Persalinan : Pengertian, Jenis Dan Metode, Tahapan, Dan Faktor Resiko Dalam Persalinan, Serta Perbedaan Antara Persalinan Normal Dan Persalinan Spontan

Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :
Pengertian Persalinan. Secara umum, persalinan dapat diartikan sebagai proses pengeluaran janin dari kandungan. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang dimaksud dengan persalinan adalah proses di mana janin, plasenta, dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu.

Selain itu, pengertian persalinan juga dapat dijumpai dari pendapat para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Arif Mansjoer, dalam "Kapita Selekta Kedokteran", menyebutkan bahwa persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus ke dunia luar.
  • Sumarah, dalam "Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin", menyebutkan bahwa persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun ke jalan lahir.
  • Abdul Bari Saifuddin, dalam "Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal", menyebutkan bahwa persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 - 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada inu maupun pada janin.

Baca juga : Seputar Kehamilan

Jenis dan Metode Persalinan. Terdapat beberapa jenis dan metode persalinan yang dapat ibu lakukan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Persalinan Normal.
Persalinan normal adalah proses persalinan yang terjadi melalui kejadian secara alami dengan adanya kontraksi rahim ibu, dan dilalui dengan pembukaan untuk mengeluarkan bayi. Metode ini yang paling banyak diidamkan oleh para ibu hamil. Bahkan ada yang beranggapan bahwa melahirkan secara normal akan membuat merasa menjadi seorang wanita seutuhnya. Persalinan normal dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
  • persalinan spontan (alami), yaitu proses persalinan lewat jalur lahir normal yang berlangsung tanpa bantuan alat maupun obat tertentu, baik itu induksi, vakum, atau metode lainnya. Jenis persalinan ini dapat dilakukan dengan persentasi belakang kepala (kepala bayi lahir terlebih dahulu) atau persentasi bokong (sungsang).
  • persalinan dengan alat bantu, yaitu proses persalinan lewat jalur lahir normal yang berlangsung dengan bantuan alat, yang digunakan untuk meningkatkan kontraksi dan mendorong bayi lahir. Persalinan dengan alat bantu biasanya lebih kepada persentasi belakang kepala.

Pada persalinan normal, terdapat beberapa posisi persalinan yang dapat dipilih. Posisi-posisi tersebut dapat dipilih jika bukaan jalan lahir sudah agak besar. Beberapa posisi persalinan dimaksud adalah sebagai berikut :
  • posisi berbaring (litotomi), adalah posisi di mana ibu terlentang dengan kaki menggantung di penopang khusus untuk orang bersalin.
  • posisi setengah duduk (semi sitting), adalah posisi yang sering ditemui saat ibu akan bersalin, yaitu ibu berbaring dengan punggung bersandar pada bantal, kemudian kaki ditekuk dan paha terbuka.
  • posisi miring (lateral), adalah posisi di mana ibu menghadap miring dengan salah satu kaki diangkat dan posisi kaki satunya dalam keadaa lurus. Posisi ini dilakukan apabila posisi kepala bayi belum tepat di jalan lahir.
  • posisi jongkok (squatting), adalah posisi di mana ibu duduk dengan sandaran yang kuat di belakang atau bisa juga dilakukan dengan cara ibu duduk di bangku kecil dengan bantalah yang berfungsi untuk menahan kepala serta tubuh bayi saat keluar. Posisi ini diyakini sebagai cara alami dalam proses kelahiran secara normal. Selain mendapat bantuan gravitasi bumi, ibu masih bisa melakukan kontrol saat mengejan.
  • posisi berlutut, adalah posisi di mana ibu bertumpu dengan kedua kaki ditekuk dan terbuka sehingga memungkinkan bayi keluar dengan gravitasi bumi.
  • posisi merangkak, adalah posisi di mana ibu menopang badannya dengan kedua lengan di depan. Posisi ini sangat membantu ibu meringankan rasa sakit di punggung dan mempercepat penurunan kepala bayi ke dalam panggul.
  • posisi berdiri tegak, adalah posisi di mana ibu berdiri dengan bersandar ke belakang atau ke depan. Posisi ini membuat ibu lebih leluasa bergerak dan mengalihkan perhatian saat mengalami kontraksi.

2. Persalinan Caesar.
Persalinan caesar adalah jenis persalinan dengan memberikan sayatan pada perut dan rahim ibu untuk mengeluarkan bayi. Sebelum dilakukan persalinan caesar, dokter akan menyuntikkan bius epidural di bagian tulang belakang, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit pada saat proses persalinan berlangsung.

3. Persalinan Normal Setelah Caesar.
Melahirkan normal setelah caesar bukanlah hal yang tidak mungkin, jenis persalinan ini disebut dengan Vaginal Birth After Caesarean (VBAC), adalah persalinan secara normal yang dilakukan setelah atau sebelumnya pernah mengalami kelahiran dengan metode persalinan caesar. VBAC sangat direkomendasikan untuk ibu yang pernah melahirkan secara caesar minimal satu kali dan telah melewati proses tersebut lebih dari dua tahun.

4. Lotus Birth.
Lotus birth adalah proses melahirkan dengan membiarkan tali pusat bayi tetap terhubung dengan plasenta. Metode ini diyakini dapat meningkatkan imun bayi secara natural. 

5. Water Birth.
Water birth adalah proses melahirkan yang dilakukan di dalam air (biasanya menggunakan air hangat). Metode ini diyakini dapat menghilangkan trauma bayi yang dibawa keluar dari ruang nyaman rahim ibu ke dunia luar serta mampu menjaga daya tahan tubuh bayi lebih kuat. Selain itu, metode ini juga akan memberikan kenyamanan dan meminimalisir rasa sakit (stres) ibu pada saat proses persalinan berlangsung.

6. Gentle Birth.
Gentle birth adalah proses melahirkan di mana bayi mencari jalan keluarnya sendiri. Proses melahirkan metode ini tidak ubahnya seperti dorongan saat buang air besar atau air kecil, yang dapat keluar dengan sendirinya tanpa bantuan medis. Peran ibu adalah membantu bayi menemukan jalan keluarnya tanpa perlu dipaksa. 


Menurut Ida Bagus Gede Manuaba, dalam "Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan", menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis persalinan, yaitu :
  • persalinan spontan, adalah persalinan yang berlangsung dengan tenaga sendiri.
  • persalinan buatan, adalah persalinan dengan stimulasi sehingga terdapat kekuatan untuk persalinan.
  • persalinan anjuran, adalah persalinan yang tidak di mulai sendiri, tetapi dengan tindakan seperti seksio sesarea.


Gejala Sebelum Persalinan. Normalnya, proses persalinan akan terjadi setelah usia janin di dalam kandungan mencapai sembilan bulan. Terdapat beberapa hal sebagai gejala yang muncul sebelum persalinan, yaitu :
  • susah tidur.
  • frekuensi untuk buang air kecil meningkat.
  • terasa nyeri pada punggung disertai dengan perut mulas.
  • mengeluarkan cairan lendir kental bercampur darah dari kemaluan.
  • terjadi kontraksi pada rahim yang semakin lama semakin sering.
  • terjadi perubahan pada serviks.
  • pecahnya air ketuban. 


Sebab Terjadinya Persalinan. Sampai dengan saat ini belum diketahui benar apa penyebab terjadinya persalinan. Terdapat beberapa teori yang dapat digunakan yang menjelaskan sebab terjadinya persalinan, yaitu :
  • Teori kadar progesteron. Teori ini menjelaskan bahwa salah satu fungsi dari progesteron adalah untuk mempertahankan kehamilan. Umur kehamilan yang semakin tua membuat berkurangnya kadar progesteron. Hal ini mengakibatkan otot rahim mudah terstimulus oleh oksitosin, sehingga terjadi persalinan.
  • Teori oksitosin. Teori ini menjelaskan bahwa semakin tua usia kehamilan mengakibatkan meningkatnya hormon oksitosin, yang kemudian menstimulus terjadinya persalinan.
  • Teori prostaglandin. Teori ini menjelaskan bahwa prostaglandin yang banyak dihasilkan oleh lapisan dalam rahim diduga sebagai penyebab terjadinya kontraksi rahim. Oleh karenanya, pemberian prostaglandin dari luar dapat menstimulus kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan.
  • Teori regangan otot rahim. Teori ini menjelaskan bahwa dalam batasan tertentu meregangnya otot rahim dengan sendirinya akan menimbulkan kontraksi persalinan.
  • Teori janin. Teori ini menjelaskan bahwa adanya anomali hubungan hipofisis dan kelenjar supraneal akan mengakibatkan persalinan menjadi lambat. Oleh karenanya, keutuhan hipofisis dan kelenjar supraneal sangat penting.


Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Persalinan. Menurut Sumarah, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan persalinan, sebagai berikut :
  • jalan lahir (passage), yaitu panggul ibu, yang terdiri dari bagian tulang padat, dasar panggul, kemaluan, dan introitus (lubang luar kemaluan).
  • janin dan plasenta (passanger), bergerak sepanjang jalan lahir yang merupakan akibat interaksi dari beberapa faktor seperti ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin.
  • kekuatan (power), yaitu kemampuan ibu dalam melakukan kontraksi involunteer dan volunteer secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dari uterus.
  • posisi ibu, mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan seperti posisi berdiri, berjalan, duduk, atau jongkok.
  • psikologis, yaitu tingkat kecemasan ibu selama persalinan akan meningkat apabila  ibu tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya atau yang disampaikan kepadanya.


Tahapan Persalinan. Dalam persalinan normal, terdapat beberapa tahapan yang akan dilalui, yaitu sebagai berikut :

1. Kala I (Kala Pembukaan).
Pada kala I persalinan atau kala pembukaan di mulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat, baik frekuensi maupun kekuatannya, sehingga serviks membuka lengkap (lebih kurang 10 cm). Proses membukanya serviks tersebut terbagi dalam dua fase, yaitu :
  • fase laten. Pada fese ini pembukaan serviks terjadi dengan sangat lambat hingga mencapai ukuran diameter 3 cm. Fase ini yang berlangsung selama lebih kurang 8 jam.
  • fase aktif. Fase aktif ini terdiri dari tiga fase, yaitu : 1. fase akselerasi, pembukaan serviks dari diameter 3 cm menjadi 4 cm, yang berlangsung selama lebih kurang 2 jam. 2. fase dilaktasi maksimal, pembukaan serviks dari diameter 4 cm menjadi 9 cm yang berlangsung dengan sangat cepat, lebih kurang 2 jam. 3. fase deselerasi, pembukaan serviks dari diameter 9 cm menjadi lengkap (10 cm), yang berlangsung dengan lambat, lebih kurang 2 jam.

2. Kala II (Pengeluaran Janin).
Pada kala II persalinan atau pengeluaran janin, his terkoordinasi kuat dan cepat kira-kira 2 - 3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ke ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara refletoris menimbulkan rasa mengedan karena tekanan pada rectum. Ibu merasa seperti buang air besar, dengan anus terbuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan pereneum meregang. His mengedan yang terpimpin akan lahirlah kepala diikuti dengan seluruh badan janin. Kala II persalinan atau pengeluaran jamin pada primi 1 1/2 jam dan pada multi 1/2 sampai 1 jam.

3. Kala III (Pengeluaran Uri).
Pada kala III atau pengeluaran uri, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah bayinya lahir. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta akan terlipat, menebal, dan kemudian lepas dari dinding uteru, selanjutnya akan turun ke bagian bawah uterus. Berikut tanda-tanda lepasnya plasenta :
  • perubahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah peer dan fundus berada di atas pusat.
  • tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva.
  • semburan darah mendadak dan singkat. Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplacental pooling) dalam ruang di antara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas.

4. Kala IV (Pengawasan).
Kala IV atau kala pengawasan terjadi selang 2 jam setelah bayi dan uri lahir. Pada fase ini akan dilakukan pengamatan keadaan ibu terutama terhadap bahaya pendarahan post partum. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, beberapa hal yang perlu dipantau pada kala IV atau kala pengawasan adalah sebagai berikut :
  • pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan darah yang keluar setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua kala IV. Jika terdapat temuan yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.
  • massase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selam jam kedua kala IV. Jika terdapat temuan yang tidak normal,  tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi ibu.
  • pantau temperatur tubuh setiap jam dalam dua jam pertama pasca persalinan. 
  • nilai perdarahan, periksa perineum dan kemaluan setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua pada kala IV.
  • ajarkan pada ibu dan keluarganya bagaimana menilai kontraksi uterus dan jumlah darah yang keluar dan bagaimana melakukan massase uterus menjadi lembek.
  • minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan bayi dan bantu ibu mengenakan baju atau sarung yang bersih dan kering, atur posisi ibu agar nyaman, duduk bersandarkan bantal atau berbaring miring. Jaga agar bayi diselimuti dengan baik, bagian kepala tertutup baik, kemudian berikan bayi ke ibu dan anjurkan untuk dipeluk dan diberi air susu ibu (ASI) secara on demand.


Faktor Risiko dalam Persalinan. Setiap persalinan memilki faktor risiko yang dapat membahayakan nyawa ibu maupun bayi dalam kandungannya. Faktor usia dan kesehatan merupakan faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang ibu untuk bisa mengalami komplikasi, baik selama masa kehamilan maupun saat persalinan. Beberapa faktor risiko dalam persalinan diantaranya adalah sebagai berikut :
  • usia ibu hami terlalu muda. Ibu yang menjalani persalinan di bawah usia 20 tahun pada umumnya akan  memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan ibu yang menjalani persalinan usia di atas 20 tahun.
  • adanya anomali pada kemaluan. Anomali struktur organ bisa terjadi kepada siapa saja dan hal tersebut dapat mempengaruhi proses persalinan.
  • sungsang. Idealnya kepala bayi ada di posisi bawah (menghadap ke arah mana ia siap dilahirkan) setelah berusia 37 minggu. Sungsang bisa terjadi karena sempitnya panggul ibu, air ketuban yang berlebihan, bentuk rahim ibu yang lonjong bagian atas, hidrosephalus, serta adanya kejadian plasenta previa.
  • ibu mengidap PMS. Seorang ibu yang mengidap PMS saat kehamilannya maka bayi dalam kandungannya memiliki risiko untuk tertular. Saat persalinan, bayi dapat menderita pneumonia atau kebutaan sebagai akibat dari PMS yang diidap si ibu.
  • pendarahan usai melahirkan. Proses persalinan akan selesai tidak hanya saat keluarnya bayi, tapi saat plasenta keluar seluruhnya dari perut ibu. Pendarahan bisa terjadi apabila rahm ibu terlalu lelah untuk berkontraksi setelah melalui proses persalinan yang lama.


Perbedaan Antara Persalinan Normal dan Persalinan Spontan. Orang sering beranggapan bahwa persalinan spontan adalah sama dengan persalinan normal yang terjadi tanpa metode operasi caesar. Padahal sebenarnya persalinan spontan berbeda dengan persalinan normal. Perbedaannya terletak pada penggunaan bantuan alat dan juga posisi bayi lahir, yaitu sebagai berikut :

1. Persalinan normal :
  • persalinan terjadi dengan bantuan induksi atau vakum. 
  • persalinan biasanya lebih kepada persentasi belakang kepala (kepala bayi lahir terlebih dahulu).

2. Persalinan spontan :
  • persalinan spontan lebih mengandalkan tenaga dan usaha ibu, persalinan spontan tidak membutuhkan induksi, vakum, atau metode lain untuk mendorong persalinan sehingga bayi dapat dilahirkan secara nomal.
  • persalinan dapat terjadi pada persentasi belakang kepala (kepala bayi lahir terlebih dahulu) atau pada persentasi bokong (sungsang).


Demikian penjelasan berkaitan dengan pengertian persalinan, jenis dan metode, gejala dan sebab terjadinya, faktor yang mempengaruhi, tahapan, dan faktor risiko dalam persalinan, serta perbedaan antara persalinan normal dan persalinan spontan.

Semoga bermanfaat.