Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :
Filsafat ilmu menurut Hartono diartikan sebagai suatu suatu studi sistematik mengenai sifat dan hakekat ilmu khususnya yang berkenaan dengan metodenya, konsepnya, "sangka wancana"-nya (presupposition), dan kedudukannya di dalam skema umum disiplin intelektual. 

Ada tiga telaah mengenai filsafat ilmu, yaitu :
  • Filsafat ilmu merupakan telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang yang digunakan, dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan. Metode telaah adalah induksif, deduktif, hipotesis, data, penemuan, dan verifikasi.
  • Filsafat ilmu merupakan upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep, sanka wacana dan postulat mengenai ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan, dan kepragmatisan. Aspek filsafat ini erat hubungannya dengan hal ikhwal yang logis dan epistemologis. 
  • Dan filsafat ilmu merupakan studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditujukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai  ilmu tertentu, untuk menguraikan pertautan atau antar hubungan yang ada pada studi yang satu terhadap studi yang lain dan untuk mengkaji implikasi sumbangannya terhadap suatu teori, baik teori yang bersifat semesta maupun teori yang unsur-unsurnya terpakai di mana-mana (pervasive).

Ruang Lingkup Filsafat Ilmu. Menurut The Liang Gie, filsafat ilmu merupakan segenap pemikiran terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan ilmu yang dimaksud meliputi :
  • konsep-konsep pangkal.
  • anggapan-anggapan dasar.
  • asas-asas permulaan.
  • struktur-struktur teoritis.
  • ukuran-ukuran kebenaran ilmiah.

Filsafat ilmu telah berkembang pesat sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan mendalam.

Filsafat ilmu menfokuskan dan mengarahkan kajiannya pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu :

1. Ontologi.
Ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M, untuk menamai teori tentang hakekat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya, Christian Wolff membagi metafisika menjadi dua, yaitu :
  • metafisika umum, yang dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Metafisika umum merupakan cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau dalam dari segala sesuatu yang ada.
  • metafisika khusus, meliputi kosmologi (membicarakan tentang alam semesta), psikologi (membicarakan tentang jiwa manusia), dan teologi (membicarakan tentang Tuhan).

Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu "on" yang berarti being, dan "logos" yang berarti logik atau ilmu pengetahuan. Sehingga ontologi diartikan sebagai teori tentang keberadaan sebagai keberadaan (the theory of being qua being). Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang hakekat yang ada yang merupakan kebenaran dan kenyataan baik yang berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak. Ontologi disebut juga sebagai ilmu hakekat, hakekat yang bergantung pada pengetahuan. Dalam agama, ontologi memikirkan tentang Tuhan.

Beberapa ahli mengartikan ontologi sebagai, diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Amsal Bakhtiar, ontologi berasal dari kata 'ontos' yang berarti sesuatu yang berujud. Ontologi adalah teori atau ilmu tentang wujud, tentang hakekat yang ada. Ontologi tidak banyak berdasarkan pada alam nyata, tetapi berdasarkan pada logika semata.
  • Noeng Muhadjir, ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terkait oleh suatu perwujudan tertentu.
  • Jujun S. Suriansumantri, ontologi membahas apa yang kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang yang ada.
  • Sidi Gazalba, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan terakhir dari kenyataan.  

2. Epistemologi.
Epistemologi atau teori pengetahuan merupakan cabang filsafat yang berurusan dengan hakekat dan lingkup pengetahuan, pengendalian-pengendalian, dan dasar-dasarnya serta pengertian mengenai pengetahuan yang dimiliki.  Pengertian yang diperoleh oleh manusia mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah :
  • Metode Induktif, yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi yang disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum.
  • Metode Deduktif, yaitu suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal yang harus ada dalam metode deduktif adlah adanya perbandingan logis antara kesimpulan itu sendiri, sedangkan penyelidikan bentuk logis tersebut bertujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah.
  • Metode Positivisme, berpangkal pada apa yang telah diketahui, faktual dan positif. Ia menyampaikan segala hal sebagai fakta dan segala yang nampak sebagai gejala. Metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu hanya dibatasi pada bidang gejala saja.
  • Metode Kontemplatif, karena adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, maka obyek yang dihasilkannya pun berbeda-beda yang harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut intuisi.
  • Metode Dialektis, yaitu tahapan logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga menganalisis sistematik tentang ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.

3. Aksiologi.
Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu "axios" yang berarti nilai, dan "logos" yang berarti teori atau ilmu pengetahuan. Jadi aksiologi merupakan teori tentang nilai. Pengertian aksiologi menurut :
  • Bramel, aksiologi terbagi menjadi tiga bagian yaitu moral conduct (tindakan moral), esthetic expression (ekspresi keindahan), dan sosio political life (kehidupan sosial politik).
  • Jujun S. Suriansumantri, mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi merupakan teori yang menjelaskan tentang nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.

Para ahli mengemukakan pendapatnya tentang ruang lingkup filsafat ilmu, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Peter Angeles.
Menurutnya, filsafat ilmu memiliki empat bidang utama, yaitu :
  • telaah mengenai konsep, peranggapan, dan metode ilmu, berikut analisis perluasan dan penyusunannya untuk memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan cermat.
  • telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya.
  • telaah mengenai saling kaitan diantara berbagai ilmu.
  • telaah mengenai akibat-akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, hubungan logika, dan matematika dengan realitas, entitas, teoritas, sumber dan keabsahan, serta sifat dasar manusia.

2. Cornelius Benjamin.
Menurutnya, pokok bahasan filsafat ilmu adalah :
  • telaah mengenai metode ilmu, lambang ilmiah, dan struktur logis dari sistem perlambangan ilmiah. Telaah ini banyak menyangkut logika dan teori pengetahuan, serta teori umum tentang tanda.
  • penjelasan tentang konsep dasar pra anggapan, dan pangkal pendirian ilmu berikut landasan-landasan empiris, rasional, atau pragmatis yang menjadi tempat tumpuannya.
  • aneka telaah mengenai saling kait diantara berbagai ilmu dan implikasinya bagi teori alam semesta seperti idealisme, matrealisme, monisme atau pluralisme.

3. Israel Scheffler.
Menurutnya, ruang lingkup filsafat ilmu adalah :
  • peran ilmu dalam masyarakat.
  • dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu.
  • landasan-landasan ilmu.

Dari apa yang tersebut di atas, secara sederhana dapat dikatakan bahwa ruang lingkup filsafat ilmu meliputi sifat dasar dan lingkupan filsafat ilmu dan hubungannya dengan cabang-cabang ilmu yang lain.

Demikian penjelasan berkaitan dengan ruang lingkup filsafat ilmu.

Semoga bermanfaat.