah semua mainan bisa dimainkan dan sesuai dengan anak-anak ? Jawabnya pasti tidak. Dalam memilih dan membelikan mainan untuk anak-anak sebaiknya disesuaikan dengan usia anak, karena hal tersebut berkaitan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan pendidikan anak-anak itu sendiri.

gambar : ibumuda.com
A. Mainan Anak-Anak Berdasarkan Usia dan Perkembangannya.

Berikut adalah macam-macam mainan sesuai dengan usia dan perkembangan anak :

1. Bayi (usia 0 - 12 bulan)
Untuk anak yang masih bayi, sebaiknya berikan mainan yang sifatnya pengenalan segala macam hal, karena bayi masih belum tahu apa-apa.  Dalam  pemilihan mainan buat anak bayi, yang perlu dipertimbangkan adalah :
  • Warna yang digunakan pada mainan haruslah warna asli atau warna dasar, bukan warna gradasi. Misalnya, warna merah, perkenalkan yang benar-benar warna merah, jangan warna merah marun atau merah muda (pink), atau warna biru, pilih yang benar-benar warna biru jangan biru tosca.
  • Bentuk mainan haruslah jelas. Misalnya lingkaran, kubus, balok, atau segitiga.
  • Tekstur mainan carilah yang kontras. Tujuannya adalah agar anak bisa mengenali perbedaan yang ada. Misalnya tebal tipis, keras lembut, dan lain-lain.

2. Batita (bayi berusia di bawah 3 tahun/1 - 3 tahun)
Untuk usia anak batita, berikanlah permainan yang sedikit agak rumit dibandingkan mainan untuk bayi, baik itu mengenai warna atau bentuknya. Anak usia batita bisa diajarkan untuk mencocokkan warna dan bentuk, karena pada usia batita haruslah mulai diajarkan daya ingat dan konsentrasi. Contoh mainan yang sesuai untuk anak usia batita misalnya puzzle. Pilihlah puzzle yang sederhana, yang terdiri dari dua sampai empat potong. Yang terpenting adalah mainan tersebut mesti dapat menstimulus daya ingat dan konsentrasi si anak, jangan memilih permainan yang membuat anak menjadi bosan.

Dampak Negatif Televisi Bagi Anak

Televisi merupakan salah satu sumber informasi dan hiburan. Televisi juga sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga di Indonesia. Bagi anak-anak menonton televisi sudah masuk dalam jadwal keseharian yang harus dilakukan. Tanpa pengawasan yang memadai dari orang tua, bisa jadi anak-anak akhirnya akan menjadi tergila-gila menonton tayangan televisi.

gambar : jendelaberita.com
Dari banyak penelitian yang telah dilakukan, hasilnya membuktikan bahwa menonton televisi memiliki banyak dampak negatif bagi anak-anak. Kecenderungan anak-anak yang suka meniru adegan tokoh pujaannya yang ditontonnya di televisi, tidak jarang memnimbulkan akibat negatif pada diri si anak sendiri maupun pada lingkungannya.

Beberapa dampak negatif jika anak terlalu sering menonton  televisi, di antaranya adalah sebagai berikut :
  • Membuat renggang hubungan anak dengan orang tua atau anggota keluarga yang lain. Kebanyakan menonton televisi akan menghabiskan waktu si anak. Sehingga kesempatan untuk berkumpul dengan orang tua atau anggota keluarga yang lain menjadi berkurang. Lebih lagi apabila masing-masing anggota keluarga sibuk menonton acara televisi yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda pula, tentunya hak ini akan semakin menjauhkan hubungan antara sesama anggota keluarga. Hal ini tentunya akan berakibat kurang baik bagi perkembangan psikis maupun sosial si anak.

Menghadapi Anak Indigo

Indigo sebenarnya merujuk pada nama warna antara biru dan ungu yang sering pula disebut nila. Anak-anak yang memiliki aura nila atau indigo dianugerahi kelebihan, khususnya kemampuan indera keenam. Anak-anak ini memang berbeda, tetapi bukan 'tidak normal'. Ada beberapa tes atau pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk kemudian bisa mengatakan bahwa anak tersebut termasuk anak indigo atau bukan.

gambar : spiritualcleansing.org
Secara fisik anak-anak indogo tidak berbeda dengan anak-anak yang lain, tetapi secara psikis pada umumnya mereka lebih dewasa dibanding usianya. Mereka sering memperlihatkan sifat orang dewasa, cerdas, dan memiliki indera keenam yang tajam. Rasa ingin tahunya begitu besar dan cepat sekali mengekspresikan perasaan emosional mereka di saat-saat tertentu. Kepekaannya yang kuat terkadang membuat mereka mampu merasakan suatu hal yang tidak lazim ataupun melihat hal-hal yang belum terjadi. Pada umumnya mereka enggan diperlakukan seperti anak-anak dan bahkan tidak jarang mereka sering memberi nasehat.

Anak indigo pada umumnya eksploratif dan banyak energi. Di sekolah, anak-anak indigo bisa saja menjadi pribadi yang lebih menonjol daripada anak-anak lainnya. Tetapi belum tentu hal tersebut berhubungan dengan prestasi di sekolah. Bisa jadi menonjol dengan kenakalan atau perilaku-perilaku yang dianggap mengganggu. Karena gambaran yang agak berbeda dibandingkan dengan anak-anak lainnya, anak indigo sering dianggap 'aneh'. Akibatnya penanganannya sering kali menjadi salah dan berdampak pada perkembangan sang anak. 

Hal utama yang perlu dilakukan orang tua yang mempunyai anak indigo adalah bagaimana membuat anak indigo disiplin dan belajar tentang perilaku yang bisa diterima atau tidak. Tidak perlu memberi respon yang berlebihan, tetapi lakukan pendampingan secara umumsebagaimana kepada anak lainnya. Anak indigo harus diberikan pemahaman tentang apa yang sedang mereka alami.

Sifat Pemalu Dan Solusinya

Pemalu merupakan salah satu sifat dari manusia. Di satu sisi, sifat pemalu merupakan hal yang positif, tapi di sisi lain sifat pemalu bisa juga merupakan hal yang negatif. Apabila sifat pemalu tersebut si rasa telah mengganggu perkembangan dan kemajuan mental seseorang, tentunya harus segera dicarikan solusinya.

gambar : katalogbunda.com
1. Anak Pemalu dan Solusinya.

Karakter masing-masing anak berbeda-beda, ada kecenderungan anak yang pemberani namun ada juga anak yang punya kecenderungan penakut, pemalu, dan lain sebagainya. Hal tersebut terbentuk disebabkan oleh lingkungan tempat si anak tinggal, terutama peran dari orang tua.
Suatu hal yang wajar bila anak merasa malu ketika bertemu dengan orang yang baru dikenal, tampil di depan orang banyak, masuk ke kelas sekolah baru, atau berkenalan dengan orang baru. Menghadapi situasi baru atau orang-orang baru tersebut  memang bukan hal yang nyaman untuk seorang anak.
Anak bisa disebut pemalu bila terdapat tanda-tanda perilaku, antara lain :
  • Menghindari kontak mata dengan orang lain.
  • Menyembunyikan wajah.
  • Menarik diri.
  • Tidak banyak bicara, bila ditanya hanya menjawab "ya" atau 'tidak".
  • Tidak mau ikut kegiatan di kelas.
  • Tidak mau minta pertolongan  atau bertanya pada orang yang tidak dikenal.
  • Enggan bila harus "tampil".
Bila beberapa perilaku tersebut terlihat, besar kemungkinan ia memerlukan waktu untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan, atau kebanyakan orang menyebut dengan kata pemalu. Anak pemalu berbeda dengan anak sulit bergaul. Memang betul, pemalu bisa membuat anak agak terhambat bergaul, tetapi sulit bergaul tidak selalu disebabkan karena pemalu. Contohnya :
  • Anak yang mau menang sendiri, tidak bisa bekerja sama, atau juga kurang terampil bersosialisasi bisa berimbas menjadi sulit bergaul.

Pengetahuan Seputar Balita

Anak-anak akan tumbuh dan berkembang. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya tersebut, seringkali terjadi permasalahan yang membuat orang tua merasa kuatir. Berikut ini beberapa permasalahan seputar balita. di antara adalah :

1. Merangkak, Satu Tahapan dalam Perkembangan Anak.

Merangkak merupakan tahapan perkembangan motorik yang mesti dilakukan oleh anak manusia. Biasanya bayi mulai belajar merangkak mulai usia 6 - 9 bulan. Hanya saja orang tua sekarang banyak yang tidak tahu pentingnya merangkak bagi perkembangan anak. Para orang tua tersebut maunya si anak cepat bisa berdiri dan berjalan. Sehingga banyak bisa kita lihat, anak-anak yang seharusnya pada tahapan merangkak, distimulus untuk berdiri dengan cara badan bayi diangkat dan kaki-kakinya diarahkan menapak ke paha orang tuanya. Sehingga ketika itu dilakukan terus menerus maka bayi akan lebih cepat berkemampuan berdiri, karena bayi tidak dikenalkan dengan model merangkak. Padahal merangkak merupakan salah satu tahapan perkembangan manusia, yang diantaranya adalah untuk :
  • Menstimulus koordinasi otak kanan dan kiri sehingga dapat melatih organ-organ tubuh yang terdiri dari kanan dan kiri, diantaranya mata, telinga, tangan, kaki, dan juga melatih koordinasi otak kanan dan kiri untuk bekerja sesuai fungsinya secara maksimal.
  • Merangkak menurut para ahli juga dapat meningkatkan proses respon terhadap lingkungan.
  • Menguatkan otot lengan sendi dan leher bayi sehingga anak terlatih memiliki kekuatan otot lengan dan tangan. 
  • Meningkatkan kepekaan saraf telinga, perkiraan, penglihatan.
Saat bayi merangkak, ia akan lebih bisa cepat bereksplorasi sehingga bayi butuh kewaspadaan penglihatan sekitar, pendengaran, dan upaya memahami lingkungan. Apabila bayi sampai umur 10 bulan atau lebih belum bisa merangkak, orang tua bisa melatihnya untuk merangkak, diantaranya dengan cara :

Membuat Anak Gemar Berolah Raga Serta Memilih Olah Raga Untuk Anak

Dunia anak-anak lebih banyak digunakan untuk bermain. Ada baiknya orang tua mengarahkan kegiatan anak tersebut tidak hanya untuk sekedar bermain, arahkan ke kegiatan yang lebih positif, misalnya berolah raga. Olah raga selain membuat badan anak sehat, dengan olah raga juga bisa untuk menyalurkan bakat dan prestasi anak. Hanya saja sebagai orang tua, kita mesti bisa membuat anak suka dengan olah raga dan bisa memilih jenis olah raga apa yang sesuai dengan anak kita.

A. Membuat Anak Gemar Berolah Raga.

Selain membuat tubuh menjadi sehat, olah raga merupakan cara yang ampuh untuk membuat anak-anak terlibat dalam aktivitas sosial. Tidak semua anak menyukai olah raga, dibutuhkan trik-trik khus untuk membuat anak menyukai olah raga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk membuat anak gemar berolah raga, di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Pilih jenis olah raga yang anak sukai.
Salah satu cara yang efektif membuat anak senang berolah raga adalah dengan memilih kegiatan olah raga yang memang ia sukai. Jadi anak tidak merasa terpaksa dan terbebabi saat menjalankan aktivitas olah raganya tersebut.

2. Mendukung minat anak.
Ketahuilah jenis olah raga apa yang membuat anak tertarik. Sebagai orang tua, tugasnya adalah mendukung, jika perlu ikut sertakan anak dalam klub olah raga yang dipilihnya itu. Usahakan untuk selalu mendapingi anak dalam setiap pertandingan yang diikutinya. Untuk menyemangati anak, berilah pujian kepadanya apapun hasil yang diraihnya.Tunjukkan sebagai orang tua, anda bangga terhadapnya.

Tes IQ Buat Anak, Masihkah Dibutuhkan ?

Kecerdasan manusia tidak hanya terlihat pada kecerdasan otak saja, akan tetapi juga bisa dilihat dari kecerdasan emosi dan spiritual. Hanya saja sering kali, sebagai orang tua lebih mengedepankan kecerdasar otak si anak, daripada kecerdasan emosi dan spiritual.

IQ atau yang biasa dikenal dengan Intelligence Quotient adalah satuan pengukuran kecerdesan (inteligensi), sebagaimana kilogram untuk pengukuran berat atau kilometer untuk pengukuran jarak. Oleh karena penyebutan tes IQ merupakan kesalahkaprahan yang terjadi di masyarakat, yang lebih tepat adalah dengan penyebutan tes kecerdasan atau tes inteligensi yang nantinya hasilnya berupa skor IQ.

Penting tidaknya tes inteligensi tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Tes inteligensi akan menjadi penting, kalau hal tersebut merupakan persyaratan untuk suatu hal tertentu. Namun menjadi tidak penting kalau tes inteligensi  hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.

Inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungan secara efektif. Jadi inteligensi merupakan proses berpikir yang bersifat terpusat. Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sementara dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan yang spesifik ini memberikan individu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan, yang disebut sebagai bakat atau aptitude. Sedangkan kegunaan tes inteligensi pada intinya adalah untuk mengetahui kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir seseorang secara rasional.

Bagaimana Cara Mengatasi Anak Susah Makan ?

Kebiasaan makan pada anak dimulai sejak bayi. Semuanya tergantung pada orang tua si anak. Kalau ada anak yang susah untuk makan, sebetulnya mudah untuk mencari faktor penyebabnya. Faktor penyebab anak susah makan adalah bisa dikarenakan :
  1. Faktor fisik. Faktor fisik meliputi adanya gangguan pada organ pencernaan  atau adanya infeksi dalam tubuh anak. 
  2. Faktor psikis. Faktor psikis meliputi gangguan psikologis pada anak, seperti kondisi rumah tangga yang bermasalah, suasana makan yang kurang menyenangkan, tidak pernah makan dengan bersama orang tua, maupun dipaksa memakan makanan yang tidak disukai.

Apabila sudah diketahui apa yang menyebabkan anak susah makan, maka akan mudah untuk mencari solusinya. Beberapa cara yang mungkin bisa membantu orang tua dalam mengatasi masalah kesulitan makan pada anak adalah :
  • Coba sajikan makanan dalam porsi kecil. Lambung anak belum mampu menampung makanan terlalu banyak, jadi berikan ia makanan sediit demi sedikit.
  • Variasi makanan. Cobalah buat beberapa pilihan menu makanan, lalu biarkan anak anda memilih makanan yang disukai. Biasanya anak akan lebih suka dengan makanan pilihannya.
  • Sajikan dengan menarik. Setelah menyajikan banyak pilihan, sajikan dengan tampilan yang menarik.
  • Jadikan saat makan menyenangkan. Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar ia makan lebih banyak. Ini akan membuat ia merasa bahwa saat makan merupakan saat yang tidak menyenangkan, bahkan bisa menimbulkan trauma psikologis.
  • Makan teratur. Jadwalkan waktu makan secara teratur, agar anak terbiasa dengan waktu makannya. Sama halnya dengan waktu tidur, mandi, dan sebagainya.
  • Beri camilan sehat. Ketika anak memasuki usia 2 tahun, aktifitasnya semakin banyak. Ini mugkin membuatnya sulit untuk duduk manis dan makan dengan tenang. Untuk menyiasatinya, berikan ia cemilan sehat dalam porsi kecil namun beragam. 

Merayakan Ulang Tahun Anak Yang Murah

Ulang tahun anak adalah salah satu momen istimewa dalam kehidupannya. Bila kondisi keuangan keluarga anda sedang pas-pasan namun anak tetap menginginkan ulang tahunnya dirayakan, apa yang harus anda lakukan ?

Ada beberapa hal yang bisa anda lakukan, yang bisa membuat ulang tahun anak anda tetap berlangsung meriah :
  • Pastikan dana yang anda miliki. Buatlah anggaran yang realistis dengan batasan harga yang anda tetapkan.
  • Buatlah perencanaan jauh-jauh hari sebelumnya, jangan mendadak atau mendekati hari H.. Anda bisa mulai belanja di toko jauh-jauh hari, syukur-syukur ketika ada diskon, jadi anda bisa menghemat.
  • Adakan pesta sederhana, bisa hanya kumpul-kumpul sambil makan kue dan es krim.
  • Selenggarakan pesta kecil yang hanya melibatkan keluarga inti dan saudara-saudara dekat. Anak yang masih kecil tidak terlalu mengerti konsep pesta ulang tahundan tidak mengenal semua tamu yang datang.
  • Kalau anda mau mengundang orang-orang di luar anggota keluarga, batasi jumlahnya. Semakin banyak tamu, akan semakin banyak biaya yang dikeluarkan.
  • Batasi waktu acara. Semakin lma acara, akan semakin banyak makanan dan minuman yang mesti disediakan.